Menyikapi Harga Transportasi yang Menyakitkan

Oleh: Hamsia (ibu rumah tangga)

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi meminta seluruh jajaran direksi maskapai nasional untuk menurunkan harga tiket penerbangan rute domestik beberapa hari ini dinilai Budi Karya Sumadi sudah relatif mahal.

Atas kenaikan harga tiket pesawat yang tidak wajar tersebut, Budi Karya Sumadi pun memanggil seluruh direktur utama maskapai nasional ke kantornya, untuk meminta penjelasan secara detail.

 Mantan Direkur Utama PT Angkasa Pura II itu menjelaskan, dalam penentuan harga tiket pesawat, pemerintah telah mengatur tarif  batas atas dan bawah, dimana kenaikan harga tiket saat ini memang belum mencapai batas atas.

Serambinews.com, fenomena baru di Aceh mulai menghebohkan sejak ramainya perbandingan harga tiket penerbangan domestik Banda Aceh-Medan-Jakarta atau Banda Aceh  langsung ke Jakarta,dengan penerbangan melalui jalur Internasional (Banda Aceh – Kuala Lumpur-Jakarta.

Harga tiket domestik Banda Aceh-Jakarta mencapai Rp 3 juta, sedangkan harga tiket Banda Aceh-Jakarta via Kuala Lumpur tidak sampai Rp 1 juta.

Meroketnya harga tiket pesawat dengan rute domestic membuat sebagian orang menjerit. Pasalnya, harga tiket domestik dianggap lebih mahal ketimbang ke luar negeri (Tribunnews.com, 14/01/2018). Menurut ketua umum INACA, I Gusti Ngurah Ashkara Danadiputra, kenaikan harga tiket pesawat itu ditengarai oleh beberapa faktor.

Pria yang akrab  disapa Ari ini menjelaskan, salah satu faktornya karena memasuki peak season natal dan tahun baru 2019. Menurutnya, memang triggernya karena peak season. Tapi, margin memang dikarenakan adanya kenaikan variable-variabel, avtur, kemudian kurs dan pinjaman. Karena semua airline ada utang segala macam.

Ari mengklaim sejak 2016 harga pesawat tak pernah naik. Namun biaya operasional penerbangan terus meningkat. Dari 2016-2018 kurs sudah melemah lebih dari 170 persen. Labour itu untuk 1-3 bulan sudah naik 350 persen

.

Menurut dia, dimasa peak season pun para maskapai tak pernah menaikkan harga melebihi tarif batas atas yang ditentukan pemerintah. Atas  dasar itu, dimasa natal dan tahun baru 2019 ini kenaikan harga tiket pesawat masih dalam batas yag wajar.

Mengenai harga tiket perjalanan ke luar negeri yang lebih murah ketimbang  penerbangan domestik, disebabkan karena pajak yang dikenakan oleh pemerintah.

Di dalam negeri kena pajak pertambangan nilai (PPN), diluar negeri tidak di kena PPN. Penyebab lainnya adalah tingkat frekuensi penerbangan. Frekuensi penerbangan di luar negeri tertinggi sehingga maskapai melakukan peran harga.

Selain kenaikkan harga tiket pesawat, masyarakat di buat sangat resah dengan kenaikan tarif tol yang sangat fantastis. kenaikan tertinggi yaitu dari Rp 1.500 menjadi Rp 12.000 dengan kenaikan sebesar 8 kali lipat atau 800%. Kenaikan tersebut pun dilakukan secara tertutup dengan dalih pemindahan Gerbang Tol (GT) dari Cikarang utama ke GT Cikampek dan GT Kalihurip utama, untuk mencegah kemacetan. Namun kebijakan tersebut justru memunculkan kemacetan yang sangat parah di GT sampai berjam-jam.

Kenaikan tarif tol dan tiket pesawat terjadi karena sistem kapitalisme yang menjadikan patokan pola pikir mereka adalah materi alias keuntungan yang sebesar-besarnya, dan pemerintah seakan menutup mata dengan penderitaan yang di rasakan oleh masyarakat. Bagi pemerintah yang sangat penting adalah pemilik modal yaitu tidak lain dan tidak bukan adalah negara-negara Barat yaitu orang-orang asing yang ingin menguasai Indonesia.di sisi lain banyaknya utang Indonesia, sehingga pendapatan tol Rp 30 M,  untuk membayar bunga utang Rp 53 M.

Di sinyalir dari indonesiainside.id, Direktur utama Jasamarga Semarang Batang (JSB) Arie Irianto mengatakan pemasukan yang diperoleh dari kendaraan yang masuk berkisar Rp 1 miliar. Jika dikalkulasi Rp 30 miliar pe bulannya.

Namun, yang menjadi catatan adalah adanya kewajiban pembayaran bunga pinjaman yang digunakan untuk pembangunan tol sebesar Rp 157 miliar per tiga bulan. Sama saja dengan membayar Rp 52 miliar bunga pinjaman per bulannya. “itu baru bunganya belum pokoknya. Kalau total pokoknya Rp 7 triliun,” ungkap Arie

Sikap pemerintah seperti ini, bukan hanya menambah masalah bagi masyarakat luas, melainkan juga menimbulkan ketidak percayaan publik terhadap pemerintahan yang mereka jalankan. Bahkan seolah pemerintah hanya peduli kepada pemilik modal saja.

Sejatinya, kenaikan tiket pesawat  dan tarif tol, terjadi karena negara berlepas tangan dari kewajibannya menyediakan transportasi yang memadai. Dalam sistem kapitalis negara hanya berupa fasilitator dan operatornya adalah asing/ swasta. Hal ini membuktikan bahwa penguasa tidak bertanggung jawab dalam meri’ayah rakyatnya. Rakyat tidak lagi diuntungkan, tetapi justru dirugikan dengan kebijakan-kebijakan yang ada.

Di dalam Islam, infrastruktur termasuk ke dalam kepemilikan umum. Negara bukanlah pemilik, akan tetapi hanya bertugas sebagai pengelola mewakili umat. firman Allah: “ yang kepunyaan-Nya lah kerajaan langit dan bumi.” (Q. S. Al Furqon :2)

Sistem pondasi ekonomi Islam menempatkan Allah sebagai pencipta dan pemilik seuruh alam.sehingga dalam pengelolaannya haruslah berdasarkan pada aturannya. Yakni tujuan pengelolaan tersebut untuk kemaslahatan umat. “kaum muslim berserikat dalam tiga hal; air, padang, rumput, dan api, dan harganya haram.” ( HR. Imam Ibnu Majah)

Seyongianya hadits ini menunjukan bahwa infrastruktur adalah layanan publik yang disediakan negara untuk kemudahan akses transportasi dalam mengangkut produksi maupun penumpang, selayaknya dalam penggunaannya gartis tanpa bayar.

Sudah saatnya kita beralih pada sistem yang benar, yaitu menjadikan Islam sebagai landasan dalam kehidupan secara kaffah. Tidak hanya urusan ibadah, akan tetapi juga dalam segala aspek kehidupan. Wallahu a’lam bi as-showab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.