Mendulang suara dari Politik Identitas Umat Islam

43

Oleh Alin FM (Praktisi Multimedia)

Pesta demokrasi di negeri ini sedang berlangsung. Rakyat Indonesia menyambut suka cita untuk merayakannya. Memilih pemimpin idaman dengan kacamata politik masing-masing. Kacamata politik dengan satu tujuan yaitu pemimpin yang mampu mensejahterakan rakyat. Memilih dengan berbagai pertimbangan. Pemilih kini sudah mempunyai sudut pandangan beragam  sesuai dengan kondisi dan latar belakang masing-masing. Pemilih juga sangat terpengaruh dengan opini berkembang baik media eletronik maupun dunia maya.

Euforia pesta demokrasi semakin terasa sejak di-gong-kannya masa kampanye pemilihan masing masing pasangan calon presiden dan wakil presiden, 575 anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), 136 anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD), serta anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD Provinsi maupun DPRD Kabupaten/Kota) se-Indonesia periode 2019–2024 dengan kendaraan politik yang memenuhi syarat administrasi dan verifikasi faktual secara nasional sebanyak 14 partai. Semua partai sejatinya berambisi meraih suara terbanyak dari berbagai elemen masyarakat tak terkecuali dari suara umat Islam. Suara mayoritas dibutuhkan partai untuk memperebutkan kursi kekuasaan beserta pundi-pundi jabatannya.

Tahun 2019 sebagai tahun politik karena di tahun ini akan diadakan pesta demokrasi terbesar se antero negeri Indonesia. Seperti biasa, di tiap tahun politik terdapat fenomena yang menarik untuk dibahas. Pada tahun ini, fenomena yang menjadi sorotan adalah maraknya politik identitas yang terjadi di Tanah Air. Banyak kelompok masyarakat yang menggunakan identitas sebagai landasan dalam berpolitik. Pemilihan gubernur di Jakarta beberapa waktu lalu layak untuk dijadikan contoh bagaimana identitas dimanfaatkan sebagai landasan dalam menentukan gerakan berpolitik(kompasiana.com, 08/1/2019)

Suara umat islam kini sangat diperhitungkan setelah adanya aksi 212, 2 tahun yang lalu. Perasaan umat bersatu mendorong penista agama di hukum di depan pengadilan.  Terbentuklah politik identitas dengan rasa keimanan yang sama untuk membela Surat Al maidah Ayat 51. Tidak cukup disitu saja umat islam masih punya rasa yang sama karena adanya kliminalisasi ulama dan ormas Islam. Dan terus bergulir di tahun lalu aksi bela tauhid yang muncul dari pembakaran bendera bertuliskan lafadz laa ilaaha illallah Muhammad Rasulullah) atau yang lebih dikenal dengann kalimat tauhid.

Politik identitas umat Islam dalam aksi 212 mencapai 7 juta orang di monas pada tahun 2016 menginspirasi umat Islam untuk lebih peduli dengan kondisi bangsa dan agamanya. Umat islam merasakan kekuatan massa yang berkumpul dalam satu kesatuan keimanan. Tercipta kekuatan baru yang tidak bisa diremehkan begitu saja. Apalagi saat ini, saat pesta demokrasi sedang berlangsung

Demokrasi identik dengan pemungutan suaranya. Siapa yang mendulang suara terbanyak maka ia yang akan menang. Dari asas inilah partai politik melirik kekuatan baru yang muncul di tengah masyarakat. Partai politik mencoba meraih simpati umat Islam dengan merangkul entitas umat Islam Baik kalangan Islam tradisional, Islam moderat sampai Islam fundamental. Masuk ke kalangan pesantren, sekolah-sekolah Islam, habaib, ormas Islam di berbagai daerah dengan berbagai janji kampenya yang mengiurkan. Sehingga Umat tergiur dalam perhelatan akbar demokrasi serta program kerja yang disampaikan.

Umat islam adalah indentitas keagamaan dengan rasa iman yang sama. Iman kepada Allah dan RasulNya. Iman  kepada Alqur’an yang mulia bersanding pesan mulia Nabi Muhammad SAW. Dari keimanan tersebut muncul rasa cinta dan cita terhadap negeri ini. Negeri damai nan indah serta subur alamnya, dengan penduduk yang selalu bersyukur atas nikmat yang diberikan. Negeri seperti ini dikenal dengan istilah baldatun thayyibatun wa rabbun ghafûr , Negeri yang baik serta ampunan dari Rabbnya. tertulis jelas dalam Surat Saba ayat 15.

“Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (kepada mereka dikatakan): “Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun”.(,TQS Saba :15)

Umat Islam menginginkan kesejahteran sejati untuk negeri ini. Negeri yang diliputi keadilan, keamanan, kenyamanan dan keberagamaan. Umat Islam tak lagi mengabaikan apa yang telah diwasiatkan Rasul Saw kepada mereka. Wasiat Agung yang akan menyelamatkan mereka di Dunia dan Di Akhirat. Wasiat ini sejatinya berbeda dengan Demokrasi dari kelahirannya. Demokrasi lahir atas dasar rakyat diberi kebebasan dan kemerdekaan. Kebebaskan berasal dari dunia barat, lebih tepatnya yunani kuno. Demokrasi sendiri berasal dari Bahasa Yunani, yaitu “demos” yang artinya rakyat dan “kratos” yang artinya kekuasaan, jadi demokrasi secara terminology berarti pemerintahan yang menghendaki kekuasaan oleh rakyat. Demokrasi di Yunani kuno saat itu adalah suatu bentuk demokrasi langsung yang artinya bahwa setiap warga negara berhak berpartisipasi dalam pembuatan konstitusi dan hukum perundang-undangan sekaligus juga memiliki hak untuk berpartisipasi aktif dalam pengambilan kebijakan oleh sistem pemerintahan.

Kedaulatan rakyat  dalam bingkai demokrasi memberi ruang  untuk menjalankan aturan secara bebas tanpa terikat dengan satu agama manapun karena merasa mempunyai hak untuk membuat hukum sendiri dari kacamata masing-masing. Inilah yang membuat rakyat kehilangan kendali untuk menjalankan hukum. Hukum yang dibuat syarat dengan perbedaan dan berselisihan sehingga hukum bisa di tinjau kembali. Hukum yang ditinjau kembali inilah yang membuat rakyat bingung dan akhirnya melahirkan hukum rimba di tengah masyarakat.

Jadi Umat Islam harus menyadari betul bahwa ajaran Islam berasal Allah SWT dan Rasul Saw sedangkan Demokrasi berasal dari kebebasan dari kacamata dunia barat. Maka umat Islam harus memahami bagaimana indentitas politik yang sebenarnya. Dengan siapa umat islam harus menyerakan suara dalam mengatur urusannya. Menyerahkan urusan kepada Demokrasikah atau kepada Aturan Islam yang mampu mengatur manusia seluruhnya. Bukan sekedar kantong massa yang dimanfaatkan oleh Parta politik yang ambisi untuk berkuasa dan pundi-pundi jabatannya.

Ketua GNPF-Ulama Yusuf Martak dan beberapa orang mendekati Prabowo sambil membawa satu kantong plastik berisi uang. “Ini terkumpul dari yang hadir di sini, bukan diminta. Kami serahkan untuk membantu perjuangan Pak Prabowo,” ucap Yusuf. Prabowo kemudian menerima kantong plastik berisi uang itu. “Bukan saya beri uang tapi rakyat beri uang kepada saya,” ujarnya. (m.liputan6.com, 07/4/2019). Politik indentitas umat Islam suatu keistimewaan. Betapa tidak antusiame umat Islam akan perubahan ke depan. Umat Islam menghadiri kampanye akbar prabowo sandi memberikan uangnya calon pemimpin negeri. Umat mendambakan perubahan menuju baldatun thayyibatun wa rabbun ghafûr dan pemimpin yang amanah.

Sejatinya Umat Islam adalah umat terbaik diantara manusia yang tertulis di dalam firman Allah SWT di dalam surat ali imran : 110

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (TQS. Ali Imron :110)

Menurut Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar, mudarris tafsir Universitas Islam Madinah, Umat Islam dianggap umat terbaik, karena mereka menyempurnakan diri mereka dengan iman yang menghendaki untuk melaksanakan segala perintah Allah, dan karena mereka menyempurnakan pula orang lain dengan menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah yang munkar, atau dengan kata lain mengajak manusia kepada Allah, berjihad dan mengerahkan kemampuan untuk mengembalikan mereka dari kesesatan dan kemaksiatan. Ayat ini merupakan dalil keutamaan umat Nabi Muhammad disbanding umat-umat yang lain. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 “Sesungguhnya kalian yang menyempurnakan menjadi tujuh puluh umat. Kalianlah umat yang terbaik dan paling mulia di sisi Allah.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah dan Hakim, dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami’ no. 2301).

Kecintaan umat Islam terhadap Al Qur’an, berbuah penerimaan akal sehat  terhadap dakwah syariah dan khilafah. Khilafah Menjadi trending topik di kampanye politik tahun ini. Monsterisasi khilafah dan ajakan memusuhinya sudah dipropagandakan. Tetapi Kokohnya dalil-dalil syariat tentang kewajiban menegakkan khilafah sebagai kekuasaan politik yang satu bagi muslim dunia sangat banyak bertebaran dalam khazanah kitab-kitab ulama besar Islam, disamping telah menjadi ketentuan dalam Al-Qur’an, As-Sunnah, maupun ijma shahabat. Khilafah bagian dari ajaran Islam tak terbantahkan lagi.

Menurut home databooks demografi 1 dari 5 Millenial Setuju Sistem Khilafah. Berdasarkan hasil survei IDN Research Institute sebanyak 19,5% kaum millenial menyatakan Indonesia lebih ideal menjadi negara khilafah. Dalam laporan IDN Research Institute yang bertajuk Indonesia Millenial Report menunjukkan bahwa 1 dari 5 millenial setuju terhadap sistem pemerintahan khilafah. Berdasarkan hasil survei tersebut sebanyak 19,5% kaum millenial menyatakan Indonesia lebih ideal menjadi negara khilafah. Meskipun secara keseluruhan atau mayoritas sebanyak 81,5% penduduk berusia 20-35 tahun tetap mendukung Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Meskipun secara umum millenial bukan generasi yang menganut paham radikal, tapi ada potensi 19,5% generasi millenial terpapat radikalisme karena lebih banyak mendukung sistem khilafah. Adapun potensi tersebut ada pada millenial senior dan millennial wanita. Survei IDN Research Institute dilakukan pada 20 Agustus-6 September 2018 dengan melibatkan 1.400 responden di 12 kota besar di Indonesia. Pengambilan sampling menggunakan metode multistage random sampling dengan metode interview face to face interview dan margin of error sebesar 2,62% (databoks.katadata.co.id, 21/01/2019). Data ini menunjukan bahwa politik Identas umat Islam akan bermuara kepada penegakkan hukum-hukum Allah dalam Institusi Politik Khilafah Islamiyyah. Fokus perjuangan dibutuhkan selama umat berpegang teguh terhadap Islam. Wallahu ‘alam Bishoab

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.