Pemalakan Rakyat di Negeri Zamrud Khatulistiwa

55

Oleh: Hamsia

Jakarta, CNN Indonesia – Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Puan Maharani menyatakan “kenaikan iuran BPJS Kesehatan akan berlaku mulai 1 September,” katanya di Gedung DPR, Kamis (29/8).

Sebelum diterapkan kata Puan, Presiden Jokowi bakal menerbitkan peraturan presiden pada akhir bulan ini. Setelah perpres terbit, Kementerian PMK akan menerbitkan aturan turunan berupa peraturan menteri koordinator PMK. Peraturan akan mengatur ketentuan bantuan pemerintah bagi peserta Penerima Bantuan Iuran (PBI). “Segera begitu ada di meja saya, (PMK) saya tandatangani,” ujarnya.

Lebih lanjut, Puan menegaskan “Yang bisa saya pastikan untuk PBI tetap ditanggung oleh negara, sehingga memang masyarakat yang namanya terdaftar dalam PBI tidak akan kemudian kesulitan,” tuturnya.

Sebagai informasi pemerintah berencana menaikan iuran kepersetaan BPJS Kesehatan hingga dua kali lipat. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengusulkan peserta kelas mandiri 1 naik dari Rp80 ribu per bulan menjadi Rp160 ribu per bulan. Ia menyebut tanpa kenaikan iuran, deisit BPJS Kesehatan tahun ini bisa mencapai Rp32,8 triliun.

Rakyat Kembali Tercekik

Belum selesai duka rakyat, kini pemerintah memutuskan untuk memangkas subsidi energi dalam Rancangan Anggara Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2020 menjadi Rp 137,5 triliun. Angka ini turun sekitar 3,58 persen dari alokasi subsidi energi di 2019 yang mencapai Rp142,6 triliun.

Pemangkasan subsidi ini memunculkan kekhawatiran terhadap kenaikan harga di tahun depan. Terlebih, tahun politik sudah lewat dan volume konsumsi energi juga diproyeksikan lebih tinggi ketibang APBN 2019. Tirto, Selasa (20/8/2019).

Inilah potret negeri yang menerapkan sistem kapitalis. Sekarang dengan terjadinya masalah defisit keuangan di BPJS, jalan keluar yang diambil dengan menaikan tarif pembayaran. Kesehatan merupakan kebutuhan dasar yang seharusnya didapatkan secara gratis atau lebih murah, justru dijadikan sebagai ladang bisnis, ajang mencari kentungan. Menurut sistem kapitalis, rakyat harus membayar. Pelayanan kesehatan pun akhirnya telah bergeser dari orientasi kemanusiaan, menjadi profit oriented. Orang miskinlah yang harus menelan pil pahit berupa kesengsaraan karena tidak bisa mengakses segala kebutuhan dasarnya.

Kapitalisme juga memiliki doktrin bahwa negara tidak boleh mengelola langsung kekayaan alam. Pengelolaan kekayaan itu harus diserahkan kepada swasta. Akibatnya, negara kehilangan sumber pendapatan yang besar sekali.

Sejatinya, pemerintah bukan tidak bisa mendapatkan dana ketahanan energi selain dari memeras rakyat, tapi tidak ada keinginan dan kemauan. Kenapa? Karena pola pikir pemerintah dan para pendukung pemerintah baik  DPR ataupun kalangan intelektualnya sudah terjajah dengan pemikiran liberalisme dan kapitalisme. Karena dalam kebijakan ini, bagi masyarakat yang sehat akan terbebani dengan iuran setiap bulannya, selain memikirkan kebutuhan pokok untuk kehidupannya. Masyarakat dipaksa membayar iuran yang dia sendiri dan keluarganya belum tentu menggunakan uangnya. Lantas untuk masyarakat yang sakit, selain memikirkan diri atau keluarganya yang sakit, juga harus terbebani iuran wajib ke BPJS.

Sistem kapitalisme memandang sumber utama pendapatan negara untuk membiayai kegiatan negara atau memberikan pelayanan kepada rakyat itu adalah dengan jalan memungut kepada rakyat, baik dalam bentuk pajak atau sebagai pungutan lainnya. Alhasil rakyatlah yang harus menangung dan kembali tercekik.

Islam Solusi Nyata

Dalam Islam, pemerintah wajib memelihara kepentingan umat dan bertanggungjawab dihadapan Allah. Rasulullah saw bersabda “Setiap kalian adalah pengatur/pemelihara akan setiap kalian diminta pertanggungjawab atas pemeliharaanya. Seorang pemimpin yang memimpin masyarakat adalah pengatur/pemelihara dan dia bertanggungjawab atas urusan rakyatnya” (HR al-Bukhari dan Muslim).

Pelayanan kesehatan dalam negara Islam diberikan secara gratis tanpa memandang agama, status sosial, warna kulit, suku, ras, maupun budaya. Pembiayaan yang gratis diperoleh dari sumber daya alam yang tersedia di negara kaum muslimin, dan dikelola penuh oleh negara dengan menerapkan sistem ekonomi Islam.

Karena Indonesia sangat kaya akan sumber daya alam (SDA) yang luar biasa. Apa yang ada di laut, darat, dan kekayaan yang terkandung di dalam bumi yang tak terhitung jumlahnya. Tentu akan menjadi sumber pemasukan bagi kas negara. Apalagi semuanya merupakan hak seluruh rakyat dan seharusnya bisa dikelola untuk memenuhi kebutuhan rakyat sesuai dengan pasal 33 ayat 3 yang berbunyi: bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Namun, UU ini kurang digunakan. Justru aset negara banyak diberikan kepada swasta, bahkan asing. Bahkan harus membayar asuransi untuk menjamin kesehatannya sendiri.

Sesungguhnya, masyarakat yang ada di dunia ini mereka membutuhkan peningkatan produksi dan sumber daya berbasis kebangkitan ideologi yang tepat; dunia benar-benar hancur dalam tatanan ekonomi kapitalisme, dan dunia membutuhkan infrastruktur ekonomi baru dengan mekanisme yang lebih adil untuk distribusi sumber daya, suatu sistem yang memungkinkan setiap orang yang lapar untuk mengakses sumber makanan dan setiap orang sakit untuk mengakses obat-obatan dan fasilitas perawatan kesehatan dan setiap orang buta huruf untuk mengakses fasilitas pendidikan.

Tujuan menyediakan kesehatan, makanan, pendidikan, dan keamanan secara adil dan merata bagi semua orang tidak dapat diperlukan sebagai imbalan dan beban bagi sistem ekonomi. Kegagalan sistem ekonomi kapitalis telah jelas, dan itulah mengapa dunia sangat membutuhkan sistem dan ideologi baru dan ideologi itu tidak lain adalah Islam.

Sistem Islam yang menerapkan  syariah Islam secara menyeluruh di bawah sistem Khilafah ar-Rasyidah yang mengikuti manhaj kenabian yang memang menjadi kewajiban bagi kaum muslim. Oleh karenanya, umat Islam harus berjuang bersama secara sungguh-sungguh untuk mewujudkan itu segera mungkin pertolongan Allah SWT. Saat untuk itu telah tiba. Wallahu a’lam bi ash-shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.