Negara Melegalkan Miras, Rakyat Mati, Matilah….

121
Foto: Korban miras oplosan masih dirawat di RSUD Cicalengka.

Oleh : Fatimah-Bogor (Paguyuban Muslimah Bogor)

Kalau sudah mati, mau bilang apa? Semua manusia akan mati. Caranya saja yang berbeda, Iya kan?

Sepintas memang bukan urusan saya. Orang mau mati jalannya mabuk keracunan miras oplosan, sudah menjadi pilihannya dan takdir Ilahi. Namun, sebagai seorang muslim ternyata tak bisa dipandang sebelah mata urusan di sekitarnya. Ingat! Sistem kecil keluarga saja, antara orang tua dan anak akan saling tuntut hak dan kewajiban. Begitu juga antar tetangga. Dan lebih besar lagi negara. Bagaimana seorang pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat akan kepemimpinannya.

Terbaru, kabar tentang kejadian luar biasa berjatuhannya “Korban Tewas Miras Oplosan di Cicalengka Jadi 41 Orang” (m.liputan6.com/news/read/3441621/korban-tewas-miras-oplosan-di-cicalengka-jadi-41-orang?)

Negara berperan besar dalam mengurus kebijakan akan miras ini. Pelegalan miras oleh penguasa merupakan payung teduh bagi maraknya pesta minuman yang diharamkan dalam islam ini oleh masyarakat.

Lain halnya jika penguasa tegas melarang miras ini. Seperti yang difirmankan Penguasa Jagat Raya, Allah SWT berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya minuman keras, berjudi, (berkurban untuk) berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah, adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah (perbuatan-perbuatan) itu agar kamu beruntung.”
“Dengan minuman keras dan judi itu, setan hanyalah bermaksud menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu, dan menghalang-halangi kamu dari mengingat Allah dan melaksanakan sholat, maka tidakkah kamu mau berhenti?”
“Dan taatlah kamu kepada Allah dan taatlah kamu kepada Rasul serta berhati-hatilah. Jika kamu berpaling, maka ketahuilah bahwa kewajiban Rasul Kami hanyalah menyampaikan (amanat) dengan jelas.” (QS. Al-Ma’idah 5: Ayat 90-92)

Jika saja penguasa bersandar pada agama islam. Aparat akan dengan leluasa menegakan kebijakan yang diberlakukan penguasa. Aparat pun tak akan bermain curang. Masyarakatpun akan dikondisikan ta’at pada aturan Allah Swt. Kebijakan yang benar akan menimbulkan sinergi yang positif dalam sistem.

Kebijakan hukum yang diambil pemerintah akan menentukan baik buruknya pragmen kehidupan. Kalaulah tujuan kebijakan yang dibuat demi rasa aman, adil, menjaga jiwa, menjaga kehormatan, menjaga aqal, menjaga keturunan, menjaga negara serta menjaga dan menghormati hukum agama, maka akan didapati masyarakat yang aman, adil dan ta’at beragama. Namun jika kebijakan yang diambil hanya demi mengambil keuntungan materi serta menyelimuti hak kebebasan bertingkahlaku masyarakat walau menentang agama, maka akibat tumbangnya nyawa-nyawa sia-sia akan terus bergulir. Pastinya Majalengka bukan kasus terakhir matinya warga akibat miras oplosan.

Sedih dan miris, penguasa yang harusnya jadi perisai umat. Namun bagaimana rakyat bisa bersandar jika sandarannya tak berorientasi akhirat. Wallohu’alam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.