Menyoal  Bedebahnya Ashabiyah

96

 Oleh : Dewi nasjag

Adalah  Indonesia  ia disebut-sebut sebagai sebuah negara bependuduk muslim terbanyak di dunia. Mayoritas penduduk beragamakan  Islam yang lengkap  dengan berbagai varian golongan   namun sayang  keberagaman golongan yang harusnya dimaknai sebagai sebuah keberkahan dari  Allah   itu  telah tercemari dengan nuansa pekat fanatisme/ashabiyah

“NKRI harga mati”, “Kalau gak terima silakan hengkang  ke Arab sana” ,”Ini bumi NU selain NU semua salah!” adalah beberapa contoh jargon/semboyan  yang  banyak bertebaran di sekeliling kita. Jargon tersebut  mewakili  gambaran kondisi  umat pengidap fanatisme /ashabiyah. Jargon /semboyan beserta pernyataan turunannya kian hari  kian beranak-pinak  melahirkan berbagai konflik di tengah masyarakat.

Seperti yang terjadi pada Pernyataan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH. Said Aqil Siradj, ketika ia memberi sambutan di harlah Muslimat NU ke 73 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, dalam orasinya terdapat kalimat  bernuansa ashabiyah.  Di acara yang juga dihadiri oleh Presiden dan Ibu Negara beserta beberapa orang Menteri, juga tokoh-tokoh lain, ia menyampaikan bahwa masyarakat NU harus berperan di berbagai bidang, salah satunya bidang keagamaan.

“Berperan di tengah masyarakat. Peran agama. Harus kita pegang. Imam masjid, khatib, KUA (kantor urusan agama), harus dari NU. Kalau dipegang selain NU, salah semua,” tutur Said lalu tertawa kecil yang diikuti hadirin yang mendengar. (CNN Indonesia 27/1/2019).  Dalam kalimatnya seolah beliau ingin mengatakan harakah di luar NU semuanya salah. hanya NU yang boleh mengurus masalah keagamaan ditengah masyarakat. Sila bayangkan dari mulai imam masjid, khatib, KUA harus orang NU. Apakah ini bentuk kesombongan ataupun bentuk serakah akan jabatan?! 😆

Tak pelak, bak api menyambar kayu polemik mencuat, huru hara  meyeruak.  Kalimat ashabiyah itu  menyakiti hati dan perasaan umat Islam di luar harakah NU.  Kritik demi kritik baik dari para tokoh ataupun dari kalangan masyarakat  meluncur bak bola salju.  Mereka menuntut untuk segera  menarik ucapan dan  meminta maaf namun Said Aqil Siradj menolak. Apalagi  meminta maaf.  Ia merasa tidak ada yang salah dengan apa yang disampaikannya saat itu.  “Sekjen majelis ulama meminta saya mencabut ungkapan saya kemarin, saya atau NU bukan bawahan ulama, tidak ada hak mereka perintah-perintah saya,” kata Said lantang saat membuka acara Rakornas Lembaga Dakwah Nahdahtul Ulama (LDNU) se-Indonesia di Auditorium Binakarna, Hotel Bidakara, Jakarta Selatan, Senin (28/1). Lebih jauh dia mengaku tidak takut kepada siapapun.

 Ashobiyah: alat pemecah belah, pencipta Masalah

 Sungguh Ashobiyah atau fanatisme golongan atau kesukuan adalah prilaku yang dibenci oleh Allah dan Rasul-Nya.  Nabi Saw bersabda :  “Adakah kalian menyeru  dengan seruan jahiliyah, sedang aku berada di tengah-tengah kalian ?! …Tinggalkan itu, karena ia adalah sesuatu yang busuk!” (HR. Bukhari no. 4525).  Beliau menyampaikan dengan nada marah di suatu saat tatkala sebagian shahabat saling menyeru pada masing-masing kelompoknya (Anshor dan Muhajirin) dalam suatu perselisihan.

Allah ta’ala berfirman:

“Dan janganlah kalian termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah (kaum musyrikin), yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka”[TQS. ar-Rum/30: 31-32].

Ashobiyah selain diharamkan,  juga sangatlah membahayakan  umat muslim yang sejatinya satu tubuh.  Mereka akan tersekat terpecah-belah  karena saling membela kelompoknya,  saling hujat, saling berkilah dan berlomba, dengan  dalih dan klaim kebenaran ada di pihaknya.

“Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kalian saling berbantah-bantahan, yang akan menyebabkan kalian lemah dan hilangnya kekuatan kalian dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar” [TQS. Al-Anfal/ 8: 46].

Ketika masing-masing mereka menganggap bahwa dirinyalah yang terbaik dan paling benar, maka tertutup mata dari kesalahan sendiri. Dan menyangka bahwa merekalah yang paling berhak menerangkan berbagai perkara agama.  Akhirnya, umat ini terkotak-kotak (banyak firqoh).  Perilaku dan perbuatan  itulah yang  menyeret kepada kerusakan, perselisihan dan ketercerai-beraian.  Akibatnya, melemahkan kekuatan kaum muslimin dan akhirnya mudah terjajah kafir-imprealis yang selalu mencari celah perpecahan di antara umat.

Berkelompok karena Allah: memusnahkan Ashabiyah   

Kalau Rasulullah Saw saja sangat marah kepada para shahabat yang saling membanggakan ke”Anshor”an atau ke”Muhajirin”an  mereka, tentu lebih lagi kepada seruan atau jargon yang lebih hina daripada kedua istilah di atas.  Karena tidak khilafi bahwa Allah Swt telah memuliakan golongan Anshor dan Muhajirin.   Firman Allah Swt :

“ (Juga) bagi para fakir Muhajirin yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allahdan keridloan(Nya) dan mereka menolong Allah dan Rasul-Nya.  Mereka itulah orang-orang yang benar” (TQS. Al-Hasyr : 8).

Demikian juga terhadap kaum Anshor , Allah pun memuji mereka sebagai orang-orang yang beruntung karena kecintaan mereka dan mengutamakan saudaranya, kaum Muhajirin.(QS. Al-Hasyr: 9 ).  Tapi sikap fanatik terhadap golongan sendiri dan menganggap rendah kelompok lain telah membuat mereka berselisih dan saling hujat. Inilah yang dilarang.

Islam tidak melarang kaum muslimin berjamaah atau berkelompok tapi untuk menjadi “wasilah” atau alat agar dia bisa mencapai tujuan-tujuan mulia yang sesuai Islam.  Allah telah memerintahkan Kaum muslimin berkelompok dalam firman-Nya:

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada Al-khair (Islam), menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (TQS. Ali Imran : 104).

Maka sudah seharusnya, setiap kelompok menyadari apa yang mendorong mereka berjalan bersama mestilah demi dan semata-mata untuk memuliakan agama-Nya, dan memuliakan saudaranya juga menjadi kewajiban dari Syara’ yang tak boleh dilupakan.  Meskipun begitu banyak khilafiyah di kalangan kaum muslimin, jangan sampai membuat dia mengklaim kebenaran hanya milik mereka. Berhati-hatilah dengan tipu daya syaitan yang begitu “halus” melalui sikap sombong dan jumawa di hadapan saudara seimannya.  FirmanNya:

“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian kepada Islam secara kaffah (menyeluruh), dan janganlah kalian mengikuti jejak-jejak syaithan karena sesungguhnya syaithan adalah musuh besar bagi kalian.” [TQS. Al-Baqarah : 208]

Semua keterpecahan di tengah umat, baik sekedar kelompok bahkan sekat negara yang banyak di seluruh dunia, tak lain karena Islam tak diterapkan secara kaffah. Sehingga para kafir –imprealis dan anteknya bisa “anteng bekerja” untuk mencegah dan mengusik persatuan umat.  Tak ada cara lain, umat harus segera disadarkan pentingnya bersatu karena Allah. Berkelompok harusnya untuk mencapai tujuan yang besar yaitu :  agar kaum muslimin  bisa berIslam secara total dengan menerapkan semua aturanNya, dengan bingkai Khilafah. Agar manusia bisa mengatur seluruh urusan kehidupannya, bahkan akan menjadi rahmat bagi seluruh alam, tak hanya untuk muslim. Sebagaimana firman Allah:   “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” [TQS. Al-Anbiya 107]. Wallahu’alam []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.