Mengincar Kedudukan Mulia Di Sisi Allah

124

Oleh: Fatimah-Bogor

Sudah bukan rahasia lagi di zaman now, rame-rame kampanye. Bagi wong cilik melek politik yang sudah berulang pilpres atau pilgub serasa ‘b-aje’. Beriklim sama dari momen ke momen. Menyaksikan para pegiat politik kapitalis unjuk janji serta pencitraan. Koalisi partai atau dukung mendukung sudah biasa.

Tujuan yang dicari adalah kedudukan. Jika dukungan materil maupun suara dalam koalisi menang, maka bisa menghantarkan pada kursi wakil rakyat atau capres dan cawapres terpilih. Dan ada imbalan yang akan didapat. Persis seperti join usaha. Ngasih modal, kalau untung bagi-bagi.

Hal tersebut berjalan terus menerus dalam pergantian rezim. Partai-partai yang ada terikat kontrak pada falsafah yang memisahkan agama dari kehidupan. Falsafah berorientasi pencapaian kapital, liberal serta kebahagiaan fana. Inilah falsafah kapitalisme.

Orang akan dengan mudah pindah-pindah partai hanya demi kemaslahatan. Jika dipandang ada partai yang lebih menjanjikan potensi raihan kursi wakil rakyat atau kursi presiden dan wakil presiden, maka mudah saja ia berpindah dan berpaling ke lain partai. Yang penting kedudukan bisa diraih.

Lain hal jika seorang individu ataupun partai yang berfalsafah islam semata. Maka semua akan dikembalikan pada aturan Allah  SWT sebagai Sang Pencipta (al-Kholik) dan Pengatur (al-Mudabbir). Langkah hidup selalu bersandar pada hukum syara yakni wajib haram, sunah, makruh dan mubah. Sering diringkas halal haram.

Dalam ikatan falsafah Islam secara individu maupun partai, manusia akan terkondisikan kesadarannya akan keterhubungan dirinya dengan Sang Kholik. Sepak terjangnya dalam mengemban amanah individu, partai atau negara sekalipun akan senantiasa menjadikan halal haram sebagai kontrol hidupnya.

Ketika amanah telah dipundaknya, maka tanggung jawab jabatan sepenuhnya dalam rasa diawasi (muroqobah) oleh Allah. Ketundukan pada aturan Allah SWT (al-Qur’an dan As-Sunnah) sebagai wujud keimanan.

Yang menjadi incaran muslim sejati adalah kedudukan mulia disisi Allah SWT. Maka jabatan apapun yang diraihnya akan didapat dengan cara yang halal. Karena selalu sadar akan rambu-rambu Allah SWT.

Sesungguhnya Rasulullah SAW pernah bersabda : “Aku telah meninggalkan pada kamu sekalian dua perkara yang kamu tidak akan sesat selama kamu berpegang teguh kepada keduaya, yaitu : Kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya”. [HR. Malik]

Allah SWT berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan janganlah kalian mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan kepada kalian, sedang kalian dalam keadaan mengetahui. ” (TQS Al-Anfal: 27)

Demikianlah, semoga masyarakat semakin paham akan tujuan yang ingin dicapai dalam hidupnya. Dengan kembali pada aturan islam. Sehingga amanah yang diemban menghantarkan pada keselamatan dunia dan akhiratnya. Aamiin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.