Menyongsong Hijrah

    Oleh S. Latifah
    Aktivis Mahasiswa dan Pemerhati Remaja

    Hijrah secara bahasa adalah berpindah dari sesuatu ke sesuatu yang lain atau meninggalkan sesuatu menuju sesuatu yang lain. Hijrah itu identik dengan perubahan. Tentunya perubahan ke arah yang lebih baik. Hijrah terjadi karena adanya kesadaran tentang perlunya perubahan dari keadaan yang sedang eksis ke keadaan baru yang ingin diwujudkan. Kesadaran itu tentu muncul karena adanya muhasabah atau intropeksi diri.

    Rasulullah SAW menganjurkan kita untuk hijrah dari meninggalkan segala apa yang dilarang oleh Allah SWT. ”Dan berbuat dosa tinggalkanlah.” (QS Al Muddatstsir [74]: 5).  Hijrah adalah satu peristiwa penting yang harus selalu melekat dalam benak kaum Muslim. Hijrah adalah perjalanan Rasulullah Saw dan para shahabat beliau ke Madinah untuk menyongsong kehidupan bernegara yang berdaulat dan berdiri sendiri serta terbebas dari penguasaan negara-negara lain. Hijrah itulah yang dijadikan sebagai awal penanggalan dalam Islam, awal munculnya sebuah umat dalam sejarah dunia yaitu umat Islam, yang dikatakan oleh Allah sebagai umat terbaik yang lahir ke dunia.

    Sekarang sudah memasuki tahun ke-1437 H di mana umat ini telah eksis di belantara kehidupan hampir satu setengah milenium. Suatu umur yang amat panjang, sehingga amat wajar jika umat ini telah melewati segala pahit-manis, susah-senang, maju-mundur sebagai umat dan peradaban, umat ini pernah melalui masa-masa gemilang yang tidak ada tandingannya dalam sejarah, menaungi kemanusiaan dengan keadilan dan kesejahteraan, sebab Islam bukan hanya rahmat bagi umat Muslim tetapi rahmat bagi seluruh alam, seluruh manusia. Bukankah Allah SWT telah berfirman, “Dan tiadalah Kami mengutus kamu melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam.” (QS Al-Anbiyaa: 107).

    Namun sayang, sekarang ini umat Muslim sedang terbelenggu oleh penguasaan negara-negara kafir. Harta mereka dikuasai, tenaga mereka dikuras, dan mereka hidup dalam kehidupan yang sempit. Semua ini disebabkan oleh umat ini telah berpaling dari mengingat Allah, mengingat aturan-aturan-Nya, dan menerapkannya dalam kehidupan seperti yang difirmankan-Nya dalam ayat 124 Surat Thaha: “Dan barang siapa berpaling dari mengingat-Ku maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit.”

    Imam Ibnul Qoyyim dalam Risalah Tabukiyah menyatakan hijrah yang hukumnya fardhu ain adalah menuju Allah dan Rasul-Nya, tidak hanya berupa jasad namun juga diikuti dengan hati. Allah berfirman, ”Maka segeralah (berlari) kembali menaati Allah.” (Adz-Dzariyaat [51]: 50). Hijrah ini meliputi dari dan menuju: Dari perbuatan syirik menuju tauhid, dari jahiliyah menuju Islamiyah, dari mungkar menuju ma’ruf, dari maksiat menuju taat. Dari kecintaan kepada selain Allah menuju kecintaan kepada-Nya, dari takut kepada selain Allah menuju takut kepada-Nya. 

    Hijrah ini merupakan tuntutan syahadat Laa ilaha illallah. Hijrah ini sangat berat. Orang yang menitinya dianggap orang yang asing. Dia meninggalkan seluruh pendapat manusia dan menjadikan Rasulullah sebagai hakim di dalam segala perkara yang diperselisihkan dalam seluruh perkara agama. Allah berfirman, ”Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak pula bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, ada bagi mereka pilihan yang lain tentang urusan mereka. Dan barang siapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguh dia telah sesat, sesat yang nyata.” (Al-Ahzab [33]: 36). 

    Pada akhirnya, hijrah adalah keberanian untuk tampil beda. Berani menolak suap ketika tradisi suap sudah membudaya. Berani menutup aurat ketika sebayanya ramai-ramai membuka aurat. Berani mengatakan yang benar, ketika yang lain justru menutup kebenaran. 

    Aktivitas perubahan harus gencar dilakukan ditengah umat ini, sebab perubahan itu tidak akan datang dengan sendirinya, tetapi harus diusahakan. Allah SWT berfirman :
    “Sungguh Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah yang ada pada diri mereka sendiri” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 11).

    Karena itu perubahan harus dilakukan bukan hanya pada tataran individu, tetapi juga pada tataran masyarakat, yakni perubahan menuju ketaatan kepada Allah SWT secara total. Ketaatan total kepada Allah SWT diwujudkan dengan penerapan syariah Islam Kaffah di dalam seluruh aspek kehidupan.

    Wallahu a’lam bi ash-showwab

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here

    This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.