Menuntut Sikap Tegas Penguasa Negeri Muslim Terhadap Kasus Uighur

54

Oleh Tuti Daryanti (Mahasiswa STKIP Kusuma Negara)

Kebangkitan Islam selalu menjadi momok yang menakutkan bagi ideologi-ideologi selain islam. Mereka terus berupaya memperlambat kebangkitan umat islam dengan berbagai cara entah itu dengan perang pemikiran maupun dengan serangan fisik. Umat islam terus dipapar oleh pemikiran-pemikiran selain islam melalui food, fun dan fashion yang tak jarang menjadikan umat islam terutama generasi muda menjadi menjauh dari ajaran islam. Serangan fisikpun tak kalah masif dilakukan barat, timur tengah menjadi sasaran utama dalam serangan fisik ini. Sementara umat islam yang menjadi minoritas seringkali didzalimi, diperlakukan tidak adil, dan dipaksa menggadaikan akidahnya demi penghidupan yang layak seperti muslim Rohingya di Myanmar dan muslim Uighur di China.

Muslim etnis Uighur sudah lama mengalami perlakuan yang tidak adil dari pemerintahan China. Lebih dari 1 juta Muslim Uighur terkunci di kamp-kamp “pendidikan ulang” (re-education) yang mengerikan di mana mereka dipaksa untuk melupakan identitas mereka dan diharuskan mencela Islam. Negara yang seharusnya mengurusi warganya tapi malah melakukan perbuatan-perbuatan keji untuk memusnahkan Islam. Provinsi Xianjing menjadi penjara terbuka  bagi muslim Uighur. Berbagai kebijakan pemerintah China menjadikan muslim Uighur semakin terjepit.

Otoritas di China melarang kelompok minoritas Uighur Muslim Uighur mengenakan jilbab atau memelihara janggut yang merupakan syariat islam. Hal ini disebut sebagai sebuah kampanye melawan kelompok ekstrim Islam. Pemerintah China juga mengumpulkan seluruh sampel DNA penduduk di wilayah barat, Xinjiang. Pihak berwenang mengumpulkan basis data berupa iris mata dan golongan darah dari semua warga yang berusia 12 tahun hingga 65 tahun di Xinjiang. Direktur Lembaga Pengawas HAM di China, Sophie Richardson mengatakan pendataan yang bersifat perintah bagi seluruh populasi dengan menggunakan DNA masuk dalam kategori pelanggaran berat terhadap norma HAM internasional. Bukan hanya itu saja bahkan sejak tahun 2016 pemerintah China melarang muslim Uighur melaksanakan puasa pada bulan Ramadhan. Padahal ramdhan merupakan bulan yang sangat ditunggu-tunggu oleh umat islam. Muslim Uighur juga sering kali mendapatkan penganiayaan oleh pemerintah China. Perempuan Muslim dipaksa menikahi suku Han China. Bahkan perempuan Uighur mendaptkan perlakuan yang tidak kalah pilu, mereka diperkosa dan dipaksa untuk mengaborsi.

Selain diserang aqidahnya muslim Uighur juga diperlakukan tidak adil dalam bidang ekonomi, dimana ada diskriminasi dalam perekrutan pekerja, sehingga muslim Uighur hidup dalam kemiskinan.  Muslim Uighur juga diawasi secara ketat oleh pemerintah China. Kamera pengenalan wajah di mana-mana, kode QR telah dipasang di luar rumah serta di dalam peralatan dapur milik Muslim Uighur. Perempuan Muslim dipaksa menikahi suku Han China. Tahanan Uighur yang tidak bersalah dibunuh untuk sebagaian diambil organnya, dan daftar itu terus meningkat, membuat kawasan itu terasa seperti penjara terbuka.

Jeritan dan tangisan muslim Uighur meminta pertolongan dan menuntut keadilan kepada pemerintah hanya akan menambah penganiayaan yang lebih kejam yang akan mereka dapat. Mereka berjuang sendiri melawan kekejaman. Pengharapan mereka tentu lebih kepada muslim yang lain. Semua umat islam tentu pilu terhadap berbagai kekerasan yang menimpa umat islam. Begitupun umat Islam di Indonesia mengecam keras terhadap persoalan tersebut. Tapi tidak mudah untuk membantu saudara muslim lainnya karena batasan negara, yang mengharuskan kita menghormati kedaulatan negara lain.

Para pemimpin negeri muslim pun seolah diam menutup mata terhadap berbagai tindakan yang dilakukan pemerintah China tersebut. Bahkan Indonesia yang merupakan negara dengan mayoritas penduduk islam pun tidak mampu berbuat banyak, malah cenderung berhati-hati menanggapi isu pelanggaran kemanusiaan terhadap muslim Uighur ini. Seharusnya Indonesia menjadi garda terdepan dalam mengkritisi dan membantu muslim Uighur dan hubungan baik antara Indonesia dan China bisa dijadikan upaya persuasif untuk menyelesaikan persoalan tersebut. Namun sayangnya hubungan baik tersebut malah menjadikan Indonesia seolah tidak peduli dan lebih mementingkan kerjasamanya dengan Tiongkok.

Nation State menjadikan muslim diseluruh dunia menjadi terkotak-kotak, dibatasi oleh sekat-sekat kenegaraan yang menjadikan umat islam kesulitan dalam membantu umat Islam yang lain yang mengalami penindasan. Hal ini tentu akan berbeda ketika umat islam dalam satu kekusaan. Berbagai masalah akan diselesaikan dengan mudah di bawah kepemimpinan khalifah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.