Pariwisata Sarana Peningkat Takwa, Bukan Sekedar Sumber Devisa

Oleh : Henyk Widaryanti (Dosen Swasta)

Indonesia sebuah negeri zamrud khatulistiwa. Keelokan alamnya mengandung ribuan flora dan fauna. Kontur wilayahnya terhampar ribuan pulau. Dengan kekayaan alam, budaya, bahasa yang mempesona. Keindahan alam nusantara ini patut untuk dinikmati tatkala kepenatan menghampiri. Wajar jika pemerintah melalui Kemenpar mencanangkan program wonderfull Indonesia atau Pesona Indonesia. Program ini digagas pada tahun 2011 dengan tujuan mendongkrak pasaran pariwisata Indonesia di mata dunia. Dimana sektor pariwisata ternyata merupakan penyumbang devisa terbesar ke-3 bagi negeri ini.

Melalui program WI/PI sektor pariwisata langsung digenjot. Selain memaksimalkan keindahan alam yang ada, kini Indonesia mencoba mengembangkan keanekaragaman budaya. Dengan dalih melestarikan budaya yang telah lama hilang, beragam budaya nenek moyang akhirnya kembali dihidupkan. Sebagaimana tradisi Festival Gunung Slamet, segala ritual lengkap diadakan. Bahkan home stay un disiapkan untuk wisatawan. Pada tahun saja panitia menargetkan 1500 pengunjung. Rencananya tahun depan acara ini akan diusulkan menjadi pariwisata nasional (republika.com).

Tidak hanya tradisi di pulau jawa, hampir seluruh negeri ini menghidupkan kembali budaya yang hilang demi menarik wisatawan. Sebut saja yang paling dekat adalah Festival Pesona Palu Lomoni. Festival ini mulai diadakan setahun lalu. Segala upacara adat dilakukan. Mulai dari tarian, penyiapan  sesajen, hingga melarung binatang ke lautan. Semua itu dilakukan untuk meminta kesehatan dan mendatangkan roh leluhur. Hasilnya kepercayaan nenek moyang tentang animisme dan dinamisme kembali diyakini. Sebagai seorang muslim, tentunya tradisi ini bertentangan dengan Islam. Festival ini mengandung kesyirikan. Walaupun bertujuan untuk pariwisata, namun dalam Islam tidak diperkenankan jika mengandung unsur kesyirikan. “Sembahlah Allah dan janganlah kalian mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun” (An-Nisaa`: 36).

Namun kenyataan festival kali ini berkata lain. Bukan kegembiraan yang didapat. Kepiluan menghamiri seluruh negeri. Bencana alam dasyat terjadi saat festival akan segera dimulai. Bencana alam yang terjadi di Donggala dan Palu adalah sebuah ujian bagi orang yang beriman dan peringatan bagi orang yang bermaksiat kepada Allah. “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).(QS. Ar-Rum [30]: 41)”. Sebagai seorang yang beriman kita perlu meresapi bahwa gempa dan tsunami yang terjadi karena ulah tangan kita. Bisa jadi karena kesyirikan yang dilakukan oleh sebagian orang. Musibah telah terjadi, kewajiban kita adalah bersabar atas ujian itu. Intropeksi diri dan bertaubat atas segala kesalahan,

Namun perlu diwaspadai adanya pemikiran orang-orang yang hanya berfikiran bahwa bencana ini murni fenomena Alam. Pemahaman seperti ini seakan menafikkan keberadaan Allah sebagai pencipta. Allah telah menciptakan alam dan seisinya. Dan Allah yang berkuasa atas segala kehendakNya. Dengan mudah Allah bisa merubah keteraturan bumi ini. Sehingga mudah bagi Allah membuat lempeng ini bergeser. Bagi seorang makhluk ini memerlihatkan kelemahan kita. Kita tidak pantas berlaku sombong di dunia. Suatu saat tanpa kita tahu waktunya Allah akan memanggil dengan tiba-tiba.

Pandangan Islam Mengenai Pariwisata

Islam tidak melarang adanya objek wisata. Hanya saja hal tersebut perlu disesuaikan dengan aturan Islam. Hal – hal yang bertentangan dengan Islam tentunya tidak diizinkan. Seperti kesyirikan, kegiatan perzinaan, miras, narkoba ataupun kemaksiatan lainnya. Pariwisata dalam Islam bukanlah sarana yang dimanfaatkan untuk meraup devisa. Meskipun memiliki nilai jual yang tinggi. Karena dalam Islam sendiri telah memiliki sumber pendaatan yang tetap. Seperti hasil pertanian, perdagangan, industri dan jasa. Selain itu pemasukan lainnya bisa diperoleh dari zakat, jizyah, kharaj, fai’, ghanimah, hingga dharibah.

Tujuan utama dibentuknya pariwisata ada dua. Pertama sebagai sarana taqorub illallah. Keindahan alam adalah ciptaan Allah yang luar biasa. Dengan melihat keindahan alam akan membuat kita kagum dengan kebesaran Allah. Sehingga dapat meningkatkan keimanan kita. Kedua sebagai sarana memperkenalkan kebesaran Islam. Peninggalan bersejarah dan kemajuan teknologi yang dihasilkan oleh kaum muslim dapat dipakai untuk memerlihatkan bahwa Islam adalah agama yang lengkap. Peninggalan bersejarahnya akan membuat ketakjupan bagi yang melihatnya. Sedangkan peninggalan sejarah yang dimanfaatkan untuk ibadah umat agama lain akan dibiarkan. Hanya dipergunakan sebagai tempat ibadah saja. Selain yang disebutkaan sebelumnya dan tidak dimanfaatkan akan diganti atau dihancurkan. Jika Islam menawarkan konsep yang sempurna mengenai pariwisata. Sudah sewajarnya kita memaknai pariwisata sebagaimana Islam memandangnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.