Para Pembela Agama Allah: Kisah Umar bin Khattab Sewaktu Masih Jahiliyah

394

[Tulisan pertama]

Mediasiar.com – Mendukung dan menentang adalah dua sikap yang sunnatullah. Berdiri berdampingan tatkala ada sebuah masalah. Jadi, manusia terpolarisasi dalam sikap mendukung atau menentang dalam sebuah masalah adalah sunnatullah. Termasuk didalamnya antara sikap mendukung dan menentang dakwah pun juga sunnatullah terjadi. Ada yang dengan gigih mendukung upaya-upaya dakwah Islam, namun juga ada yang sebaliknya. Menentang dakwah Islam bahkan berusaha sekuat tenaga dengan cara-cara fisik mengganggu, bahkan mengusir dan membubarkan acara dakwah. Sekali lagi, ini adalah sunnatullah. Karena di zaman awal-awal Rasulullah berdakwah mengalami hal yang demikian. Bahkan lebih dari yang disangka.

Jadi, jikalau saat ini ada upaya-upaya untuk mempersekusi ulama, aktivis dakwah dan ormas islam, itu adalah sesuatu yang sunnatullah. Para da’i ketika akan melakukan dakwah di suatu tempat, di ancam dibubarkan dengan alasan-alasan yang mengada-ada, tidak relevan, tidak konsisten dan cenderung diada-adakan adalah hal yang lumrah. Sebagaimana kasus pembubaran kajian keislaman di Bangil, Blitar dan hal yang serupa akan dipaksakan di Garut.

Bila kita tengok siroh nabawiyah, maka hal seperti di atas akan kita temui kondisinya sama persis dengan apa yang dijalani oleh Rasulullah SAW. Tatkala Rasulullah mulai menjalankan dakwahnya di Makkah, ajaran Islam yang disampaikan oleh Rasulullah mendapat tantangan, hambatan dan bahkan intimidasi yang sangat luar biasa dari penduduk makkah yang dimotori langsung oleh rezim yang berkuasa, yang dijalankan melalui kelompok-kelompok yang di order oleh rezim yang ada. Rezim Makkah membuat dan mengatur makkar yang ada, yang targetnya adalah bagaimana cara agar dakwah Islam yang dilakukan oleh Rasulullah SAW tidak berkembang, bahkan kalau bisa terusir dan lenyap dari bumi Makkah.

Salah satu operator pelaksana makar rezim Makkah adalah Umar bin Khattab. Sosok yang garang lagi kasar, namun mempunyai aspek rasionalitas dalam berpikir dan hati yang jernih. Dalam siroh disebutkan bahwa Umar terkenal dengan orang yang teguh dan konsisten dalam menjalani adat kebiasaan dan tradisi nenek moyangnya. Karena adat dan tradisi tersebut sudaha sejak dari kecil dijalani dan dipraktekkan dalam segenap kehidupannya. Sudah mendarah daging dan menjadi pedoman dalam kehidupannya. Maka menjadi wajar jika Umar mempertahankannya dengan segenap kemampuan yang dimilikinya, agar adat dan tradisi yang dipelukkanya tidak dirubah atau dihilangkan oleh siapapun. Jika sudah berbicara tentang adat, tradisi dan nilai leluhur, bagi Umar adalah nyawa taruhannya. Jadilah Umar bin Khattab, menjadi penentang utama dakwah Islam. Dakwah yang dijalankan oleh Rasulullah SAW.

Salah satu fragment bagaimana Umar menjadi salah satu bagian penentang utama dakwah Islam adalah tatkala rezim Makkah membuat makar akan membunuh Rasulullah Muhammad SAW. Rezim Makkah, melalui para pembesar Quraisy berkumpul dan bermufakat untuk membunuh Rasulullah SAW. Dan merekapun mencari siapa yang bisa di order untuk melakukan itu. Sehingga nampak nantinya, yang melakukan bukan rezim Makkah yang berkuasa.

Orang yang terpilih oleh rezim pun di tanya. Salah satunya adalah Umar bin Khattab. “Siapa yang siap untuk membunuh Muhammad?” tanya mereka. “Saya siap untuk membunuhnya,” jawab Umar. “Andalah yang bertugas untuk membunuhnya, wahai Umar,” kata mereka.

Demikian proses penyeleksian dan negosiasi antara rezim dangan operator lapangan dalam rangka menghambat dakwah Islam. Tidak tanggung-tanggung. Ordernya langsung ingin membunuh pemimpin dakwah Islam, Rasulullah SAW. Tujuannya agar ketika pemimpinnya bisa disingkirkan maka dakwah Islam diharapkan langsung bisa hilang. Sungguh sebuah makar yang keji.

Ternyata, kondisi zaman Rasul hampir sama dengan kondisi sekarang. Rezim mengorder ke pihak-pihak tertentu untuk mempersekusi da’i dan ormas Islam. Mulai dari pembubaran pengajian, para aktivis Islam di kriminalisasi, ajaran syariat Islam di monsterisasi hingga yang lain. Dan tentunya, pihak yang mendapat order akan dapat imbalan sangat besar sekali. Mulai dari kucuran dana, akses media, diorbitkan, akses ke penguasa hingga backup keamanan.

Selanjutnya, Umar pun keluar di siang hari yang sangat panas sambil menghunus pedangnya. Ia hendak membunuh Rasulullah dan beberapa orang di antara sahabatnya. Di antara mereka ada Abu Bakar, Ali Bin Abi Thalib, Hamzah Bin Abdul-Muththalib dan beberapa orang dari kaum muslimin yang tinggal bersama Rasulullah di Makkah dan tidak ikut berhijrah ke habasyah. Orang-orang Quraisy menginformasikan kepada Umar bahwa Muhammad dan para sahabatnya sedang berkumpul di Darul Arqom di bagian bawah bukit shofa.

Nu’aim bin Abdullah An-Nahham bertemu dengan Umar seraya berkata; “Hendak kemanakah engkau wahai Umar?” Umar menjawab; “Aku ingin mencari orang yang berpindah agama ini (yaitu Nabi Muhammad) yang telah memecah belah bangsa Quraisy, menghina pimpinan Quraisy, mencela agama dan menghina Tuhan-Tuhannya. Aku ingin membunuhnya.”

Apa yang yang dikatakan Umar waktu itu adalah bentuk framing dari pembenci Islam, sehingga Islam dan para pendakwahnya di tuduh dengan tuduhan yang sangat keji. Rasulullah SAW dan ajaran Islam di tuduh memecah belah bangsa, menghina pimpinan dan mencela agama. Ternyata hal yang sama saat ini juga disematkan oleh para pendakwah Islam. Para pembenci Islam saat ini ternyata copy paste apa yang dilakukan oleh para pembenci Islam zaman Rasulullah. Para pejuang dan Ormas Islam di tuduh memecah belah bangsa, makar, anti Pancasila, anti kebhinekaan, dan segudang tuduhan keji lainnya. Sama seperti tuduhan yang dialamatkan kepada Rasulullah. Semuanya adalah tuduhan mengada-ada, tidak rasional dan sembrono.

Nu’aim selanjutnya menasehati Umar. Dia berkata; “Perjalanan yang jelek adalah perjalananmu wahai Umar. Demi Allah, nafsumu telah mengelabui dirimu. Engkau terlalu bersikap berlebihan, Engkau ingin membinasakan Bani Adiy, apakah Engkau pikir Bani Abdi Manaf akan membiarkanmu berjalan di atas permukaan bumi ini apabila Engkau ingin membunuh Muhammad?”

Mereka berdua terus berdialog hingga suara mereka makin meninggi. Umar berkata; “Menurutku Engkau telah berpihak padanya. Seandainya Aku tahu pasti lah Engkau yang pertama Aku bunuh.” Ketika Nu’aim melihat bahwa emosi Umar belum berakhir, ia berkata; “Aku beritahukan kepadamu bahwa keluargamu dan iparmu telah masuk Islam. Mereka telah meninggalkanmu, sekarang engkau hanya berada dalam kesesatanmu.” Ketika Umar mendengar ucapan Nu’aim itu, ia berkata; “Siapa di antara mereka?” Nu’aim menjawab; “Iparmu, anak pamanmu dan saudari mu.” [Sirah Ibnu Hisyam (1/ 343) didalamnya terdapat kisah yang terputus. Ath-Thabaqat, Ibnu Sa’ad (3/ 267), diriwayatkan dari Al Qasim bin Utsman Al Bashri dari Anas dan Al Qasim, hadits dhaif. DR Washshallah Muhammad Abbas telah menelaaah beberapa riwayat ini dalam tahqiq beliau terhadap Kitab Fadha’il Ash-Shahabah karangan Imam Ahmad bin Hanbal. (1/ 342)]

Apa yang dilakukan oleh Nu’aim menjadi pelajaran bagi kita semua. Menyikapi pihak-pihak yang di order oleh rezim untuk melakukan penghadangan dan pembubaran ormas Islam dan semua kajian dakwahnya. Yang bisa jadi, orang atau kelompok orang yang di order oleh rezim adalah salah satu dari orang atau ormas Islam. Tugas kita adalah mengingatkannya. Menyadarkan bahwa apa yang dilakukan adalah jalan yang jelek. Sebagaimana yang disampaikan Nu’aim kepada Umar bin Khattab, bahwa sikapnya itu adalah jalan jelek, mengedepankan hawa nafsu dan sikap yang berlebihan. Jika sudah diingatkan dan tidak mau berubah maka semua kita serahkan kembali kepada Allah. Sambil kita berdoa agar dibukakan pintu-pintu hati mereka agar kembali lagi ke jalan yang benar.

Sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah SAW kepada Umar bin Khattab. Rasul berdoa kepada Allah; “Ya Allah, muliakanlah Islam dengan orang yang paling Engkau cintai dari kedua orang ini, dengan Abu Jahal bin Hisyam atau dengan Umar Bin Khattab.” [HR. Tirmidzi]

Allah menjawab doa Rasulullah. Dan, orang yang paling dicintai oleh Allah di anatara keduanya adalah Umar bin Khattab. Dan Allah SWT telah menyediakan sebab untuk keIslaman Umar. Dan kita yakin, inshaAllah dengan doa-doa kita, di saat yang akan datang akan muncul orang-orang yang dulunya menentang dakwah Islam akan berbalik arah menjadi pembela Islam. Bahkan pembelaannya lebih dari apa yang dilakukan ketika menentang dakwah Islam. Mereka adalah orang-orang yang masih terselip didalamnya sikap rasional dan hanif hatinya. Mereka bersikap tegas, lugas dan terbuka dalam membela Islam, pendakwahnya dan ormasnya. Sikap pembelaan yang tanpa tedeng aling-aling lagi. Sikap tegas dan lugas sebagaimana Umar bin Khattab ketika masuk Islam. Langsung menjadi pembela Islam yang terpercaya. Sungguh fragment penentangan terhadap dakwah Islam saat ini adalah perjalanan yang sama dengan perjalanan siroh yang dilalui oleh Rasulullah SAW.

Umar ujungnya menjadi orang yang selamat. Namun banyak juga orang dan kelompok orang yang di order oleh rezim Makkah saat itu yang tetap dengan kekeliruannya. Walau sudah diingtakan dan dinasehati. Ujungnya mereka mendapat balasan dan siksa yang sangat pedih dari Allah SWT. Baik ketika di dunia apalagi di akhirat. Apakah hal ini akan juga terjadi saat ini bagi orang atau kelompok orang yang di order oleh rezim sekarang untuk mengkriminalisasi Islam, pendakwahnya dan ormasnya? Wallahu’alam bi ash-showab. [Gus Uwik]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.