MENGIKIS NILAI ISLAMI BERKEDOK TOLERANSI

58

Oleh : Agustinah Amalia (Mahasiswi)

            Tak terasa saat ini sudah berada di penghujung tahun 2019, Beberapa waktu kemarin, kita (umat muslim) sedang dihadapkan kegundahan terkait sikap Toleransi antar umat beragama. Terutama yang terjadi pada akhir tahun ini yaitu Menyambut Hari Natal bagi umat Kristiani. Persoalan ucapan natal seperti sudah menjadi masalah rutinan yang kerap muncul ketika akhir tahun. Terlebih adanya statement dari Kemenag Fachrul Razi yang membuat kontroversi dikalangan kaum muslim Indonesia, yaitu mengucapkan selamat natal kepada penganut Nasrani tidak bakal melunturkan akidah seorang muslim, serta dikuatkan pula dengan pernyataan Ketua Komisi Infokom MUI Pusat Masduki Baidlowi mengatakan, ucapan selamat Natal dari seorang Muslim tidak masalah jika tidak diniatkan secara keimanan. Jadi semua tergantung Niat, Tutur nya.

Lihat:   https://news.detik.com/berita/d-4829666/menag-sebut-ucapan-selamat-natal-tak-ganggu-akidah-mui-tergantung-niat

            Tidak hanya persoalan terkait kontrovesi ucapan selamat natal kepada umat kristiani, terdapat pula kontroversi terkait adanya pelarangan Natal bersama di Dharmasraya dan Sijunjung, Sumatera Barat. Seperti yang dilansir CNN Indonesia (Sabtu, 21/12/2019), hal tersebut terjadi lantaran di daerah tersebut tidak memiliki gereja. Oleh karena itu masyarakat setempat membuat kesepakatan terkait perayaan Natal yang tidak bisa dilakukan. Dan kesepakatan tersebut adalah kesepakatan yang telah disetujui oleh masyarakat bersama.

            Menanggapi hal tersebut, Putri Presiden RI ke-4 Abdurrahman Wahid, Yenny Wahid angkat bicara. Menurut Yenny, Negara sudah menjamin hak warga Negara dalam memeluk agama. Dan hal tersebut dikategorikan melanggar UU dan harus segera ditindak lanjuti.

Lihat:   https://news.detik.com/berita/d-4832452/yenny-wahid-soal-larangan-natal-bersama-di-dharmasraya-melanggar-uu

            Pro kontra terkait persoalan hukum mengucapkan “Selamat Natal” kembali menjadi perdebatan. Baik Kemenag, MUI, maupun ormas Islam. Yang memberi kelonggaran untuk (boleh) mengucapkan “Selamat Natal” dengan alasan merekatkan ukhuwah kebangsaan. Jikalau kita tidak melakukannya maka akan dibenturkan dengan sikap Intoleransi terhadap umat Kristiani.

            Bahkan salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia menyatakan bahwa boleh saja mengucapkannya asalkan tidak diniatkan untuk meyakini akidah mereka. Sekedar mengatakannya adalah sah-sah saja dengan tujuan untuk menghormati atau berempati kepada teman yang nasrani. Dan hal tersebut berkaitan dengan kebhinekaan yang menjadi pilar kebangsaan. Dimana kemajemukan dalam masyarakat adalah sumber kekuatan utama bangsa Indonesia.

            Di sisi lain, kasus berubahnya rencana peringatan natal di Dharmasraya menjadi pintu kelompok sekuler liberal mendesakkan penyempurnaan kebebasan beragama. Dimana karena faktor kemajemukan yang ada di Indonesia (dalam hal ini agama), itu adalah hal yang sah-sah saja jikalau ada umat yang beragama selain Islam ingin menjalankan ibadahnya di muka umum. Bagi mereka yang menentangnya atau melarangnya maka ia telah melanggar UU dan Konstitusi Negara. Oleh karena itu mereka ingin melegalkan terkait kebebasan beragama.

Kebebasan Beragama Dalam Sistem Kapitalisme

            Fakta diatas telah menjadi bukti gagalnya sistem kapitalisme yang saat ini diterapkan di Indonesia, dalam hal menjamin kehidupan beragama yang damai dan harmoni antar warga. Khususnya pada agama Islam, telah banyak diskriminasi terhadap ajarannya serta para ulama yang dipersekusi. Toleransi ala sistem kapitalis pun sangat membahayakan bagi keimanan seorang muslim. Disisilain agama kristiani pun mulai merasakan ketidakadilan ketika hendak melaksanakan ritual keagamaan mereka. Dengan demikian semakin jelas bahwa sistem kapitalisme sudah menunjukkan kebobrokannya yang tidak bisa memberi kesejahteraan bagi masyarakat dari segala lini kehidupan termasuk kebebasan beragama.

Pandangan Islam Terkait Toleransi

Pada fase awal dakwah Rasulullah di Madinah, beberapa tokoh kafir Quraisy menemui Nabi Saw. Mereka adalah Al-Walid bin Mughirh,  Al-‘Ash bin Wail, Al-Aswad Ibnu al-Muthalib dan Umayyah bin Khalaf. Mereka menawarkan “Toleransi” kepada Muhammad. Mereka mengatakan, “bagaimana jika kami beribadah kepada Tuhanmu dan kalian (kaum Muslim) juga beribadah kepada Tuhan kami? Sebaliknya, jika ada sebagian ajaran kami yang lebih baik dari ajaran agamamu, engkau harus mengamalkannya.” (Al-Qurthubi, Tafsir al-Qurthubi, 20/225).  Jelas Rasulullah Saw pun tegas menolak dan tidak mau berkompromi dengan “toleransi” semacam ini. Kemudian, turunlan surah Al-Kafirun ayat 1-6 yang menolak keras toleransi kebablasan semacam ini.

Islam telah mengatur batasan bagaimana cara menghargai atau menghormati agama selain dari Islam. Islam juga telah mempraktikkan toleransi dengan baik sejak 15 abad yang lalu hingga semuanya bisa merasakan arti sebuah kerukunan umat beragama dan kesejahteraan sesungguhnya. Terbukti selama Islam Berjaya berbagai suku dan agama bisa hidup rukun dalam naungan negara khilafah Islam, karena dalam Islam toleransi itu ialah membiarkan mereka untuk melakukan ibadah agama, bukan memaksa untuk memeluk Islam, jadi kaum muslimin bertoleransi dengan membiarkan saja bukan turut ikut mengucapkan atau ikut dalam perayaan mereka.  Terutama dalam hal ini adalah mengucapkan “Selamat Natal”. Ucapan “selamat” kita ketahui bahwasanya berisi doa dan harapan kebaikan untuk orang yang diberi selamat. Serta menjadi ungkapan kegembiraan dan kesenangan atas apa yang dilakukan oleh orang yang diberi selamat.

            Sementara perayaan Natal adalah memperingati kelahiran anak Tuhan dan Tuhan anak. Dimana hal itu bertentangan dengan akidah islam. Dan telah menjadi kesyirikan atau menyekutukan Allah Swt. Lantas, bagaimana bisa umat Islam mengucapkan selamat dengan semua kandungan yang ada dalam perayaan tersebut? Padahal sudah jelas itu sebuah kemusyrikan. Dan Allah menyatakan dalam (QS. Al-Maidah [5]: 72-75) menyatakan mereka adalah orang kafir, yang kelak di akhirat akan dijatuhi siksaan teramat pedih.

            Dengan demikian jelas sudah, bahwasanya mengucapkan selamat Natal dan selamat Hari Raya bagi agama lain adalah haram dan dosa. Baik itu tergantung niat atau tidak. Dan dikaitkan dengan toleransi apa tidak. Hukumnya tetap haram dan tidak boleh. Apalagi jikalau sampai ikut serta dalam perayaannya, naudzubillah himinzalik. Dalam Al-Quran surah Al-Kafirun ayat 6 juga telah menjelaskan :

لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِين                                                                                       ِ                                   

“Untukmu agamamu, dan untukulah agamaku”

            Serta Allah berfirman dalam Al-Quran surah Al-Baqarah ayat 42, “Janganlah kalian mencampuradukkan kebenaran dengan kebatilan. Jangan pula kalian menyembunyikan kebenaran itu, sedangkan kalian mengetahui”.

Oleh karena itu, umat Islam tak perlu parameter, indeks dan ukuran-ukuran yang lain. Cukuplah dengan akidah dan syariah Islam menjadi ukuran dan pegangan dalam hidupnya. Keduanya akan menjadi kunci dari kebangkitan Islam.

Dengan demikian, dalam sistem Islam, negara akan memberikan aturan tegas dan jelas terkait hubungan antar warga negara yang berbeda suku atau agama. Serta menjamin terwujudnya toleransi tanpa melanggar syariat Islam. Sehingga tidak akan terjadi kedzaliman atau diskriminasi terhadap agama tertentu. Sejarah telah mencatat tinta emas bahwasanya dengan berpegang teguh kepada akidah dan syariat Islam, umat Islam akan menjadi Umat yang terbaik yang membawa rahmat bagi seluruh alam. Hanya dengan sistem Islam, yang mampu menjaga akidah kaum muslimin, dan mewujudkan keadilan serta kedamaian terhadap kaum muslimin maupun non muslim. Wallahu’alam bisshawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.