Muslimah Idaman: Muslimah Pengukir Peradaban

149

Telah tergores tinta emas sejarah yang monumental dalam jejak perjuangan Rasulullah saw. Bersama para sahabatnya dari Makkah, Al-Mukaromah menuju Madinah, Al-Munawaroh. Dalam peristiwa itu tersebut nama sosok-sosok manusia mulia yang begitu tangguh dan konsisten dalam memperjuangkan Islam.

Barisan para pengemban ajaran Islam kaffah yang begitu tegar dalam menghalau halang rintang. Mereka memiliki kekokohan akidah, telah mampu meninggalkan segala ritual kejahiliahan berupa paganisme dan kekufuran.

Dalam hijrah Rasulullah saw. Beserta para sahabat esensinya ialah perubahan kehidupan jahiliyah kepada fase kehidupan yang lebih indah dengan penerapan Islam kaffah di Madinah.

Perubahan ialah sebuah keniscayaan dari hijrah. Perubahan hakiki yang telah menghasilkan peradaban Islam nan mulia. Namun, hal ini yang seolah tak diopinikan secara mendalam di tengah masyarakat. Sehingga masyarakat memahami hijrah semata berpindah kota, tanpa mengindahkan penerapan Islam kaffah yang telah menjadikan kondisi kaum Muslim menjadi lebih berarti.

Hakikatnya setiap Muslim diwajibkan untuk berhijrah. Adanya dituntut untuk meninggalkan segala kemaksiatan menuju jalan ketaatan kepada Sang Pencipta. Perlulah sebuah gerakan untuk bisa merealisasikan perubahan jahiliyah zaman kekinian menuju kepada kehidupan yang Islami seperti yang telah dicontohkan Nabi Muhammad saw.

Tentulah gerakan perubahan pengukir peradaban ini bukan hanya dipikul kaum lelaki. Muslimah pun berkewajiban ikut melaksanakannya. Sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala:

Orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka melakukan amar makruf nahyi munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat serta menaati Allah dan Rasul-Nya. Mereka akan diberi rahmat oleh Allah. Sungguh, Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana (At-Taubah[9]:71).

Sejak Muhammad saw. Diutus menjadi pembawa risalah mulia, Muslimah generasi terdahulu telah berperan aktif dalam kancah dakwah. Mereka begitu istiqomah dalam menuntun masyarakat. Mengeluarkan mereka dari kondisi hidup jahiliyah dengan ajaran Islam yang kaffah.

Muslimah yang hidup di masa Rasulullah telah teruji keyakinan dan pengorbanannya. Mereka telah ikut menelan segala tekanan yang dilancarkan kaum kafir Quraisy pada saat itu. Walau demikian, kondisi sepahit apapun tak menyurutkan semangat mereka untuk melakukan perang pemikiran (Ghazuwl Fikr). Walhasil, Allah menghadiahi perjuangan kamum Muslimin dan Muslimah dengan tegaknya daulah islamiyah di Madinah.

Ada pun potret Muslimah pengukir peradaban pada masa khulafaur rasyidin, mereka pun ikut berpartisipasi aktif dalam aktivitas politik. Mereka begitu gencar melakukan amar makruf nahyi munkar. Muslimah pun tak sungkan menyampaikan koreksi terhadap penguasa (muhasabah lil hukam). Semua terdorong karena keimanan dan ketakwaannya kepada Allah subhanahu wata’ala.

Istimewanya pada saat yang sama, mereka tetaplah proporsional dalam penunaian kewajiban asalnya yaitu sebagai penanggung jawab rumah tangga (ummu warobatul bayt) dan pendidik atau sekolah pertama (madrasatul uwla) bagi buah hatinya. Kiprah yang begitu indah. Sosok ideal yang mampu mencetak generasi idaman di dalam Islam.

Mereka sangat tergiur memupuk pahala investasi dengan berbagai peluang yang Allah dan Rasulnya kabarkan. Tak lain ada dalam amal jariyah, ilmu yang bermanfaat dan doa dari anak yang salih. Keluarga yang mereka bina dijadikan benteng tangguh untuk mendorong kemajuan Islam.

Di dalam Islam, perempuan atau Muslimah sebagai sebaik-baik perhiasan yang mestilah dijaga kehormatannya. Posisinya tidak dinomorduakan. Penjagaan begitu agung disyariatkan.

Islam pun memberikan peran bagi perempuan dalam ranah domestik maupun publik. Keduanya ditunaikan dengan prioritas amalan, tanpa menghiraukan prestise seperti yang lazim terjadi masa kekinian. Wujud Muslimah terarah semata guna mengukir peradaban Islam yang mulia. Sungguh mereka sangat tergiur menggapai ridho-Nya

Tercatat dalam lembaran sejarah, nama-nama shohabiyah yang salihah seperti Sayyidah Khadijah binti Khuwalid ra. , Aisyah binti Abu Bakar, Sumayah ra. , Fatinah Az-Zahra ra.dan yang lainnya. Mereka ialah sosok Muslimah menawan yang layak dijadikan teladan.

Potret Muslimah cerdas, tangguh dalam berjuang, sabar dalam menghadapi ujian, pun begitu hormat kepada suami. Dari rahim mereka telah terlahir para pejuang Islam yang fenomenal.

Kini, sudah saatnya Muslimah terus berkaca dan termotivasi agar dapat berlaku seperti Muslimah terdahulu di zaman Rasulullah. Menjadi Muslimah pengukir peradaban yang totalitas dalam penunaian kewajiban domestik juga publik.

Langkah praktis yang efektif dilakukan adalah dengan aktif dalam aktivitas pembinaan.  Membina umat dengan pengetahuan Islam sebagai agama sekaligus pandangan hidup yang paripurna.

Pembinaan ini yang akan menghasilkan pemikiran dan perasaan Islam di tengah-tengah umat. Selanjutnya, umat akan memiliki cita-cita mulia yang sama. Itu tak kain adalah meminta diterapkannya syariat Islam dalam institusi negara sebagaimana yang telah dicontohkan Rasulullah dan khulafaur rasyidin.

Potret negara dambaan yang telah nyata bertahan hingga lebih dari 13 abad lamanya. Membentang dari antar negara hingga lintas benua. Peradaban mulia pun telah ditelurkannya. Di sanalah Islam rahmatan lil ‘alamiin akan begitu sarat dirasa. Wallahu’alam bishowab.

Oleh: Ammylia Rostikasari, S.S. (Aktivis Akademi Menulis Kreatif)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.