Pejabat Tak Berempati: Cetakan Sistem Demokrasi

67

Kehidupan sulit dialami rakyat akhir-akhir ini. Kenaikan harga bahan bakar non bersubsidi berujung kepada kenaikan harga-harga kebutuhan pokok. Telur menjadi salah satu kebutuhan yang mengalami kenaikan signifikan. Makanan yang berprotein ini mudah sekali di jangkau oleh rakyat kelas bawah maupun kelas atas. Sayang, hargamu yang menjulang menyebabkan telur sulit dijangkau masyarakat kelas bawah.

Begitu sengsara rakyat jangankan untuk makan enak, mengkonsumsi telur sebagai makanan bergizi saja kini begitu sulit. Penderitaan yang dialami rakyat tidak menyebabkan para pejabat berempati mereka malah melontarkan kalimat-kalimat yang menusuk hati rakyat sendiri. Seperti dikatakan Menteri Perdagangan Enggartriasto Lukita, mengonfirmasi bahwa memang ada kaitan langsung antara Piala Dunia dengan kenaikan harga telur, terutama yang untuk konsumsi rumah tangga. Selama gelaran sepakbola dunia itu, permintaan telur memang meningkat, sebagai makanan instan untuk menemani bergadang sambil menonton sepakbola. “Karena tengah malam itu (makan) nasgor (nasi goreng) pakai telur, internet, indomie telur, dan kornet, pakai telur juga. Saya dulu pernah menyelinap, ada fresh telur langsung kita ambil bikin nasgor,” kata Enggar di Jakarta pada Senin 16 Juli 2018. (www.viva.co.id,17/07/2018).

Bukan hanya itu saja, sebelumnya kenaikan harga bahan bakar non bersubsidi juga dikomentari oleh Ketua DPR RI negeri ini, dimana kalimat yang dilontarkan bukan menenangkan hati rakyat malam semakin menambah penderitaan rakyat sendiri. Seperti dikatakan Ketua DPR RI Bambang Soesatyo, salah satu solusi persoalan naiknya harga bahan bakar minyak di Indonesia adalah dengan mendorong penggunaan kendaraan elektrik atau electric vehicle (EV). Menurut dia, gaya hidup dengan kendaraan elektrik harus digalakkan dengan mengekspos besar-besaran penggunaan dan manfaatnya. Dengan begitu, masyarakat tidak lagi takut untuk beralih ke kendaraan listrik. “Kenaikan harga BBM selalu menjadi persoalan besar di masyarakat. Ketergantungan pada bahan bakar fosil itu begitu mengakar,” kata Bambang. (nasional.kompas.com,04/07/2018). Ironis, ditengah kondisi rakyat yang semakin kronis. Akibat kenaikan harga berbagai kebutuhan pasca kenaikan harga BBM. Para pejabat dan wakil rakyat yang diharapkan mampu mendinginkan suasana justru menguntai kalimat yang menyesakkan dada. Rasa empati atas derita rakyat telah mati. Sehingga solusi ngawur pun dilontarkan.

Sistem Demokrasi-Kapitalis lah yang melahirkan para pejabat tak berempati. Demokrasi yang melegalkan berbagai cara untuk meraih kekuasaan hanya melahirkan pemimpin yang tamak akan kekayaan dan kekuasaan. Mereka tidak peduli dengan susahnya rakyat memenuhi kebutuhan hidupnya. Pejabat menjadi sosok yang hanya berkomentar nyeleneh sehingga makin menyesakkan dada, ditengah himpitan kehidupan yang dialami rakyat.

Pejabat yang tidak lahir dari rakyat  tidak akan pernah mampu merasakan derita rakyat. Kebijakan yang dibuat tidak pernah menjadikan rakyat sebagai asasnya, mereka menjadikan rakyat sebagai objek pasar belaka. Tidak terbesit untuk melayani rakyat yang ada hanya berdagang untuk mencari keuntungan demi kebutuhan sendiri.

Inilah fakta demokrasi, pejabat yang diangkat untuk mewakili rakyat justru menyakitinya. Pejabat yang tak berempati tidak mungkin lahir dari rahim demokrasi. Proses pemilihan yang ditentukan berdasarkan keingingan sekelompok orang dan politik uang justru melahirkan pemimpin yang jauh dari visi melayani rakyat dan memberikan solusi ngasal bagi rakyat. Sudah saatnya demokrasi kita singkirkan dan menggantinya dengan sistem yang terbukti mampu menghasilkan sebaik-baik pemimpin peradaban. Sebuah sistem dari sang maha pencipta yang meniscayakan lahirnya pemimpin yang bervisi melayani rakyat dan menjadi pelindung rakyatnya.

Sejarah mencatat, lahir pemimpin seperti Umar bin Abdul Azis yang menduduki kursi jabatannya hanya selama 2 tahun, 5 bulan, 4 hari. Tetapi mampu memberikan kemakuran bagi rakyatnya dengan luas wilayah yang terbentang dari jazirah Arab, Afrika hingga Andalusia. Sosok yang luar biasa dan seharusnya menjadi tauladan bagi pejabat hari ini. Ia membuat prestasi dan kebijakan yang menguntungkan rakyat. Ia mengembalikan fungsi Baitul Mal, memperbaiki birokrasi, meningkatkan pertumbuhan ekonomi, menghapus pajak-pajak tambahan dan retribusi, dan lain sebagainya.

Umar bin Abdul Azis mampu meri’ayah rakyatnya dengan baik sehingga tidak ada satupun yang berhak menerima zakat. Kas zakat dalam negeri akhirnya diaslurkan ke wilayah Afrika yang memang membutuhkan saat itu. Umar mampu meningkatkan keuangan Negara, dengan mencabut cukai yang dibebankan kepada rakyatnya. Semua itu dilakukan Umar bin Abdul Azis dalam usia muda lebih kurang 36 tahun.

Tidak berbeda jauh dengan kakek buyutnya Umar bin Khattab sosok Khalifah pengganti setelah Abu Bakar Ash-Shidiq yang menjabat selama 10 tahun. Selama masa kekhalifahannya, Umar banyak melahirkan prestasi yang tidak pernah terjadi sebelumnya, diantaranya perluasan wilayah islam, penetapan tahun Hijriyah, membentuk dewan militer, penertiban administrasi negara dan sebagainya. Allah memberikan kecukupan bagi kaum muslim pada masa pemerintahnnya. Umar membagikan harta yang melimpah itu kepada semua rakyat hingga kesejahteraan merata dimana-mana.

Umar bin Khattab hampir tiap malam blusukan sampai jauh ke pedalaman. Ia melihat dan mendengar langsung keluhan dan kebutuhan rakyatnya dan tidak segan-segan memanggul karung makanan hanya untuk memastikan rakyatnya tidak kelaparan. Berbeda jauh dengan pemimpin ataupun pejabat hari ini yang mendadak blusukan ditemani media sehingga hanya pencitraan saja yang ditonjolkan.

Tidakkah kita rindu akan hadirnya kembali sosok pemimpin yang di cintai dan mencintai rakyatnya. Pemimpin penuh empati yang mampu membawa kaum muslimin menggapai ridho Rabb-nya. Sosok pemimpin yang muncul dari ketundukan dan ketaatannya kepada Sang Pemilik Kehidupan.

Hanya Sistem Islam yang terbukti mampu mencetak para pemimpin ataupun pejabat yang melani rakyat dan merasa empati dengan kesulitan rakyat. Pejabat yang tunduk kepada Rabb-Nya, takut akan adzab-Nya dan bervisi akhirat. Mereka khawatir kelak akan di adzab Allah jika melakukan kezaliman kepada rakyatnya. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:“Tidak ada seorang pemimpin yang menangani urusan kaum muslimin, kemudian tidak bersungguh-sungguh dan melaksanakannya dengan baik, kecuali ia tidak akan masuk surga bersama mereka.” (HR Muslim).

Oleh: Salamatul Fitri (Tenaga Pendidik dan Anggota Komunitas Muslimah Jambi Menulis)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.