Meretas Geliat Islam Moderat

67

Orang yang mengetahui cara hidup tetap menjaga kedudukannya agar selalu berada di tengah-tengah, tidak miring ke kanan ataupun ke kiri (Alexander Pope, 1688-1744).

 Kata ‘pertengahan’ atau ‘tengah-tengah’kini sedang naik daun.  Belum lama selang diselenggarakannya Konferensi Tingkat Tinggi (KTT)  Ulama Dunia di Bogor membahas Islam Wasathiyyah (pertengahan).   Baru- baru ini digelar lagi ajang serupa di Lombok,  Nusa Tenggara Barat.   Konferensi Ulama Internasional yang menghasilkan sejumlah rekomendasi bertajuk Lombok Message.

Nama boleh berbeda namun isi kurang lebih sama.  Kedua acara tersebut kompak mengusung Islam moderat.  Islam yang menurut mereka berjalan di tengah,  tidak ekstrem kiri maupun kanan.   Lombok Message bahkan selangkah lebih maju. Tak cukup di level wacana,  pesan Lombok juga memuat sejumlah rekomendasi untuk menerapkan moderasi dalam Islam. Hal ini digadang-gadang merupakan metode ampuh untuk menangkal terorisme dan perpecahan di tubuh umat.  Seperti yang disampaikan Sekjen Organisasi Internasional Alumni Al-Azhar (OIAA) Cabang Indonesia Mukhlis Hanafi di Islamic Centre, Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), Sabtu (28/7/2018).

“Konferensi ini merupakan bagian dari rangkaian panjang konferensi-konferensi sebelumnya yang diselenggarakan ulama Islam di berbagai dunia dalam upaya menanggulangi ekstremisme dan terorisme. Konferensi ini telah menjadikan wasathiyyah (moderasi) Islam dalam perspektif Ahlussunnah wal Jama’ah sebagai metode dalam menghadapi ekstremisme dan terorisme,” (detik.com).

Pernyataan di atas tentu mengundang tanya.  Nampak jelas dalam Islam seolah terbagi tiga golongan,  ekstrem kiri,  wasathiyyah (moderat) dan ekstrem kanan.   Parahnya lagi, moderat dicitrakan sebagai yang terbaik dan berwajah ramah.   Sementara yang lainnya kental diwarnai dengan kekerasan sehingga layak dijauhi. Padahal Islam sejatinya satu.  Datang dari Sang Khaliq  melalui Rasulullah Muhammad saw dengan kitab sucinya, Alquran karim.

Ummatan wasathan yang hakiki

Para pengusung ide moderat sering kali menjadikan surah Albaqarah ayat 143 sebagai dalil seruan mereka.   Di ayat itu  Allah swt berfirman, “Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), ummatan wasathan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu”.

Dalam kitab tafsirnya, Imam at-Thabari mengartikan makna wasath adalah udulan (umat yang adil) dan khiyar (pilihan). Makna yang sama juga diungkap oleh Imam Ibnu Katsir, yaitu umat pilihan dan  terbaik. (Ibnukatsironline. com).  Sementara Al Baghawi dalam tafsirnya, menukil dari Al-Kalbi sesungguhnya dia berkata,  “Maksud dari  ‘Umat pertengahan’ adalah: Pengikut agama yang adil antara berlebih-lebihan dalam beribadah dan teledor dalam menjalankan syariat agama, yang kedua sifat ini amat dicela dalam agama.”

Maka merujuk para ulama tafsir di atas,  wasathan berarti adil dan terbaik.   Umat yang selalu berada di pertengahan.  Selalu berjalan lurus ke tujuan.  Sebab bila tidak,  akan mengarah pada jalan yang buruk.  Yaitu berlebihan dalam beragama atau bahkan lalai menjalankan perintah agama.  Tambahan lagi  karena sifatnya yang adil, Allah menjadikan umat ini sebagai saksi atas umat-umat lain di hari kiamat kelak.

Bandingkan dengan makna moderat yang digunakan perumusnya yang asli dari Barat.  Rand Corporation,  sebuah lembaga think-thank dari Amerika Serikat adalah salah satunya.  Dalam salah satu artikelnya berjudul Building Moderate Muslims Network,  mereka mendefinisikan,  Muslim moderat adalah mereka yang (setuju) dan menyebarkan cara pandang nilai-nilai inti demokrasi. Termasuk mendukung demokrasi, dan HAM  yang diakui secara internasional (termasuk persamaan gender dan kebebasan beribadah), respek terhadap perbedaan, setuju terhadap sumber hukum yang non-sektarian dan menentang terorisme dan bentuk-bentuk kekerasan yang terlarang lainnya.” (Building Moderate Muslim Networks).

Tak dapat disangkal moderat identik dengan kompromi.  Sikap yang mengakomodir segala yang datang dari luar Islam hatta yang bertentangan sekalipun.  Dengan dalih menghindari bentrok antar umat beragama hingga yang tidak beragama.

Sungguh ironis.   Di saat gairah umat Islam untuk bangkit semakin meningkat,  ide moderat justru dikampanyekan.   Keinginan umat untuk kembali menjejak sunnah Rasulullah dan para sahabat dianggap angin lalu.  Padahal sami’na wa atho’na (kami dengar dan taat) sudah berabad jadi prinsip umat.   Semata buah dari keimanan.  Konsekuensi menggenggam aqidah Islam.

Kaffah Solusinya,  bukan Moderat!

Sesempurnanya manusia sebagai makhluk Allah tetap saja lemah dan terbatas.   Utamanya dalam menjangkau makna ayat yang diturunkan Allah.   Maka penafsiran harusnya dikembalikan pada Allah swt.   Firman Allah,  “ Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat”.  (QS Al Fatiha:6-7).

Dengan demikian berjalan di jalan yang lurus merupakan tabiat umat Islam.  Yaitu istiqomah dalam koridor syariat Allah dan RasulNya. Berpegang teguh pada AlQur’an dan AsSunnah.  Sebab tak ada keraguan di dalamnya.  Allah swt sendiri menegaskan,  “Maka patutkah aku mencari hakim selain daripada Allah, padahal Dialah yang telah menurunkan kitab (Al Quran) kepadamu dengan terperinci? Orang-orang yang telah Kami datangkan kitab kepada mereka, mereka mengetahui bahwa Al Quran itu diturunkan dari Tuhanmu dengan sebenarnya. Maka janganlah kamu sekali-kali termasuk orang yang ragu-ragu”.(QS AlAn’am:114).

Dari sini dapat dipahami bahwa moderat tak wujud dalam Islam.  Utamanya moderasi seperti yang diinginkan Barat.  Terlebih hal itu justru berisiko besar.  Kaburnya pemahaman umat hingga reduksi ajaran Islam adalah beberapa risiko di antaranya.  Pada gilirannya mudah berjangkit virus Islamphobia,  ketakutan terhadap Islam dan aturannya.

Ibarat menjaring angin bila moderasi dijadikan solusi problem umat kini.   Mulai dari konflik di tengah umat hingga islamphobia sejatinya disebabkan umat belum memahami Islam secara kaffah alias menyeluruh.  Maka memahamkan Islam dan meneguhkan ketaatan total pada syariat adalah upaya yang harusnya dilakukan.   Demi tercapainya gelar yang disematkan Allah swt,  ummatan wasathan.  Umat yang terbaik.  Sebagaimana firman Allah dalam ayat yang lain,  “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS Ali Imran :110).  Wallaahu a’lam. [Wd Deli Ana, Pemerhati masalah sosial]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.