Menyoal Kewajiban Berjilbab

18

Oleh: Dewi Sartika (Pemerhati Umat)

Kewajiban berjilbab bagi muslimah kembali dipersoalkan. Hal ini bermula dari pernyataan Sinta Nuriyah istri mendiang Gus Dur. Dia menyatakan, jilbab itu tidak wajib bagi muslimah, yang dijelaskan dalam channel YouTube Deddy Corbuzier. Dia mengatakan ada perbedaan antara hijab dan jilbab. Menurutnya, hijab adalah pembatas dari bahan-bahan yang keras seperti kayu, sedangkan jilbab adalah bahan-bahan yang tipis seperti kain untuk menutup (tempo 15 Januari 2020)

Sinta Nuriyah juga mengatakan, kewajiban berjilbab tidak ada di dalam Al-qur’an. Tentunya pernyataan ini bertentangan dengan apa yang telah disyariatkan oleh Allah. Namun, bagi kaum liberal pengusung kebebasan ini menjadi angin segar. Karena menurut mereka berjilbab dapat menghalangi aktivitasnya.

Untuk menentukan hukum suatu perbuatan apakah itu wajib atau tidak, tentunya tidak sembarangan dalam menafsirkannya. Sumber yang digunakan haruslah yang pasti/ kuat yang berasal dari nash syara’ alquran dan as-sunnah. Bukan dari seseorang yang memiliki minim ilmu atau merujuk dari praktik orang-orang terdahulu atau tokoh-tokoh tertentu karena yang demikian adalah sandaran hukum yang lemah

Jadi, penting bagi kita untuk bertanya kepada orang-orang yang memiliki ilmu seperti para ulama salafus Sholeh yang ketika  memberikan penjelasan berdasarkan dalil yang kuat, bukan bersandar pada hawa nafsu apalagi kepentingan dunia.

Mengenai istilah jilbab, banyak terjadi kesalahan pemahaman di tengah-tengah masyarakat, khususnya muslimah. Masih banyak di tengah-tengah masyarakat yang mengartikan jilbab sebagai kerudung. Tentunya pemahaman ini tidak tepat karena berbeda antara kerudung dengan jilbab. Jadi, perlu penjelasan yang terinci tentang hal ini agar tidak ada lagi kesalahan mengenai jilbab di tengah-tengah masyarakat.

Pengertian jilbab dan khimar

Jilbab secara bahasa berasal dari kata Al jalb yang artinya menjulurkan/ sesuatu dari suatu tempat ke tempat lain.

Secara spesifik jilbab adalah pakaian yang lebih lebar dari himar, yang selain rida/ selendang yang dipakai oleh wanita untuk menutupi kepalanya dan dada.

Di dalam Kamus Al-Muhith dinyatakan, jilbab itu seperti sirdab (terowongan) atau sinmar (lorong), yakni baju atau pakaian longgar bagi wanita selain baju kurung atau kain apa saja yang dapat menutup pakaian kesehariannya seperti halnya baju kurung. Dalam Kamus Ash-Shahhah, al-Jauhari mengatakan, “Jilbab adalah kain panjang dan longgar (milhafah) yang sering disebut dengan mula’ah (baju kurung/gamis).”

Sedangkan himar/ kerudung secara bahasa adalah menutup. Menurut istilah khimar adalah kerudung yang dipakai untuk menutupi kepala sampai bagian dada. Perintah memakai khimar berdasarkan firman Allah dalam surat an-nur ayat 31. ?

 Menurut Imam Ibnu Mandzur di dalam kitab Lisan al-‘Arab: Al-Khimar li al-mar’ah: an-nashif (khimar bagi perempuan adalah an-nashif [penutup kepala]). Menurut Imam Ali ash-Shabuni, khimar (kerudung) adalah ghitha’ ar-ra’si ‘ala shudur (penutup kepala hingga mencapai dada) agar leher dan dadanya tidak tampak.

Kewajiban berjilbab dan khimar

Di dalam Islam ada kewajiban menutup aurat bagi pria maupun wanita. Aurat pria menurut Muhammad bin ahmad asy-Syasyiy antara pusat dan lutut. Adapun aurat wanita adalah seluruh badan kecuali muka dan kedua telapak tangan.

Kewajiban menutup aurat bagi wanita adalah memakai jilbab dan khimar. Berjilbab sebagaimana yang ditetapkan berdasarkan firman Allah dalam surah al-ahzab ayat 59.

Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri kaum Mukmin, “Hendaklah mereka mengulurkan jilbab mereka ke seluruh tubuh mereka…” (TQS al-Ahzab [33]: 59).

Kewajiban berjilbab bagi Muslimah ini juga diperkuat oleh riwayat Ummu ‘Athiyyah yang berkata: Pada dua hari raya kami diperintahkan untuk mengeluarkan wanita-wanita haid dan gadis-gadis pingitan untuk menghadiri jamaah kaum Muslim dan doa mereka. Namun, wanita-wanita haid harus menjauhi tempat shalat mereka. Seorang wanita bertanya, “Wahai Rasulullah, seorang wanita di antara kami tidak memiliki jilbab (bolehkan dia keluar)?” Lalu Rasul saw. bersabda, “Hendaklah kawannya meminjamkan jilbabnya untuk dipakai wanita tersebut.” (HR al-Bukhari dan Muslim)

ini berarti bahawa wanita yang tidak memiliki atau tidak memakai jilbab haram hukumnya untuk keluar rumah.

Sedangkan kewajiban himar. Berdasarkan firman Allah dalam surat an-nur ayat 31. “katakanlah kepada wanita yang beriman hendaklah mereka menahan pandangannya dan kemaluannya dan janganlah mereka menampakan pesannya kecuali yang biasa tampak daripadanya. Hendaklah mereka menjulurkan himar nya ke dadanya…”

Perintah berjilbab dan khimar diturunkan sejak masa Rasulullah. Jadi aneh jika saat ini ada segelintir orang ingin merubah syariat Islam dan menjauhkan muslimah dari makna jilbab yang sebenarnya.

Siapa yang berkata tentang Kitabullah tanpa ilmu, siapkanlah tempat duduknya dari api neraka. (HR at-Tirmidzi).  Wallahu A’lam Bishawab

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.