Mimar Sinan dan Masjid Sultan Sulaiman

Proyek besar Masjid Sultan Sulaiman ini direncanakan akan rampung pembangunannya dalam waktu tujuh tahun. Selama lima tahun, Mimar Sinan sibuk membangun pondasi masjid besar ini. Sampai-sampai Sultan Sulaiman mengira Mimar melarikan diri dari pembangunan karena dia sangat sibuk di areal bawah tanah untuk membangun pondasi masjid. Di abad modern ini, baru ketahuan setelah digali oleh para ahli dari Jepang, bahwa model pondasi yang dibuat oleh Mimar Sinan pada Masjid ini memiliki kekuatan dinamis tahan gempa.

Pada tahun 1557, selesailah pembangunan Masjid Sultan Sulaiman, dan ini adalah sebuah masterpiece, sebuah karya yang sangat fenomenal. Sebuah masjid besar dengan interior yang luar biasa, ketinggian langit-langit di ruang dalam menunjukkan kerumitan pembangunannya, kubah-kubah yang menunjukkan perhitungan geometri yang detail, di bagian luar terdapat empat menara ramping yang menjulang setinggi 50 m, saat itu menara ini benar-benar sesuatu yang menakjubkan, tidak ada arsitek yang mampu membuat serupa dengannya. Kalau dilihat dari menara Galata, Masjid ini nampak mencolok.

Interior dengan tata akustik, pencahayaan, ornamen, aliran udara dengan teknologi yang mutakhir. Dengan bahasa sekarang, bisa kita sebut sangat Eco Friendly.

Komplek Masjid Sulaiman meliputi: masjid, rumah sakit, pemandian, perpustakaan, dapur umum, madrasah Alquran, madrasah hadis, taman kanak-kanak, dan pusara pemakaman Sultan Sulaiman. Yang biasa disebut sebagai Kulliyesi.

Hebatnya, dengan kemegahan dan kehebatan arsitektur masjid ini, Mimar Sinan masih yakin kalau ia bisa membangun bangunan yang lebih hebat lagi dari ini. Maka di Edirne setelah itu di usia 70 tahun, Mimar Sinan membuat Masjid Selimiye yang tinggi dan luasan kubahnya sanggup mengalahkan rekor Aya Sofia. Kita bahas dipostingan berikut nya.

Mengagumi Arsitektur Khilafah Utsmani

Setiap saya memasuki masjid di Istanbul ada kekaguman dari mahakarya ini, salah satu masjid yang pernah dikunjungi adalah Masjid Sulaimaniye/ Sulaimaniye Camii. Paling tidak pada aspek :

Akustik/Audio
Suara imam akan terdengar baik di penjuru ruang masjid yang sangat luas ini, mihrab dengan bahan marmer mamantulkan suara yang beresonansi namun tak menimbulkan echo. Saat digunakan dahulu, belum ditemukan pengeras suara sehingga kecanggihan pengaturan akustik secara alami memang menjadi kebutuhan. Jadi jangan coba-coba ngobrol dipojokan, sayup-sayup suara kita akan terdengar juga dipenjuru masjid.

Pencahayaan
Aneka ventilasi cahaya dengan warna-warni kaca patri, membuat interior makin mempesona, kalau menyempatkan waktu dhuha berkunjung, garis-garis sinar yang menerabas akan indah menghiasi.

Pengaturan Suhu
Jika diluar dingin, masuklah masjid ini, akan ada kehangatan di dalamnya, bahan-bahan material alami yang dipakai berpengaruh untuk membuat nyaman yang ada di dalamnya, dibeberapa shaft depan, karpet akan terasa hangat karena memang dibuat penghangat, dulu ada beberapa tungku penghangat dibawahnya. Tujuannya, agar kita nyaman beribadah. Begitu juga kalau di luar panas, di dalam akan terasa sejuk tanpa bantuan AC/Pendingin udara.

Aliran Udara
Untuk penerangan, dahulu digunakan ratusan bahkan bisa ribuan lilin. Dengan teknologi aliran udara yang dibuat, jelaga lilin-lilin ini tak mengotori dinding dan atap yang indah, karena disain aliran udara yang mengarah pada satu muara tempat ditampungnya jelaga menjadi bahan pembuat tinta terbaik.

Konstruksi
Beberapa kali gempa, masjid ini tetap berdiri. Selain kontruksi bangunan yang tersusun kuat dan rapi, ada pondasi dinamis anti gempa yang telah diterapkan ratusan tahun sebelum ahli kontruksi modern dari jepang mengali pondasi masjid ini.

Detail Seni Visual
Aksen dan ornamen kaligrafi dan floral yang rumit tersusun amat simetris namun juga indah. Membayangkan saat itu belum ada komputer grafis yang mampu meng copy paste, rotate, duplicate, undo-redo, trim, blend dan lainnya. Diantara ornamen yang bisa pasti dijumpai adalah Lafadz Allah, Rasulullah Muhammad, dan Khulafaur Rasyidin. Abu Bakar Ash Shiddiq, Umar bin Khattab, Ustman bi Affan dan Ali bin Abi Thalib sebagai para Khalifah yang menjadi teladan, sistemnya bernama Khilafah. Tentunya apa yang dilakukan dan diterapkan oleh 4 (empat) Sahabat Nabi ini sudah cukup jika ingin dijadikan sebagai landasan hukum syara’ (dalam bentuk Ijma’ Sahabat) tentang Khilafah. Kaligrafi tulisan para khalifah ini sangat pantas dipasang di soko guru masjid yang mulia ini sebagai teladan untuk kehidupan manusia.

Sumber: facebook.com/husain.assadi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.