Miras Yang Tak Pernah Tuntas

190

Oleh: Dina Dwi Nurcahyani, S.S., S.Pd. ** 

Menurut Wakil Kepala Polri Komjen Syafrudin korban meninggal minuman keras (miras) oplosan secara nasional ada sekitar 112 orang. Yang terbanyak adalah di daerah Jabar sebanyak 62 orang tewas. Sementara korban lainnya tersebar di seluruh Indonesia, seperti DKI Jakarta dan Kalimantan Selatan. (Kompas, 20 April 2018).  Korban miras ini tidak hanya pria tetapi ada juga yang wanita. Usianya pun beragam, seperti yang di Jabar rentang usia korban adalah antara usia 19 sampai 52 tahun dan satu orang perempuan.

Belum selesai kasus di daerah Jakarta dan Jawa Barat, miras oplosan kembali memakan korbannya di Surabaya, Jawa Timur. 13 orang tewas setelah mengadakan pesta miras oplosan. Tiga orang ditetapkan sebagai tersangka yang berperan sebagai peracik, pemasok dan penjual miras oplosan. Dari ketiga tersangka, polisi mengamankan 274 botol plastik bekas kemasan air mineral tanpa label atau merek yang berukuran 600 mililiter siap jual.  Polisi juga mengamankan tiga drum plastik berisi bahan kimia jenis alkohol, serta peralatan meracik minuman keras dari  para tersangka. Sebelumnya juga pada rentang 15 sampai 18 April 2018, tujuh orang meninggal dunia usai pesta miras di Banyuwangi. Meski Polisi berhasil menangkap para tersangka penjual miras oplosan, namun nyawa yang melayang tidak bisa ditebus.

Polisi mengadakan razia besar-besaran di berbagai wilayah. Sebanyak 180 orang telah ditangkap dalam operasi miras yang dilakukan oleh jajaran hukum Polda Metro Jaya selama 1 hingga 19 April 2018. Selain itu, kepolisian juga menyita 39.834 miras dalam berbagai kemasan. Di wilayah lainnya, petugas Polres Madiun, Jawa Timur mengamankan sebanyak 719 liter minuman keras yang siap diedarkan di wilayah Kabupaten Madiun. Kapolres Madiun AKBP I Made Agus Prasatya, Senin (23/4), mengatakan ratusan liter minuman keras tersebut diamankan dari sebanyak 86 lokasi berbeda dalam giat Operasi Tumpas Semeru yang digelar pada tanggal 13-24 April 2018.

Dari satu tempat ke tempat yang lain. Dari satu kasus ke kasus yang lainnya, miras telah merenggut banyak nyawa seolah susul-menyusul, saling berpacu, tiada henti. Laki-laki, perempuan, remaja, dewasa, orang tua, semuanya turut menjadi korban miras. Entah itu meninggal setelah minum miras atau terdampak dari mereka yang meminumnya.

Ada Apa Di Balik Miras?

Meski razia miras sudah dilancarkan oleh kepolisian, ratusan nyawa melayang, ribuan botol disita, para tersangka sudah ditetapkan, namun cairan haram ini masih terus saja beredar di tengah masyarakat dan memakan korbannya.

Para pengamat menilai bahwa mengkonsumsi miras oplosan sudah menjadi masalah sosial dan cerminan dari gejala depresi sosial di masyarakat. Persoalan ekonomi menjadi salah satu pemicunya. Pengangguran akibat sulitnya mencari lapangan pekerjaan dan tekanan biaya hidup yang semakin tinggi membuat mereka yang pendek akal mencari “penyelamat” sejenak untuk melupakan permasalahan hidup mereka. Selain itu juga karena gaya hidup dan pengaruh lingkungan sosial yang melatarbelakangi konsumsi miras oplosan. Oleh karena itu, tidak bisa hanya dengan mengandalkan polisi saja saja untuk menyelesaikan masalah miras ini.

Memberantas miras ini bukan hanya wewenang kepolisian saja, namun juga berhubungan dengan departemen, kementrian dan lembaga pemangku lainnya yang tetkait. Peredaran miras ini juga tidak bisa dengan mudahnya dihentikan secara menyeluruh. Ini karena terkait dengan regulasi, perizinan dan sanksi hukum yang berlaku.

Adanya payung hukum untuk miras yaitu Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 74 Tahun 2013 tentang Pengendalian dan Pengawasan Minuman Beralkohol secara resmi menetapkan bahwa minuman beralkohol (mihol) boleh beredar kembali dengan pengawasan.

Selain itu, menurut Pepres ini, Minuman Beralkohol yang berasal dari produksi dalam negeri hanya dapat diproduksi oleh pelaku usaha yang telah memiliki izin usaha industri dari Menteri Perindustrian. Adapun Minuman Beralkohol yang berasal dari impor hanya dapat diimpor dari pelaku usaha yang memiliki izin impor dari Menteri Perdagangan. Peredaran Minuman Beralkohol itu hanya dapat dilakukan setelah memiliki izin dari Kepala Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM). “Minuman Beralkohol hanya dapat diperdagangkan oleh pelaku usaha yang telah memiliki izin memperdagangkan Minuman Beralkohol dari Menteri Perdagangan,” bunyi Pasal 4 Ayat (4) Perpres ini.

Ditegaskan dalam Peraturan Presiden Nomor 74 Tahun 2013 ini, Minuman Beralkohol yang berasal dari produksi dalam negeri atau asal impor harus memenuhi standar mutu produksi yang ditetapkan oleh Menteri Perindustrian, serta standar keamanan dan mutu pangan yang ditetapkan oleh Kepala BPOM.

Terbitnya Perpres tentang miras sama artinya dengan membuka ruang peredaran minuman keras di Indonesia. Perpres ini menunjukkan ketidaktegasan pemerintah dalam menyelesaikan permasalahan miras. Ini tidak sejalan dengan komitmen pemerintah yang katanya ingin memberantas miras dan narkoba secara tuntas. Alih-alih menutup rapat-rapat pintu peredarannya, pemerintah malah memberi payung hukumnya sehingga miras masih bisa beredar di tengah masyarakat. Miras bukan barang terlarang, menurut hukum ia adalah legal selama terdaftar resmi dan mematuhi aturan yang ada.   Sementara yang tidak terdaftar secara resmi di lembaga terkait adalah miras yang illegal dan harus diberantas atau sering disebut sebagai miras oplosan. Disinilah miras oplosan akhirnya menjadi pilihan masyarakat yang ingin mencari pelarian sejenak dari himpitan masalah ekonomi. Selain karena harganya lebih murah, barangnyapun bisa lebih mudah didapat. Namun fatalnya bahan miras oplosan ini sangat berbahaya bagi tubuh seperti adanya campuran methanol, lotion anti nyamuk, thiner atau bahan lain yang berbahaya. Akibatnya mereka yang mengkonsumsinya akan mengalami keracunan alkohol yang sampai berakibat pada kematian.

Bahaya Miras Bagi Masyarakat

Miras, mau itu yang legal atau oplosan sama-sama minuman yang bisa merusak kesehatan manusia peminumnya. Dalam jangka pendek setelah minum miras, seseorang akan merasa mabuk yang diikuti dengan sakit kepala berat sehingga menyebabkan mual sampai muntah. Sementara dalam jangka panjang mengkonsumsi miras dapat menyebabkan gangguan kesehatan seperti sakit liver, jantung, kanker, masalah mulut dan pencernaan, sampai pada keracunan alkohol yang berujung pada kematian.

Miras juga bisa menyebabkan kecanduan luar biasa karena kandungan zat aditif di dalamnya. Apabila dikonsumsi secara kontinyu, akan memicu kerusakan saraf otak yang mengakibatkan pengkonsumsinya menjadi gampang kehilangan akal, kesetimbangan dan indera perabanya juga akan berkurang sensitivitasnya. Selain itu miras juga bisa menyebabkan perubahan perilaku dan gangguan kesehatan mental seperti frustasi dan depresi.

Selain diri sendiri, miras juga berdampak bagi masyarakat sekitarnya. Banyak kasus kecelakaan lalu lintas yang disebabkan oleh pengemudi yang mabuk. Tindakan kriminal juga banyak yang bermula dari mabuk karena miras, seperti pelecehan seksual, pemerkosaan, penganiayaan maupun pembunuhan. Jadi, jelas miras ini tidak hanya merugikan diri peminumnya, tetapi juga orang-orang di sekitarnya akan turut merasakan dampak buruknya. Lantas, masihkah Negara akan terus membiarkan dan melegalkannya?

Miras Dalam Hukum Islam

Miras atau minuman beralkohol adalah termasuk khamr, yang haram zatnya secara mutlak. Miras tidak boleh diminum, sedikit maupun banyak. Apa yang diharamkan meminumnya, diharamkan pula menjualnya dan menghadiahkannya. Berapapun kadar alkoholnya miras tetaplah haram hukumnya. Legal maupun illegal, tetap tidak akan merubah hukum miras dari haram menjadi halal. Maka meminum miras, baik illegal maupun yang dioplos tetaplah haram dan berdosa besar.

Dalam surat Al Maidah disebutkan bahwa perbuatan meminum minuman keras atau khamr adalah perbuatan syetan yang harus dihindari oleh umat muslim.

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.” (Qs Al Maidah : 90)

Nabi SAW menyifati minuman keras sebagai ‘ummul khabaits’, sumber segala kejahatan. Karena dengan meminum khamr kesadaran seseorang bisa hilang dan ia bisa melakukan kejahatan apa saja seperti merampok, berzina bahkan membunuh.

 “Hendaklah kalian menjauhi minuman keras karena ia adalah induk segala kejahatan, barangsiapa yang tidak  mau menjauhinya, sungguh ia telah durhaka kepada Allah dan RasulNya dan azab layak menimpa yang durhaka kepada Allah dan RasulNya.”(HR. Thabrani).

Beda dengan sistem kapitalis yang tidak mengindahkan halal-haramnya suatu barang, asalkan mendatangkan manfaat maka tetap akan diproduksi. Maka dalam Islam, benda yang haram hukumnya maka tidak boleh diproduksi, dijual, dikonsumsi ataupun dimanfaatkan dalam bentuk apapun.

Bahkan syariat islam tidak hanya melarang dalam mengkonsumsinya saja, namun juga yang berkaitan dengan pengadaan dan pihak yang mengadakannya. Dalam hadits Rasulullah SAW dijelaskan ada 10 golongan yang dilaknat terkait dengan khamr, yaitu orang yang (1) memeras/pembuat, (2) minta diperaskan, (3) meminum/mengkonsumsi, (4) membawakan, (5) minta dibawakan, (6) memberi minum dengannya, (7) menjual, (8) makan hasil penjualannya, (9) membeli, (10) yang dibelikan. (HR Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Hadis ini sekaligus juga menunjukkan bahwa kesepuluh pihak itu telah melakukan tindak kriminal dan layak dijatuhi sanksi sesuai ketentuan syariah. Peminum khamr, sedikit atau banyak, jika terbukti di pengadilan, akan dihukum cambuk sebanyak 40 atau 80 kali. Anas ra. menuturkan:

“Nabi Muhammad SAW pernah mencambuk peminum khamar dengan pelepah kurma dan terompah sebanyak empat puluh kali”.(HR al-Bukhari, Muslim, at-Tirmidzi dan Abu Dawud).

Ali bin Abi Thalib ra. juga menuturkan:

“Rasulullah saw. pernah mencambuk (peminum khamar) 40 kali, Abu Bakar mencambuk 40 kali, Umar mencambuk 80 kali. Masing-masing adalah sunnah. Ini adalah yang lebih aku sukai”.(HR Muslim).

Adapun pihak selain peminum khamr dikenai sanksi ta’zîr, yakni hukuman yang bentuk dan kadarnya diserahkan kepada Khalifah atau qâdhi, sesuai ketentuan syariah. Tentu sanksi itu harus memberikan efek jera.

Sungguh ironis, negara yang mayoritas muslim, diperjuangkan oleh para syuhada, justru dibanjiri dengan minuman keras. Padahal sedikitpun minuman keras tidak memberikan manfaat apapun kepada masyarakat selain keuntungan materi yang tidak ada nilainya di hadapan Allah. Inilah buah sistem demokrasi dan kapitalisme yang memang rusak. Demokrasi telah menjamin kebebasan perilaku termasuk kebebasan mengkonsumsi barang-barang haram di masyarakat. Sedangkan kapitalisme membolehkan jual-beli apa saja selama ada konsumennya, meski itu barang haram dan merusak masyarakat. Bisa kita bayangkan bahwa negeri ini pun dibangun dengan aneka pajak  yang berasal dari minuman keras, maka bagaimanakah bisa mendatangkan barakah, ketenangan dan kenyamanan hidup?

Jika umat mengharapkan kehidupan yang baik, terbebas dari ‘biang kejahatan’ khamr ini, maka hanya satu jalan, yakni kembali kepada aturan Kitabullah dan Sunnah RasulNya. Ganti aturan, budaya, dan gaya hidup dengan yang datang dari Allah, niscaya selamat dunia dan akhirat. Oleh karena itu solusi tuntas untuk memberantas miras secara total adalah dengan menerapkan aturan Islam secara kaffah dalam bingkai Daulah Islamiyah yang akan membawa rahmat bagi seluruh alam.

 ** Ibu Rumah Tangga, Tinggal Di Malang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.