Merdeka Zaman Now, Eksistensi Harga Mati?

73

Memasuki bulan Agustus, suasana Indonesia menyambut ulang tahun kemerdekaan berasa sangat kental. Aneka perlombaan dan bendera bertebaran menghiasi hampir seluruh tanah air Indonesia. Hampir seluruh penduduk beramai-ramai ikut memeriahkan tamu agung yang hadir setiap tahun ini. Hanya saja ritual tahunan ini akankah mampu menggambarkan eksistensi kemerdekaan sejati? Sungguh, sebuah pertanyaan yang hanya mampu dijawab dengan fakta-fakta yang ada saat ini.

Berdasarkan fakta yang ada, kemerdekaan negeri ini nyatanya masih diragukan. Setidaknya ada dua hal, pertama eksistensi kesatuan negeri. Hilangnya pengakuan sebagian warga tampaknya masih dirasakan negeri ini. Seperti yang terjadi di Papua, sehari sebelum memasuki bulan kemerdekaan mereka malah mengadakan aksi pemisahan diri dari Indonesia dengan melakukan Deklarasi Pemerintahan Sementara Negara Republik Federal Papua Barat di Abepura, Papua. Sekalipun peristiwa ini telah dibubarkan namun aksi yang terus berulang ini telah menampar telak NKRI yang dijunjung tinggi negeri ini. Hal ini menuunjukkan bahwa Indonesia telah gagal mempertahankan eksistensinya dalam negeri. Ditambah lagi, penanganan kasus ini tak serius tak ada tindakan hukum apalagi pemberangusan kelompok separatisme yang tergolong pemberontak ini menunjukkan Indonesia tak  lagi punya harga diri di hadapan warga khususnya Papua.

Kedua, eksistensi sebagai negara merdeka. Telah diketahui bersama bahwa kemerdekaan erat hubungannya dengan sikap suatu negara dengan negara lain. Negara yang merdeka harus memiliki sikap independent tak mau diatur negara lain apalagi jadi budak negara lain. Tentunya meliputi segala aspek poleksosbudhankam tak akan mengikuti arahan negara lain. Hanya saja fakta di lapangan masih saja terkesan Indonesia dalam menjalankan roda politik dan ekonominya selalu mengikuti arahan asing. Adanya utang yang dipaksakan atau program pasar bebas telah nyata-nyata berkaitan dengan hal ini. Sekalipun program titipan ini jika diprediksi akan merugikan Indonesia namun tetap saja dijalankan. Inilah sikap yang selalu diperlihatkan, tak ada wibawa yang ada sikap layaknya boneka yang mau digerakkan siapa saja.

Dari dua sisi ini, nyatanya Indonesia masih jauh dari kesan merdeka sekalipun telah diakui dunia kemerdekaannya selama 73 tahun. Oleh karena itu, Indonesia tak boleh stay dan berlarut-larut pada posisi ini. Harus ada sikap tegas untuk stop dari arahan asing yang nyata-nyata telah merugikan negeri. Tak hanya itu, dalam negeri pula eksistensi sebagai negara merdeka yang berwibawa juga harus ditampilkan. Salah satunya menampilkan wajah sebagai sebuah negara yang bersih tanpa korupsi atau dengan kata lain menghilangkan ketundukan pada hawa nafsu. Dengan begitu, siapa saja yang tinggal di negeri ini akan nyaman, tenang dan tentram tanpa terbesit pemikiran untuk lepas dari Indonesia.

Untuk ke arah sana tentunya tak hanya memerlukan pemimpin negeri yang memiliki kepercayaan diri untuk konsisten mewujudkan eksistensi negara merdeka yang hakiki. Tapi juga membutuhkan sistem yang mumpuni mampu menuntun Indonesia menuju negara yang mandiri, berkelas dan diperhitungkan di kancah internasional.  [Dian AK, Women Movement Institute]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.