Muslim Tertindas Butuh Sistem Islam dan Khalifah

28

Oleh: Ulfah Sari Sakti,S.Pi (Jurnalis Muslimah Kendari)

Lagi-lagi tragedi berdarah kembali menimpa umat muslim, kali ini menimpa muslim minoritas di India.  Bentrokan ini dipicu serangan terhadap kelompok muslim penolak Undang-Undang  Citizienship Amandement Bill (CAB) oleh kelompok Hindu pendukung UU tersebut di tengah kunjungan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.

Dibawah UU ini, umat muslim India akan wajib untuk membuktikan  bahwa mereka memang adalah warga negara India.  Sehingga ada kemungkinan warga muslim India (15 persen dari 1,3 miliar jumlah penduduk) justru akan kehilangan kewarganegaraan tanpa alasan.

Bentrokan itu terjadi sepanjang tiga hari berturut-turut  dan hingga kini telah menewaskan lebih dari 30 orang dari kedua belah pihak maupun polisi.  Bentrokan meluas, massa mulai membakar masjid-masjid.  Dalam sebuah video viral yang diunggah penggiat HAM India@arjunsethi18 di media sosial, seorang pemuda bahkan sempat mencabut silmbol bulan bintang di sebuah masjid.  Bersamanya seorang laki-laki mengibarkan Bendera Saffron, lambang kelompok sayap kanan Hindu India.

Entah bagaimana muasalnya, kerusuhan ini bukan lagi tentang kewarganegaraan melainkan menjadi isu Sektarian.  Banyak orang diserang lantaran agamanya.  Tak heran jika kerusuhan kemudian menjadi kekerasan berbasis agama terburuk yang terjadi selama beberapa dekade di negeri itu.  (tirto.co.id/28/2/2020).

Berdasarkan penuturan dari pihak MUI, sikap RI juga diminta jangan sampai menciderai hubungan dan persahabatan dengan India.  Namun di sisi lain, penting memberikan tekanan kepada pemerintah RI untuk menjamin keamanan kaum muslim.

Sementara itu Menag, Fachrul Razi meminta tokoh agama menahan diri soal konflik Hindu-Muslim.  “Kepada semua tokoh dan umat beragama, baik di India maupun di Indonesia, Menag  berpesan untuk menahan diri dan tidak terpancing melakukan tindakan emosional,” kata Fachrul (CNNIndonesia.com/29/2/2020).

Muslim Tertindas Butuh Sistem Islam dan Khalifah

Sejarah membuktikan Islam sebagai agama rahmatan lil alamin (rahmat bagi seluruh alam), karena Islam tidak pernah menjajah suatu negeri, kalau pun perluasan Daulah Islamiyah dilakukan, terlebih dahulu melakukan pengiriman utusan, menawarkan pilihan apakah akan bergabung dengan Daulah Islam dengan cara damai atau sebaliknya.  Jika akhirnya sampai terjadi peperangan, kaum muslim dilarang membunuh perempuan, anak, lansia dan pemuka agama. 

Pasca runtuhnya Daulah Islam (1924), suatu negara dengan penduduk muslim mayoritas tidak pernah ada yang melakukan penindasan, hingga menyebabkan tragedi berdarah kepada umat minoritas.  Bandingkan dengan agama lain yang melakukan tragedi berdarah seperti Genosida di Bosnia, pembantaian muslim Rohingnya di Myanmar, reedukasi bagi muslim Uighur di Xinjiang China serta CAB bagi muslim India.

  Terkhusus di India, andai saja masih ada penakluk dunia termuda seperti Muhammad bin al-Qasim at Tsaqafi, pastilah tidak akan terjadi tragedi berdarah di India.  Pemuda belia, penakluk dunia termuda ini berhasil menaklukan India, Pakistan, Bangladesh dan Kashmir.

Ketika Raja Dahir menolak para wanita muslimah dan perniagaan sebanyak 18 kapal, kepada Khilafah Bani Umayyah, dengan cara damai, maka al-Hajjaj bin Yusuf nenjatuhkan pilihan kepada pemuda ini untuk memimpin tentara Islam dalam rangka menaklukan Sind dan menyebarkan Islam disana.  Misi pun dilakukan dengan baik, kota demi kota ditaklukan oleh pemuda belia ini dalam rentang dua tahun.

Tahun 92 H, pertempuran antara pasukan kaum muslim dengan Raja Dahir, penguasa setempat pun pecah.  Kemenangan di pihak kaum muslim.  Raja Dahir terbunuh di medan perang.  Ibukota Sind jatuh ke tanga kaum muslim.  Penaklukan berlanjut hingga Punjab.  Penaklukan berhenti tahun 95 H, ketika mencapai Mulkan.  Kini meliputi India dan Pakistan.

Para penganut Hindu dan Budha yang tinggal di wilayah itu pun terkesima dengan keadilan, toleransi dan kemuliaan akhlaknya.  Mereka pun jatuh cinta dengan pemuda belia itu dan Islam yang dibawanya.  Pemuda belia itu memang dikenal sangat tawadhu.  Meski dia sebagai panglima, dia sangat hormat kepada tentara yang lebih tua dan hebat, dengan menganggap mereka sebagai orang tuanya.  Tidak pernah membuat keputusan, kecuali dengan menyertakan mereka (Tabloid Media Umat Edisi 215).       

Di era pasca rutuhnya Daulah Islam seperti saat ini, hal yang dibutuhkan umat muslim tertindas yaitu perubahan sistem kapitalis menjadi sistem Islam sehingga melahirkan pemimpin Islam (khilafah), yang dapat menjadi junnah (perisai) umat dari segala bentuk penindasan.  Jika Sistem Islam diberlakukan, tentunya tidak akan terjalin kerjasama dengan negara kafir seperti India.  Misalnya dalam sistem ekonomi, investasi dan pengelolaan modal asing di seluruh negara tidak dibolehkan, termasuk larangan memberikan hak istimewa kepada pihak asing. 

Selain itu negara-negara yang terikat perjanjian di bidang ekonomi, perdagangan, bertetangga baik atau perjanjian tsaqafah, maka negara-negara tersebut diperlakukan sesuai dengan isi teks perjanjian.  Warga negaranya dibolehkan memasuki negeri-negeri Islam dengan membawa kartu identitas tanpa memerlukan paspor, jika hal ini dinyatakan dalam teks perjanjian, dengan syarat terdapat perlakuan yang sama.  Hubungan ekonomi dan perdagangan dengan negara-negara tersebut terbatas pada barang dan komoditi tertentu yang amat dibutuhkan, serta tidak menyebabkan kuatnya negara yang bersangkutan.

Tentunya kita tidak akan lupa bahwa kaum kafir tidak akan pernah ridha dengan kaum muslim, kecuali umat Islam murtad dari agamanya.  Sebagaimana firman Allah swt dalam QS Al Baqarah : 120, “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hinga kamu mengikuti agama mereka.  Katakanlah :”Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”.  Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu”.

Hal yang tidak boleh dilupakan pula oleh para pemimpin negara dengan mayoritas umat muslim seperti Indonesia yaitu, apa yang telah mereka perbuat untuk saudaranya yang tertindas?, apakah mereka hanya menutup mata dan telinga serta sibuk dengan urusan dalam negerinya saja.  Tidak takutkah mereka jika mereka diadukan kepada Rabbnya, bahwa mereka tidak memikirkan nasib saudara muslimnya? Wallahu’alam bishowab[].

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.