Pelecehan Islam Tumbuh Subur, Buah Pemikiran Sekular

56

Lagi kasus penistaan agama Islam menyakiti perasaan umat muslim. Seolah hal yang sepele kasus semacam ini terus bermunculan. Syari’at, Al-Qur’an dan Nabi kerap menjadi sasaran empuk bagi para penista.

Baru-baru ini pernyataan Bu Sukmawati Soekarnoputri kembali melukai perasaan muslim.  Sukmawati berkata, “Mana lebih bagus Pancasila atau Alquran? Sekarang saya mau tanya nih semua. Yang berjuang di Abad 20, itu nabi yang mulia Muhammad apa Ir. Sukarno untuk kemerdekaan?”. Hal ini sontak menyedot perhatian publik khususnya umat muslim.

Kasus serupa dilakukan oleh seorang YouTuber Atta Halilintar dilaporkan Ustaz Ruhimat ke Polda Metro Jaya atas tuduhan menista agama. Salah satu isi konten Atta disebut mempermainkan gerakan salat. Dalam video, Atta dan adik-adiknya terlihat sedang salat berjamaah dengan menggunakan baju muslim. Namun mereka saling menginjak kaki satu sama lain. Hal itu yang dinilai Ustaz mempermainkan agama. (Medcom.id)

Terkait penistaan terhadap Nabi, Bareskrim Polri menangkap pengembang game yang berinisial IG. Game daring yang dikembangkan IG diberi nama Remi Indonesia. Dalam game daring tersebut, muncul kata-kata kasar yang dialamatkan kepada Nabi Muhammad SAW dan Islam.

Sebelumnya penistaan agama oleh Ahok telah membuat kondisi negara menjadi kocar-kacir. Belum lagi bermunculan penistaan agama oleh sejumlah komika.

Bermunculan kasus serupa merupakan bukti agak nya masalah ini belum menemukan solusi tuntas untuk mengatasinya. Negara telah mengatur Perlindungan agama dalam UU Nomor 1/PNPS/1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama.  Namun sampai saat ini penistaan agama masih tumbuh subur.

Kegagalan UU pencegahan penodaan agama telah menggerakkan PKS untuk mengusulkan perluasan cakupan perlindungan terhadap agama. “PKS berkomitmen memperjuangkan RUU Perlindungan Ulama, Tokoh Agama, dan Simbol-Simbol Agama,” ujar Sekjen PKS Mustafa Kamal saat membacakan hasil rekomendasi Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) di Hotel Bidakara, Jakarta, Sabtu (16/11/2019). (Kompas.com)

Regulasi baru bisa jadi solusi tapi bukanlah solusi tuntas sebab tidak sampai pada akar permasalahannya. Tidak cukup dengan adanya regulasi baru. Jika sekulerisme masih menjadi asas negara maka perkara ini akan tetap tumbuh. Layaknya memotong rumput di musim hujan, setelah dipotong maka muncul tunas baru.

Setidaknya ada dua sebab penghinaan terjadi. Pertama karena kebodohan yakni tidak tahu bahwa perbuatannya terkategori penghinaan, tidak tahu kemuliaan atas objek yang dihina, atau sekedar mengharapkan materi atas penghinaannya. Bertingkah masa bodoh dengan konsekuensi yang harus ditanggungnya di akhirat. Adapun faktor yang kedua adalah sebab kebenciannya yang amat besar terhadap agama yang dinistakannya. Para pembenci Islam terus memasifkan serangan terhadap Islam. Baik ditujukan kepada ajarannya ataupun kepada pembawa dan penyambung risalahnya. Ajaran Islam dituduh memproduksi muslim radikalis teroris. Al-Qur’an dituduh alat pembodohan. Nabi dituduh pedofil. Dan masih banyak stigmatisasi untuk menyerang Islam.

Kedua faktor tersebut tidak akan muncul tanpa didongkrak oleh negara sekuler. Sekulerisme telah mengikis fitrah manusia dan menafikan keberadaan naluri beragama. Paham sekuler yang memisahkan agama dari urusan dunia telah merasuki setiap sendi kehidupan umat yang jauh dari Islam. Maka muncul opini bahwa tidak wajar bila urusan bermasyarakat dan bernegara diatur oleh agama. Karena agama hanya layak dibicarakan dalam masjid, pesantren atau dalam kajian agama saja.  Di satu sisi sekularisme merupakan asas bagi liberalisme. Lalu kolaborasi antar keduanya menjadikan penghinaan sebagai ekspresi kebebasan berperilaku dan kebebasan berpendapat. Akibatnya makin tumbuh subur lah berbagai penghinaan terhadap Islam.

Untuk mengatasi masalah ini dibutuhkan penanganan yang tepat. Solusi yang benar-benar solutif. Bukan solusi tambal sulam. Sebab jika perkara ini tidak cepat diatasi dengan penanganan yang benar maka kerusakan akan terus terjadi bahkan semakin parah. Pertama kebodohan akan terus merebak dan ajaran agama semakin terabaikan. Kedua perilaku menyimpang dan nyeleneh atas nama toleransi dan cinta negara semakin meningkat. Contohnya memakai topi santa claus saat natal, tumpengan di gereja, maulidan di vihara dll. Ketiga ketiadaan hukum yang tegas tidak menimbulkan efek jera.  Ke-empat keadaan ini menunjukkan umat yang mulia ini terlihat hina.

Islam telah membuat aturan yang sangat tegas. Penghinaan terhadap Islam, Allah SWT dan Rasulullah bisa menjadikan pelakunya tergolong murtad. Para ulama bersepakat bahwa hukuman bagi penghina Islam adalah hukuman mati jika ia tidak mau bertaubat. Jika ia bertaubat maka keputusan dikembalikan kepada Khalifah sesuai dengan tingkat penghinaannya. Ulama Ash-Shaidalani dari kalangan Syafiiyah menyatakan bahwa pelaku penghina  Allah dan Rasulullah jika bertaubat maka 80 kali cambukan sebagai sanksi atasnya (Mughni al-Muhtaj). Dengan sanksi tegas tersebut akan memotong mata rantai penghinaan terhadap Islam.

Persoalan ini akan tuntas jika sekularisme dicampakkan dari kehidupan. Lalu diganti dengan sistem yang menerapkan Islam kaffah yakni khilafah. Khilafah membimbing dan mendidik rakyat sehingga kebodohan tergantikan oleh pemahaman Islam. Disamping itu sanksi hanya bisa dilakukan oleh negara Khilafah Islamiyah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.