Nyala Cahaya Idul Fitri

Oleh : Bagas Kurniawan (‘Aliwa Institute)

Hari raya Idul Fitri bagi umat Islam di Indonesia khususnya menjadi suatu tradisi yang sudah membudaya untuk saling bersilaturahmi, menyambangi orang tua, sanak saudara, atau pun rekan kerja.

Memang, Hari raya umat Islam seluruh dunia ini. Memberi kesan yang sangat berarti, satu bulan lamanya kita digembleng untuk menjalankan ibadah shaum Ramadhan, shalat tarawih pada malam hari, dan tilawah Al-Qur’an. Dan masih banyak lagi amalan-amalan lain yang kita kerjakan.

Adapun, saat ini Ramadhan telah jauh pergi meninggalkan kita, dan tentunya kita berharap Ramadhan yang telah pergi harus kita jadikan sebuah momentum perubahan. Menjadi pribadi yang bertakwa, untuk senantiasa terikat dengan aturan-aturan-Nya.

Berbicara momentum pasca Ramadhan, yaitu keterikatan kita pada Al-Qur’an. Mungkin disaat Ramadhan kita dengan ikhlas, membagi waktu tidur kita hanya untuk membaca Al-Qur’an dan bertaqarub kepada Allah SWT.

Namun, ada yang perlu kita pahami, bahwa Al-Qur’an tidak hanya sekedar di baca dan di hafalkan, tapi lebih untuk kita amalkan dan terapkan dalam kehidupan.

Sayang, pasca Ramdhan banyak dari saudara kita perlahan meninggalkan bacaan Al-Qur’an, bahkan ada yang tidak sadar atau lupa bahwa Al-Qur’an adalah suatu petunjuk bagi manusia.

Mereka sudah tidak membuka Al-Qur’an lagi ketika sedang menjalankan aktivitas berbisnis, berdagang, bertransaksi, bahkan bernegara.

Dan ini adalah sebuah kehancuran bagi Islam dan umat Islam, kenapa ? Karena Al-Qur’an hanya untuk amalan bulan Ramadhan, dan mereka lupa bahwasannya Al-Qur’an harus diterapkan dan jadikan pedoman.

Ironi, bagi kita dan tentunya anda. Melihat Al-Qur’an hanya di simpan dan jadikan hiasan, tapi mengurus masalah perbankan Al-Qur’an di tinggalkan, pun seharusnya berkeluarga, dan terlebih bernegara. Al-Qur’an harus dijadikan petunjuk dalam seluruh aspek kehidupan.

Idul Fitri artinya adalah kembali ke fitrah, dan kita sebagai manusia biasa fitrahnya adalah makhluk yang lemah, dan tak ada yang pantas di sombongkan, karenanya kita butuh kepada sesuatu yang tinggi, kekal, dan tak terbatas. Yaitu kembali kepada yang memberikan kita kehidupan, yaitu Allah SWT.

Bagaimana pun kita adalah manusia yang lemah, tapi ketika ada seruan untuk kembali kepada Islam dan Al-Qur’an justru enggan dan tidak menghiraukan.

Idul Fitri adalah momentum untuk kembali menyerukan kepada pentingnya aturan yang akan membawa kita kepada kehidupan, yaitu kehidupan yang tak akan pernah salah dan kekal. Yaitu, Kembali kepada Al-Qur’an dengan seluruh aturannya… Wallahu ‘alam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.