Panggung Politik Bukan Panggung Sandiwara

    179

    Oleh: Novita Sari Gunawan (Aktivis Pergerakan Mubalighoh dan Akademi Menulis Kreatif)

    Sekali mendayung dua, tiga pulau terlampaui. Kiranya itulah yang ada di benak para pekerja seni, yakni seniman dan seniwati alias artis tanah air ini. Tak cukup puas menjejak di panggung selebritas, kini mereka berbondong-bondong menjajaki panggung politik. Senyum sumringah mengembang di wajah mereka. Arena ini menjadi ajang eksistensi diri untuk mengokohkan posisinya di puncak popularitas.

    Dilansir oleh antaranews.com, tercatat sekira 54 artis akan berpartisipasi sebagai bakal calon legislatif pada Pemilu Legislatif 2019. Partai Nasdem menyumbang 27 orang artis, diikuti PDI Perjuangan sekitar 13 orang, PKB sebanyak 7 orang, dan sisanya dari partai-partai lain.

    Fenomena ini berawal dari kekaguman akan sosok presiden tanah air ini yang berprofesi sebagai pengusaha meubel  sebelumnya. Dengan berbekal tangan kosong di dunia perpolitikan yang akhirnya menjadi seorang gubernur. Kini ia justru menjadi orang nomor satu di tanah air. Hal tersebutlah yang rupanya menjadi ilham bagi selebriti yang memang sangat mengagumi sosok Jokowi. Seolah terinspirasi, akhirnya jejaknya pun diikuti.

    Tentu saja hal ini menuai pro dan kontra ditengah masyarakat. Ada yang menganggap ini merupakan sebuah kemajuan juga sebagai bentuk hak bagi warga negara. Bahwa siapa saja boleh untuk berkancah di pentas politik. Namun, tak sedikit pula yang mengkhawatirkan fenomena ini.  Bagaimana mungkin seorang artis yang notabenenya berkecimpung di panggung hiburan dan tak memiliki kecakapan dalam hal politik, begitu mudahnya beralih masuk ke gerbang politik tanpa ada persyaratan kualifikasi apapun. Kecuali faktor popularitasnya yang menyumbang hal positif bagi naiknya rating dari partai-partai tersebut. Lagi-lagi ujungnya adalah pencitraan.

    Simbiosis mutualisme pun terjadi. Hubungan yang didasarkan untuk saling meraih manfaat dan keuntungan diantara satu sama lain baik dari selebriti maupun juga partai. Disatu sisi partai diuntungkan ketika si artis menjadi kadernya. Bukan mustahil para fans atau idola artis tersebut akan serentak pula mendukung partai tersebut. Di sisi lain, artis-artis itu pun diuntungkan ketika merengsek kedalam partai tersebut guna mengamini ambisinya untuk ikut mencicipi kursi empuk pejabat.

    Ideologi kapitalisme sekuler yang bercokol dalam peradaban saat ini melahirkan orang-orang yang tak akan pernah merasa puas. Hasratnya ingin terus dipenuhi. Terbukti dengan tak cukup merasa puas menjadi artis, lalu melirik jabatan politik. Ambisinya akan melejitnya eksistensi diri tak ada habisnya. Apalagi untuk para artis yang sudah kalah saing dan tak laku di pasaran. Akhirnya panggung politik pun menjadi arena banting setir mereka.

    Standar kebahagiaan dalam ideologi kapitalisme sekuler ialah terpenuhi dan terpuaskannya hal yang berupa materi. Maka wajar, lagi-lagi tujuan tertinggi ialah meraup pundi-pundi rupiah. Bukan hal yang aneh, bahwa profesi menjadi artis atau pejabat di era ini akan bermandikan materi. Belum lagi banyaknya celah untuk melakukan korupsi. Seolah karir ini sangatlah menggiurkan bagi pengejar gelimangan materi tersebut.

    Jelas, fenomena ini merupakan pengkerdilan dari makna politik. Sejatinya politik ialah pengaturan urusan rakyat. Orang-orang yang berkecimpung didalamnya ialah orang-orang yang siap berkorban untuk mendedikasikan jiwanya demi tercapainya kesejahteraan rakyat. Bukan malah kebalikannya, mengorbankan rakyat demi menggondol ambisinya. Wajar saja jika di era ini politik identik dengan kotor. Padahal, bukan politiknya yang kotor. Orang-orang yang memanfaatkan jalan hidup mulia inilah yang mengotorinya. Menggunakan politik sebagai wasilah bagi kebermanfaatan diri maupun partainya.

    Definisi politik menurut Islam yakni, Secara lughah (bahasa), siyasah (politik) berasal dari kata sasa, yasusu, siyasatan yang berarti mengurus kepentingan seseorang. Perkataan siyasatan menurut pengertian bahasa adalah ‘pemeliharaan/pengurusan’. Dalam kamus Al-Muhits dikatakan – sustu ar-ra’iyata siyasatan, ai amartuha wa nahaituha, ai ra’itu syu’naha bi al-awamir wa an-nawahi (aku memimpin rakyat dengan sungguh-sungguh, atau aku memerintah dan melarangnya, atau aku mengurusi urusan-urusan mereka dengan perintah-perintah dan larangan-larangan). Ini dari segi bahasa.

    Adapun maksud siyasah menurut istilah/syara’ adalah ri’ayah asy-syu’un al-ummah dakhiliyyan wa kharijiyan (mengatur/memelihara urusan umat di dalam atau luar negeri) [Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani, Muqaddimah ad-Dustur]. Pengertian ini diambil dari beberapa hadis di mana Rasulullah saw menggunakan lafaz ‘siyasah’ untuk menunjukkan maksud pengurusan/pemeliharaan urusan umat diantaranya hadis riwayat Bukhari dan Muslim.

    Jika merujuk maknanya pada Islam, maka Politik merupakan sesuatu yang agung. Menjadi bagian inti hukum syara yang menjadi induk pelaksanaan hukum-hukum syara lainnya. Jika asasnya adalah benar, maka aspek-aspek yang lainnya akan baik. Ibarat pohon, jika akarnya kokoh dan baik, akan menghasilkan pohon yang lebat daun dan buahnya. Benar disini tentu saja standarnya bukanlah akal manusia yang serba terbatas. Melainkan berdasarkan pada wahyu Allah SWT. Maka dari itu, politik butuh orang-orang dengan pemahaman yang benar, sadar akan pertanggung-jawaban di akhirat dan siap memberi yang terbaik untuk umat dengan asas dan sistem yg benar tersebut.

    Aturan yang diturunkan oleh Allah SWT adalah kaffah, tidak sebagian-sebagian. Sempurna, meliputi seluruh aspek kehidupan. Tak tereduksi hanya mengatur seputar ibadah, tapi juga mengatur urusan mu’amalah yakni politik didalamnya. Jika ingin meneladani sosok yang benar dalam berpolitik, maka yang layak menjadi panutan ialah Rasulullah Saw. Rasulullah adalah seorang ahli ekonomi dan ahli politik yang agung. Beliau seorang pemimpin sebuah kutlah (kelompok/gerakan) Islam (semasa di Mekah) dan juga menjadi pemimpin Negara Islam (semasa di Madinah)  sekaligus merupakan seorang pemimpin dunia Islam.

    Jalan hidup beliau didedikasikan untuk melayani dan mengurus umat. Pun dengan para sahabat dan Khalifah sepeninggalnya. Menjadi pelayan umat semata-mata sebagai bentuk amanah yang dijalankan dengan penuh kehati-hatian. Menjalankan kewajibannya serta memenuhi hak-hak umat berdasarkan ketentuan dari Allah SWT.

    Maka ditekankan lagi bahwa orang-orang yang terjun dalam politik praktis atau ranah kekuasaan saat ini, hendaklah orang yang paham bagaimana tanggung jawab dan cara meriayah atau mengurusi umat. Serta siap menjalankan kepemimpinannya bersandarkan pada hukum-hukum syara yang adil, karena bersumber dari wahyu Allah SWT. Bercermin pada sabda Rasulullah Saw: “Imam (pemimpin) itu pemelihara dan dia bertanggungjawab di atas orang yang dipelihara (rakyat)nya” [HR Muslim]. Wallahu a’lam biashshawab.

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here

    This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.