Menyelesaikan Persoalan Karhutla

28

Oleh : Ruli Agustina (Aktivis Muslim)

Kabut asap tengah menyelimuti provinsi Riau yang terletak di bagian tengah pulau Sumatera Indonesia. Salah satu provinsi terkaya di Indonesia yang merupakan penghasil minyak bumi dan kelapa sawit. Tebalnya kabut asap disebabkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi. Tak hanya di wilayah Sumatera, karhutla juga terjadi di beberapa titik di Kalimantan. Bencana ini hampir terjadi setiap tahunnya yang berdampak besar terhadap kehidupan masyarakat.  Setidaknya terdapat ribuan orang yang menderita infeksi saluran pernafasan akut  (ISPA) akibat kebakaran hutan di Sumatera dan Kalimantan.

Hal tersebut diketahui berdasarkan data Posko Satgas Siaga Darurat Kebakaran Hutan dan lahan (karhutla) Wilayah Kalimantan Tengah, pada Senin 16 September. “Data Posko Satgas Siaga Darurat Karhutla Wilayah Kalimantan Tengah pada Senin 16 September 2019 mencatat lebih dari 2.000 penderita ISPA,” kata Agus dalam keterangannya, Selasa (17/9/2019). (Liputan6.com)

Belum lagi habitat satwa yang ikut terlalap si jago merah karena hutan tempat tinggal mereka terbakar. Tidak sampai disitu kita juga dihebohkan dengan berita seorang kakek yang meninggal dunia setelah berusaha memadamkan api yang membakar perkebunannya.

 Kakek Mulyoto (69), warga Desa Lintas Utara, Kecamatan Kerintang, Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), Riau, ditemukan tewas di ladangnya. Korban tewas terbakar api yang membakar lahan perkebunannya.
(12/9/2019). (detik.com)

Lalau sebenarnya apa penyebab dari bencana ini?

Setelah meninjau kebakaran hutan dan lahan di Riau ternyata tidak terlihat lahan sawit dan tanaman industri ikut terbakar. Kalaupun ada, hanya dipinggir. “Ini menunjukkan adanya praktik ‘land clearing’ dengan [cara] mudah dan murah memanfaatkan musim kemarau,” ujar Tito terkait dugaan kuat kebakaran akibat ulah manusia dalam siaran pers BNPB.  Mereka juga menyegel 42 perusahaan yang diduga menjadi otak di balik pembakaran hutan dan lahan. 

Ternyata dibalik karhutla ada tangan-tangan kejam dan serakah yang sengaja melakukan ini. Kondisi perekonomian kapitalislah yang pada tabiatnya menginginkan keuntungan besar menjadi factor kerusakan lingkungan. Belum lagi pengolahan hutan dan lahan dari segi kepemilikan yang seharusnya menjadi kepemilikan umum dan dikelola oleh Negara beralih kepada kepemilikan individu, swasta atau perusahaan. Sedangkan pemerintah terkesan berpihak kepada para pengusaha dengan membebaskan mereka menguasai hutan dan memberikan izin untuk membakar  hutan sesuka mereka, kalaupun pemerintah menindak orang-orang yang melakukan pembakaran tersebut bisa dipastikan permasalahn ini akan tetap terus berlangsung. Artinya sanksi yang deberlakukan tidak mampu membuat para pelaku jera. Terbukti bencana ini terus terjadi setiap tahunnya. Karena tidak diselesaikan sampai pada akar permasalahannya.

Bagaimana Islam menyelesaikan persoalan karhutla

Seharusnya pemerintah mengatasi persoalan ini dengan merujuk kepada aturan islam bagaimana islam menyelesaikannya. Pertama yang harus dilakukan adalah mengembalikan pengolahan kepemilikan hutan dan lahan. Islam memiliki beberapa ketentuan dalam pengelolahan hutan dan lahan, diantaranya hutan termasuk dalam kepemilikan umum, bukan kepemilikan individu atau Negara. Ketentuan ini didasarkan pada hadist rasulullah.

“kaum muslimin berserikat dalam tiga hal: dalam air, padang rumput (gembalaan), dan api.” (HR. Abu Dawud, Ahmad, Ibnu Majah)

Maka pengelolahan hutan hanya dilakukan oleh Negara saja, bukan oleh pihak swasta. Selain itu, negara wajib melakukan pengawasan terhadap pengelolaan hutan. Dalam kekhilafaan dan pemerintahan Islam ada Muhtasib (Qadhi Hisbah) yang bertugas untuk menjaga terpeliharannya hak-hak masyarakat secara umum (termasuk pengelolaan hutan).  Bersama aparat kepolisian (syurthah) dibawah wewenangnya dapat melakukan persidangan secara langsung dan menjatuhkan vonis dilapangan. Sedangkan dalam hal sanksi atau hukum Negara berhak menjatuhkan sanksi ta’zir yang tegas. Ta’zir sendiri bisa berupa denda, cambuk, penjara, bahkan sampai hukuman mati, tergantung tingkat bahaya dan kerugian yang ditimbulkan.

Bukan tidak mungkin jika peraturan ini diterapkan bencana karhutla tidak lagi menjadi bencana musiman yang kita rasakan setiap tahunnya. Sebagaimana Allah turunkan setiap  peraturan dalam hidup ini adalah untuk kebaikan manusia dan menjadi rahmat bagi seluruh alam.

Waallahu ‘alam bi showab

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.