Naikkan Batas Usia Menikah Tak Naikkan Dekadensi Moral

25

Oleh: Desi Wulan Sari

Pernikahan dini masih menjadi topik hangat saat ini. Dikatakan bahwa  penyebab terjadinya KDRT (kekerasan dalam rumah tangga) akibat usia perkawinan yang terlalu muda. Padahal pemahaman makna pernikahan  akan menjadi modal kesiapan dan kedewasaan seseorang saat siap menjalani sebuah pernikahan.

Terkait UU No. 1 Tahun 1974 tentang perkawinan, revisi paal 7 ayat 1. Yaitu  kesepakatan kenaikan batas minimal  perkawinan dari 16 tahun menjadi usia 19 tahun, menjadi angin segar bagi pengusung feminisme. Pasalnya DPR menyetujui usulan tersebut.

“Tentunya kami mengapresiasi kesepakatan antara DPR dan pemerintah. Bagi kami partai PSI ini adalah kemenangan besar bagi kaum perempuan dan anak, semoga segera disahkan.” Demikian yang disampaikan juru bicara PSI, Dara Nasution di Jakarta, sabtu 14/9/2019 (Beritasatu.com, 14/9/2019).

Seperti yang kita tahu bahwa partai PSI ini merupakan partai yang selalu membuat program kerjanya dengan cara kontroversial, dengan menentang aturan agama yang jelas keshahihannya. Misalnya menentang poligami. Sehingga perlu dipertanyakan alasan pengajuan revisi uu tersebut apakah benar menjadi solusi bagi penurunan tingkat KDRT.

Sebenarnya batas usia pernikahan tidak terkait dengan timbulnya KDRT, justru sistemlah yang membuat hal ini banyak terjadi. Akibat sistem sekuler, yaitu pemisahan agama dari kehidupan menjadi sumber bencana dekadensi moral yang nyata. Melihat fenomena pola hidup, pola pikir dan pengetahuan generasi sekarang justru sangat mengkhawatirkan. Betapa tidak, masalah besar sedang menggerogoti pemikiran mereka. Segala pemikiran kufur yang diusung oleh sepilis dijadikan sebagai gaya hidup dan menanamkan pemikiran sekuler dalam kehidupan mereka.

Bahayanya lagi tanpa disadari para generasi muda saat ini terbawa arus dan terjerumus dalam pemikiran dan gaya hidup kebarat-baratan, yang tidak sesuai bahkan jauh dari syariat Allah. Dan parahnya lagi semua itu tersistem dalam negara ini. 

Fakta lain yang kita lihat hari ini, dekadensi moral generasi muda secara nyata terus diperlihatkan. Seperti pergaulan bebas dan pacaran terus merajalela serta mudahnya mengakses konten pornografi dan pornoaksi di media massa. Tidak hanya itu  perzinahan, dianggap urusan pribadi bagi mereka. Akibatnya masyarakatpun tidak memiliki empati dan rasa tanggung jawab lagi terhadap lingkugan. Seakan-akan segala permasalahan kerusakan moral generasi hanyalah tanggung jawab individu semata.

Rasulullah Saw bersabda, “ Jika zina dan riba sudah menyebar di suatu negeri, maka sesungguhnya mereka telah menghalalkan azab Allah atas diri mereka sendiri” (HR al Hakim, al Baihaqi dan at Thabrani).

Penghapusan pembahasan ilmu tentang aturan pergaulan sesuai syariat menjadi tujuan para sepilis dalam melemahkan generasi bertakwa. Meliberalkan institusi keluarga adalah salah satu agenda besar penguasa dan para penganut paham kebebasan  untuk melengkapi goal yang telah ditetapkan.

Sejatinya negara memberikan perlindungan pada rakyatnya dalam bentuk kebijakan yang sesuai dengan hukum syariat. Karena kepedulian negara terhadap generasi mendatang merupakan modal kebesaran sebuah bangsa. Jika aturan Allah dijadikan pedoman penguasa maka kemungkaran dan kezaliman tidak akan terjadi. Bahkan pernikahan usia muda diklaim sebagai  faktor penyebab KDRT, hilangnya hak pendidikan pada anak, resiko kesehatan akibat seks dan melahirkan, hilangnya nafkah anak dari orangtua, dan banyak lagi yang lainnya. Padahal bukan itu, melainkan pemahaman agama dan menjalankan hidup yang sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan Allah adalah kunci kebahagiaan sebuah pernikahan tanpa melihat batas usia. Dalam Islam sebuah pernikahan dapat dilakukan setelah seseorang telah datang masa akil balighnya.

Semestinya, jika saja pemerintah menerapkan aturan Islam dan jika betul-betul peduli dengan nasib dan masa depan generasi mudanya, dalam aturan Islam telah dituangkan berlapis-lapis perlindungan dan jaminan atas seluruh hak anak. Mulai dari hak hidup, hak nafkah, hak pengasuhan dan pendidikan, hak keamanan, hak kesehatan, dan lain-lain. Semua itu ada dalam satu paket sistem ekonomi yang menjamin kesejahteraan seluruh rakyat, sistem pergaulan Islam, termasuk aturan keluarga muslim yang menjamin perlindungan dan hak finansial, sistem sanksi islam yang menjamin keamanan, dan lain sebagainya.

Bahkan penerapan semua aturan sistem ini akan menghantarkan generasi muda di era mana

pun menjadi generasi emas, generasi cemerlang yang memiliki kematangan berpikir dan memiliki visi hidup yang jelas sebagai manusia yang bertakwa. Maka tak akan ada lagi kerusakan dan kezaliman di muka bumi ini.

Wallahu a’lam bishawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.