Merawat Toleransi antar Ummat Beragama

64

Kasus Meliana kembali menyita perhatian publik yang berujung terbitnya peraturan yang mempersempit area azan di negeri 800.000 masjid ini. Penuturan bapak Iswandi Syahputra, dosen komunikasi UIN Sunan Kalijaga menjelaskan bahwa kasus Meliana tidak sesederhana yang viral di media social. Adanya kemarahan kaum mayoritas(muslim) tidak semata-mata karena Meliana. Namun konflik laten itu telah ada jauh sebelum itu, terbesar disebabkan oleh kombinasi arogansi minoritas dan tumpukan ketimpangan akibat keberpihakan pemda demi pemenangan pilkada.

Tidak ada asap jika tidak ada api. Begitulah sebuah kejadian berlaku sebab akibat. Di negeri Indonesia tercinta ini, kejadian demi kejadian kasus yang melibatkan konflik horizontal antar ummat beragama selalu ada. Bahkan terindikasi dipelihara. Dalam hal kasus Meliana, Kapolres AKBP Ayep Wahyu G. mengakui konflik laten berlarut-larut dibaliknya.

Kuatnya dugaan permainan konflik toleransi demi kepentingan indikasinya adalah tidak ditanggapinya 12 kali layangan surat keberatan akan permohonan pemindahan lokasi patung budha sebab linier kearah kiblat. Bukan hanya itu, demi mendulang suara calon incumbent saat itu menabrak aturan penggunaan lahan reklamasi didekat wilayah historis Kesultanan Melayu. Menjelang pilkada terbit izin mendirikan kompleks vihara mengabaikan aspirasi umat muslim mayoritas. Padahal awalnya lokasi tersebut untuk pariwisata.

Toleransi Rasa Hipokrisi

Isu toleransi begitu menghangat akhir-akhir ini. Namun kesimpulan yang terbentuk masih sama atau kurang lebih mirip. Ajaran Islam harus ‘disesuaikan’ demi toleransi. Kesimpulan yang demikian alih-alih mewujudkan toleransi umat beragama, gencarnya wacana menyesuaikan ajaran Islam demi toleransi tak ubahnya memelihara menggarami air laut. Tidak menyelesaikan apapun, sebab :

Pertama, motif kekuasaan. Berlarutnya kasus serupa bukan karena tidak pahamnya kaum mayoritas dalam penaungan kaum minoritas. Namun ketidakadilan penguasalah yang memberi ekses energi arogansi minoritas. Dan posisi sebagai ‘anak emas’ mengikis prinsip pentingnya minoritas menghormati mayoritas termasuk menista agama.

“Kalau disampaikan secara santun, saya yakin tidak akan ada masalah. Kenapa itu terjadi, tentu karena ada perasaan, intonasi dan mimik wajah merendahkan. Tentu ada yang disampaikan Meliana itu yang menyinggung perasaan,” sebut Datmi Irwan, Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) Tanjung Balai, Jumat (24/8).

Kedua, motif ideologis. Kasus toleransi hanyalah salah satu permainan framing issue Barat sarana agenda ‘penyesuaian’ ajaran Islam di alam demokrasi. Mendeskriditkan syariah Islam dengan mengopinikan ajaran Islam memiliki kesan intoleran. Selalu ada standar ganda dalam penyelesaian kasus SARA. Massifnya pemberitaan kasus intoleransi tertuduh muslim disisi lain membisu manakala perlakuan intoleransi yang diterima ummat Islam, sedikitpun tidak pernah diperjuangkan.

Pembakaran masjid Tolikara pada saat pelaksanaan sholat Idul Fitri (17/7/2015), penolakan pembangunan menara masjid Al Aqsa Sentani Papua (2018), pengabaian kasus penganiayaan ulama, statement menyudutkan “hormati yang tidak berpuasa” dan terbaru pemanggilan Kapolda NTB pada Dewi karena mengunggah video dugaan kristenisasi korban gempa Lombok menjadi bukti tak terbantahkan.

Maka kasus-kasus serupa tidak akan pernah berhenti sebab demokrasi meniscayakan cara apapun dalam mempertahankan kepentingan, termasuk melakukan tindakan intoleransi atas nama menjaga toleransi.

Teladan Toleransi

Sejak Islam diturunkan ke bumi, Islam tidak membatasi ajarannya sekedar rahmat bagi muslim saja tapi meliputi seluruh alam. Allah berfirman

Kami tidak mengutus engkau, wahai Muhammad, melainkan sebagai rahmat bagi seluruh manusia” (QS. Al Anbiya: 107)

Tata kelola kerukunan ummat dalam Islam merupakan buah oleh kesempurnaan ajaran Islam yang ditopang oleh individu, masyarakat dan negara.

Individu, Islam mengajarkan saling menghargai antar ummat manusia. Dalam perkara keyakinan, Islam menyebarkannya dengan hujjah dan keteladanan tanpa paksaan. Lakum dinukum waliyadi-untukmu agamamu dan untukku agamaku. Islam mendidik individu untuk berperilaku yang baik dan tidak saling menyakiti baik lisan maupun perbuatan.

Masyarakat, kehidupan sosial masyarakat memungkinkan membaurnya ummat Islam dengan ummat yang lain. Lingkungan dipupuk rasa tenggang rasa, saling menghargai, gotong royong dan saling tolong menolong dalam kebaikan tanpa mengaduk-aduk ranah ibadah.

Negara, benteng terluar untuk memastikan interaksi sehat dalam masyarakat. Negara memastikan setiap warga negara baik muslim maupun nonmuslim mendapat perlakuan yang setara baik hak dan kewajiban. Negara mendudukan diri sebagai hakim yang adil dalam setiap persengketaan yang ada. Hadir dalam pengayoman setiap ummat yang menjadi tanggung jawabnya bukan sekedar regulator. Sekedar menengahi sembari mengambil keuntungan.

Kerukunan umat beragama bukanlah utopis. Kisah-kisah yang dituturkan sejarawan baik muslim maupun nonmuslim membuktikan bahwa hanya Islam sajalah yang mampu mewujudkan toleransi hakiki ummat beragama. Sejarah dengan apik mendokumentasikan parade toleransi luar biasa yang dinampakkan ketika Islam diposisikan sebagai pengatur kehidupan manusia.

Maria Rosa Menocal, sarjana budaya dan sejarah abad pertengahan dan Sterling Professor of Humanities di Yale University menuturkan dalam salah satu bukunya, Surga di Andalusia; Ketika Muslim, Yahudi, dan Nasrani Hidup dalam Harmoni.

“Selama 150 tahun pemerintahan Umayyah, masyarakat Yahudi Andalusia tampak jelas mengalami kemakmuran. Di pihak lain, posisi kaum Yahudi di bawah pemerintahan Islam, dinilai dari segi apa pun, justru mengalami peningkatan seiring dengan perubahan status mereka dari kelompok yang tadinya tertindas menjadi minoritas yang dilindungi.” (hal. 94-95).

“Selain itu, beberapa orang Kristen terkemuka juga terpilih untuk mengurus kebijakan luar negeri kekhalifahan. Seorang uskup juga dipilih sebagai duta khalifah ke Istana Otto I. Uskup tersebut bertemu dengan seorang biarawati dan memberikan informasi yang akan menjadi bahan bagi paparannya yang akan terus dibaca orang tentang keajaiban Kota Cordoba.” (hal. 99-100).

Sejatinya toleransi berbanding lurus dengan kadar penerapan agama (Islam) dalam kehidupan. Adalah wajar jika konflik mempermainkan toleransi terus bergulir sebab dijauhkannya agama dari kehidupan. ‘Penyesuaian’ ajaran Islam demi demokrasi tidaklah membawa hasil apapun dalam penyelesaian konflik antar ummat beragama, yang ada memperparahnya demi mendulang suara saat suksesi kekuasaan. (Oleh : Dessy Fatmawati, S. T)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.