Menjadi Ibu Betulan Bukan Kebetulan

63

Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (QS. Luqman : 14)

Tidak bisa dipungkiri sosok Ibu adalah panutan utama bagi anak-anaknya. Sejak awal kehidupan anak telah menjadi bagian dari dirinya. Kasih sayang yang tulus, keikhlasan dan kesabaran seorang ibu telah menjadi teladan bagi mereka.

Ibu. Sebuah profesi mulia yang didamba oleh setiap wanita. Kedudukannya pun telah berkali-kali Rasulullah Saw sebutkan.

Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, beliau berkata, “Seseorang datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Kemudian ayahmu.’” (HR. Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 2548)

Mengandung, melahirkan, menyusui, serta mendidik anak-anak tidaklah mudah. Namun peran kodrati seorang ibu itulah yang menjadikannya mulia. Hingga tak jarang, wanita rela meninggalkan perkara yang ia senangi demi menjalankan perannya sebagai Ibu. Masyaa Allah.

Sayangnya, dewasa ini banyak dijumpai sosok Ibu yang abai akan peran utamanya, terlebih dalam memberikan pendidikan yang baik bagi generasinya. Ya, menjadi Ibu memang tidak mudah, untuk itu harus senantiasa belajar dan mengkaji ilmunya agar mampu menjadi sosok Ibu yang hebat nan shalihah.

Sebagai seorang muslimah, betapapun beratnya tugas seorang Ibu akan tetap dijalankan dengan penuh kebahagiaan. Kenapa? Karena keimananlah yang mendorong diri dalam melaksanakannya dengan baik dan maksimal. Untuk itu, bekal imu itu penting untuk mendidik generasi muslim berkualitas. Sehingga, tidak menjadi Ibu ‘kebetulan’ yang saat ini ramai bermunculan. Entah menikah karena jebol duluan, atau karena kebelet nikah muda tanpa bekal ilmu yang matang. Nikah muda sah-sah saja, bahkan lebih baik daripada bermaksiat, namun juga harus diimbangi dengan ilmu kehidupan berumah tangga.

Karena menjadi Ibu yang ‘betulan’ tidak lahir secara instan. Ada proses belajar dan ikhtiyar, sehingga mampu mendidik anak-anaknya sesuai syariat Islam. Bukankah generasi shalih lahir dari Ibu yang shalihah? Yuk pantaskan diri menjadi Ibu pencetak generasi Islami.[]

Penulis : Isty Shofiah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.