Pemimpin “Ideal”  Ta’at Syari’at Bukan Tolak Syari’at

95
taat-syariat
taat-syariat

Oleh : Luluk Afiva

Lain dimulut lain dihati merupakan sebuah ungkapan yang menggambarkan tentang kondisi seseorang dimana apa yang dikatakan berbeda dengan perasaan hati dan perilakunya. Jika ini berlaku pada seorang pemimpin apa yang akan terjadi? Maka seluruh perilaku, kebijakan, pengaturan dan pengurusan atas rakyat yang dia pimpin akan berbeda dari apa yang keluar dari mulut manisnya.

Mengutip pernyataan orang nomer satu di negeri ini pada debat pilpres yang menyatakan “kita ingin negara ini semakin baik dan saya akan pergunakan seluruh tenaga yang saya miliki, kewenangan yang saya miliki, tidak ada yang saya takuti untuk kepentingan nasional, rakyat, bangsa dan negara. Tidak ada yang saya takuti kecuali Allah swt untuk Indonesia maju” (sinarharapan.co).

Pernyataan tersebut selintas bisa membuat telinga dan hati jadi lega. Tetapi jika melihat realitasnya bagai  api jauh dari panggang. Selain data-data  yang disampaikan dipanggung debat penuh dengan kebohongan dan manipulatif, rezim hari ini nyatanya represif dan anti islam. Ini dapat kita lihat dari adanya kasus – kasus persekusi terhadapap tokoh/ulama yang menasehati/mengkritik penguasa, bahkan untuk membungkamnya dibuatlah undang-undang ITE, pembubaran kajian-kajian Islam, pembatasan materi khutbah dan penangkapan para aktivis yang diduga teroris.

Salah satu bukti bahwa ucapan takut pada Allah hanya sekedar lips service untuk meraih simpati, dukungan dan suara umat (rakyat) bukan taat pada syariat (aturan Allah) serta takut tidak berbuat adil pada rakyatnya adalah kriminalisasi khilafah ajaran islam dan membubarkan ormas islam yang mengemban dan menyebarkan ide khilafah melalui perpu ormas. Padahal sangat jelas dan gamblang bahwa Khilafah merupakan ajaran Islam. Khilafah adalah sebuah sistem kepemimpinan dalam Islam yang diwariskan oleh Nabi Muhammad saw kepada umatnya. Khilafah dipimpin oleh seorang khalifah yang akan menerapkan syariat  (aturan)  yang berasal dari Allah sang pencipta dan sang pengatur dalam seluruh aspek kehidupan.

Jika katanya penguasa  itu  takut  terhadap  Allah swt maka seharusnya dari awal memimpin mau menerapkan syariat Allah bukan menolak syariat Allah dan tidak berdusta kepada rakyat nya yang jelas-jelas melihat sendiri keingkaran janji-janjinya.

Begitulah politik dalam demokrasi segala macam cara akan dilakukan demi kekuasaan termasuk berbohong dan menipu rakyatnya, karena bagi mereka  yang terpenting adalah bagaimana bisa berkuasa melupakan bahwa setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat. Mereka akan dimasukkan dalam neraka dan diharamkan masuk syurga.

Rasulullah bersabda : “siapapun pemimpin yang menipu rakyatnya maka tempatnya di neraka (HR. Ahmad).

Jelas di dalam Islam berbohong atau dusta adalah perkara dosa. Apalagi seorang pemimpin yang berdusta terhadap rakyatnya. Apa yang diandalkan dari seorang pemimpin yang gemar berdusta? Tidak ada yang bisa diandalkan kecuali kehancuran yang akan terjadi.

Sudah seharusnya aktivitas menasehati penguasa dijalankan agar penguasa tidak menyimpang dalam menjalani tanggung jawabnya sebagai pelindung dan pengayom rakyat. Karena sesungguhnya mengkritik dan menasehati kebijakan yang dzolim (tidak pro rakyat) adalah jihad yang paling utama.

Sebagaimana hadits Rasulullah berikut :

“jihad yang paling utama adalah mengutarakan perkataan yang adil di depan penguasa atau pemimpin yang dzolim (HR. Abu Daud, Tirmidzi,  Ibnu Majjah dan Ahmad). Wallahu ‘alam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.