Menyoal Sikap “Anti Khilafah” Kaum Liberal

(Tanggapan Atas Pernyataan Ahli Dari Pihak Pemerintah Yang Dihadirkan Pada Sidang di PTUN)

Oleh : Achmad Fathoni (Direktur el-Harokah Research Center)

     Pihak tergugat, Kemenkumham menghadirkan dua orang ahli pada sidang kali ini. Mereka adalah Dr. Zuli Qodir, M.Si, dosen tetap Universitas Muhamadiyah Yogyakarta dan Profesor Azyumardi Azra. Dr. Zuli Qodir dalam keterangan di hadapan majelis hakim menyampaikan bahwa khilafah tidak wajib. “Kalau khilafah itu wajib mestinya dinyatakan secara rinci dalam Al-Qur’an, namun nyatanya tidak ada”, ucapnya di hadapan majelis hakim. Lebih lanjut tokoh liberal ini, menyatakan surat Al Baqarah ayat 30, bukanlah perintah untuk mengangkat atau mendirikan negara, tapi artinya menggantikan. “Al Baqarah 30, bukan perintah untuk membentuk negara, negara boleh apa saja bentuknya dan nama kepala negara bisa macam-macam, presiden, raja atau apa saja”, terang Zuli Qodir di Persidangan. Ahli kedua adalah Profesor Azyumardi Azra, yang membacakan keterangannya di hadapan majelis hakim dengan judul Khilafah utopis. “Khilafah akan melakukan diskriminasi terhadap wanita, karena dalam khilafah seorang wanita tidak boleh menduduki sebagai kepala negara, hakim, dan jabatan-jabatan lainnya, tentu ini akan merubah tatanan, dan utopis”, terang Prof Azyumardi ketika menjawab pertanyaan tim pengacara (https://shautululama.com/ulama-di-ptun-kalau-orang-liberal-pantas-menolak-syariah-dan-khilafah-karena-itu-pekerjaan-mereka/)

     Dalam satu beberapa bulan terakhir polemik tentang gagasan “khilafah” yang terjadi di PTUN Jakarta antara pihak penggugat yaitu HTI dan pihak tergugat yaitu Kemenkumham semakin menghangat. Kedua belah pihak saling berargumen melalui ahli yang dihadirkan oleh masing-masing pihak. Pihak Kemenkumham menghadirkan para saksi yang dengan semangat melakukan teror terhadap ajaran Islam “Khilafah” dengan sangat tendensius. Para saksi dan Ahli dari pihak Kemenkumham, antara lain: Prof. Drs. Yudian Wahyudi, MA., Ph.D (Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta), yang menyatakan proses peralihan kekuasaan dalam Islam dari satu Khalifah ke Khalifah lain atas sebab “Perang Tanding” (http://mediaumat.news/teror-terhadap-ajaran-islam-khilafah/)

     Saksi lain dari kubu Kemenkumham adalah Politisi PSI, Muhammad Guntur Romli, yang mengatakan bahwa HTI menganut paham takfiri yakni mudah menuding umat Islam lainnya kafir (http://bergerak.org/2018/03/dusta-di-ptun.html). Saksi pada sidang sebelunya yaitu Ansyad Mbai (Mantan Ketua BNPT), yang mencoba mengaitkan antara Hizbut Tahrir dengan terorisme, mengaitkan antara ide khilafah dengan terorisme. Untuk memberikan image atau citra bahwa Hizbut Tahrir itu dekat sekali dengan terorisme, bahwa khilafah itu sangat berbahaya (http://mediaumat.news/jubir-hti-tidak-mungkin-anggota-hti-terlibat-terorisme/).

     Itulah fragmen persidangan yang ditampilkan pihak tergugat yaitu Kemenkumham, sebagai wakil pemerintah. Yang menurut pendapat penulis terdapat banyak hal yang harus dikritisi oleh publik. Dan diduga pernyataan ahli dari pihak pemerintah banyak yang bernuansa tuduhan yang tanpa dasar, tendensius, dan menyesatkan. Memang tidak bisa dipungkiri, para ahli yang dihadirkan pihak pemerintah adalah dari kelompok liberal, yang selama ini sangat “membenci” dan “menghalangi” perjuangan penegakan syari’ah dan khilafah di Indonesia. Mereka senantiasa menjadi “duri dalam daging” bagi umat Islam yang berjuang menyelamatkan negeri ini dari keterpurukan di segala bidang akibat penerapan sistem kapitalisme-sekulerisme-demokrasi yang telah menyeret negeri ini dalam krisis multi dimensional.

     Padahal sejatinya, paham sekulerisme-liberalisme sangat berbahaya bagi kaum Muslimin, ibaratnya seperti racun yang mematikan bagi tubuh kaum muslimin. Tentu saja itu bukan isapan jempol, namun telah menjadi fakta yang bisa dilihat secara kasat mata oleh publik. Sekulerisme merupakan induknya, yang telah melahirkan liberalisme yang mengagung-agungkan kebebasan tanpa batas. Liberalisme terus terus meyerang dan merusak kaum Muslimin dengan serangan pemikiran yang melumpuhkan pilar-pilar dasar dalam Islam. Dalam pemikiran liberal yang halal dianggap haram, dan haram justru dianggap halal dengan berbagai tuduhan tanpa dasar. Dalam pemikiran liberal, penghinaan terhadap Rasulullah SAW dianggap sebagai kebebasan berespresi. Namun, justru sikap pembelaan dari umat Islam terhadap kemuliaan Rasulullah SAW serta ajaran Islam yang beliau bawa dianggap radikalisme.

     Sekulerisme-liberalisme senantiasa menggunakan logika dangkal yang sangat tendensius ditujukan untuk merusak nilai-nilai Islam yang agung dan mulia, dengan tujuan menanamkan nilai-nilai Barat yang yang rusak dan menyesatkan. Yang lebih ironis, para pengekor peradaban Barat tersebut berasal dari sebagian umat Islam, yang pemikirannya telah terbaratkan. Mereka menyerang ajaran Islam “Khilafah”, dengan tuduhan membahayakan NKRI, namun mereka menutup mata dan telinga terhadap kajahatan organisasi separatis, semisal OPM dan RMS yang telah jelas-jelas melakukan makar dengan mengangkat senjata terhadap Pemerintah RI. Mereka juga tidak pernah menggugat ratusan ton narkoba yang diselundupkan ke Indonesia, yang jelas-jelas telah mengancam dan merusak moral generasi penerus negeri ini.

     Bukan hanya itu, mereka menuduh HTI melakukan takfiri (mengkafirkan orang Islam yang lain), padahal itu tuduhan keji tanpa dasar. Sementara pada saat yang sama, kaum sekuler-liberal justru mendukung “orang kafir” yang menistakan kumuliaan al-Qur’an. Bahkan, mereka berani-beraninya menuduh HTI, yang berdakwah dengan pemikiran tanpa kekerasan, dengan mengaitkan dengan tindakan terorisme. Padahal di saat yang sama, mereka menutup mata dan membisu terhadap kebiadaban dan tindakan terorisme “Real Terorism” Barat terhadap umat Islam di Afghanistan dan Irak. Mereka juga diam seribu bahasa terhadap keterlibatan Barat dalam menyokong para rezim diktator yang secara keji menumpahkan darah ratusan ribu bahkan jutaan nyawa kaum Muslimin di Syuriah, Rohingnya (Myanmar), Afrika Tengah, Kasymir (India), Muslim Moro (Filipina), Muslim Patani (Thailand), Muslim Xinjiang (China), dll.

     Padahal, Sistem Khilafah itulah yang akan menyelamatkan bangsa dan negeri ini dari problem multi dimensional akibat penerapan Sistem Sekuler-Liberal. Dan secara faktual, Barat pun telah mengakui bahwa ke depan Khilafah-lah yang akan menggantikan hegemoni negara-negara Barat terhadap dunia. Adalah NIC (National Inteligent Counsil), yang merupakan Dewan Intelijen Nasional Amerika Serikat, pada Desember 2004 telah merilis laporan dalam bentuk dokumen yang berjudul Mapping The Global Future. Dokumen ini berisikan prediksi tentang masa depan dunia tahun 2020. Dalam dokumen tersebut NIC memperkirakan bahwa ada empat hal yang akan terjadi pada tahun 2020-an yakni, (1) Dovod World: Kebangkitan Ekonomi Asia; Cina dan India akan menjadi pemain penting ekonomi dan politik dunia, (2) Pax Americana: Dunia tetap dipimpin dan dikontrol oleh Amerika Serikat, (3) A New Chaliphate : Kebangkitan Kembali Khilafah Islam, yakni Pemerintahan Global Islam yang akan mampu melawan dan menjadi tantangan nilai-nilai Barat, (4) Cyrcle of Fear: Muncul lingkaran ketakutan (phobia), yaitu ancaman terorisme dihadapi dengan cara kekerasan dan akan terjadi kekacauan di dunia. Dari dokumen tersebut jelas sekali bahwa negara-negara Barat meyakini bahwa Khilafah Islam akan bangkit kembali. Menurut mereka, Khilafah Islam tersebut akan mampu menghadapi hegemoni nilai-nilai peradaban Barat yang kapitalistik dan sekularistik.

     Terlebih dalam sejarahnya Khilafah telah berhasil menyatukan berbagai agama dan bangsa dalam satu kesatuan institusi negara, yang telah melindungi mereka dan menyejahterakan semua umat manusia. Data historis menjelaskan bahwa Kekhilafahan Utsmaniyah sebenarnya sangat heterogen dalam agama, bahasa, dan struktus sosial. Karena keyakinan sultan dan penguasa elite, Islam menjadi agama yang dominan. Namun, gereja Yunani dan Orthodok Armenia tetap memegang peran penting dalam struktur politik Kerajaan (baca: Kekhilafahan) dan mengatur populasi Kristen yang besar. Bahkan, melebihi jumlah Muslim di banyak daerah. Selain itu, ada Yahudi Utsmaniyah dengan populasi yang substansial. Colin Imber dalam The Ottoman Empire, 1300-1650 mengatakan, setelah bangsa Yahudi diusir dari Spanyol pada 1492 M, mereka bermukin di Thessaloniki dan membuat kota ini sebagai polulasi Yahudi terbesar di dunia. “Di luar kelompok-kelompok utama ini, terdapat sejumlah besar komunitas Kristen, seperti Maronit, dan Druz, dari Lebanon,” tulisnya (http://khazanah.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/18/03/p50gmy282-islam-kristen-yahudi-hidup-damai-di-kerajaan-utsmani).

     Dengan demikian, jelaslah siapa yang sebenarnya membahayakan negeri dan bangsa ini. Untuk itu semua komponen bangsa ini harus bersikap objektif terhadap ide Khilafah. Tuduhan keji terhadap Khilafah dan pengembannya, semuanya tertolak secara paradigmatis, empiris, maupun historis. Maka, umat Islam dan seluruh komponen bangsa ini sudah selayaknya menolak keras propaganda negatif kaum liberal tersebut dan sebaliknya menerima ide khilafah secara terbuka serta berbesar hati untuk kejayaan negeri ini di masa mendatang. Wallahu a’lam.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.