Nahas, Isu Terorisme Gagal Hentikan Nafas Perjuangan Islam

Oleh: Novita Sari Gunawan ( Aktivis Akademi Menulis Kreatif)

Kembali, isu konservatif digoreng oleh penguasa untuk membendung derasnya arus perjuangan kebangkitan Islam. Bersikukuh dengan muslihat yang sama, yakni menghembuskan momok menakutkan terhadap Islam dengan fitnah terorisme yang dikaitkan dengan ajaran Islam tersebut.

Dilansir oleh nasional.kompas.com pada sabtu (23/6/2018), densus 88 Antiteror menembak mati dua orang terduga teroris di Jalan Tole Iskandar, Sukmajaya, Kota Depok, Jawa Barat. Sontak pemberitaan ini disiarkan dengan dramatis menambah kesan bahwa Islam memiliki sebuah ajaran yang layak untuk dikecam oleh seluruh masyarakat.

Disisi lain, kejadian penembakan oleh OPM terhadap Brimob dan TNI yang terjadi di Papua kemarin tidaklah disebut sebagai aktivitas terorisme. Subjek penyerangnya diperhalus dengan derivat kelompok kriminal bersenjata. Apa pasal?  Sebab OPM tidak membawa nama agama. Maka tak layak dikaitkan dengan aktivitas terorisme. Namun, faktanya yang terjadi pada aktivitas penyerangan yang dilakukan oleh agama lain selain Islam tak pernah dikaitkan sedikitpun dengan terorisme. Jelaslah skandal ini sangat telanjang didepan mata. Bahwa gelar teroris secara eksklusif hanya disematkan untuk kaum Muslim saja.

Islam terus saja menjadi bulan-bulanan. Strategi ini disusun dengan tangan besi mereka yang berdaulat sebagai penguasa. Melalui UU Ormas, UU anti terorisme dan Pasal ujaran kebencian yang berstandar ganda, digunakan penguasa untuk memukul siapa saja yang berseberangan dengan rezim. Tentunya lagi-lagi Islam yang terus saja menjadi bidik sasarannya.

Hanya saja gencarnya bombardir isu terorisme ini efektifkah mengerem laju kebangkitan Islam yang ditakutkan oleh mereka? Berawal dari tragedi WTC 9/11 pada 2001 silam, diikuti dengan skenario terorisme global hingga di Indonesia. Nyatanya tidaklah berdampak sesuai dengan ekspektasi yang mereka inginkan. Nafas kebangkitan Islam justru semakin menggelora. Terbukti saat ini syariah Islam sudah mulai dikenal luas oleh masyarakat.

Dalang dibalik skenario ini ialah para penjajah barat yang tak terlihat secara kasat mata oleh rakyat dan berlindung dibalik kedok ilusi demokrasi kapitalisme demi meraup kepentingannya. Mereka pun tak mengingkari bahwasanya kekuatan ideologi Islam tak mungkin dapat dibendung. Mereka juga meyakini Indonesia menjadi salah satu episentrum kebangkitan ideologi Islam. Maka dari itu gencarnya serangan pemikiran dan emosional kepada ajaran Islam dan kaum Muslim di Indonesia termasuk salah satunya ialah fitnah terorisme yang dikaitkan dengan Islam agar kebangkitan tersebut dapat mereka hentikan.

Propaganda ini tentulah sangat melukai hati umat Islam. Tapi kita meyakini bahwa dalam merealisasikan sebuah tujuan pastinya kita akan diuji oleh banyaknya batu sandungan. Rasulullah Saw dan para sahabat saat berdakwah menyerukan Islam yang masih asing ditengah masyarakat jahiliyah pun mengalami berbagai propaganda, pemboikotan hingga penyiksaan. Namun, berbagai upaya oleh kaum kafir dalam menghentikan dakwah Rasulullah Saw dan para sahabat tak berhasil. Terbukti Islam berhasil menjadi pioner peradaban dunia hingga runtuhnya tahun 1924 silam.

Oleh karena itu, umat Islam yang sedang berjuang mengembalikan lagi kejayaan Islam saat ini tak perlu berkecil hati dengan segala fitnah dan rintangan yang dihadapi. Keyakinan bahwa Allah SWT membersamai setiap langkah perjuangan menjadi sebaik-baiknya penghibur hati. Rancangan makar mereka tak akan mampu melawan makar yang telah Allah SWT siapkan.

Allah SWT berfirman:

وَمَكَرُوْا وَمَكَرَاللّٰهُ  ۗ  وَاللّٰهُ خَيْرُ الْمَاكِرِيْنَ

“Dan mereka (orang-orang kafir) membuat tipu daya, maka Allah pun membalas tipu daya. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.”

(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 54).

Wallahu a’lam biashshawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.