Mendudukkan Perang dalam Bingkai Islam

17

Oleh: Shafayasmin Salsabila (Pengasuh MCQ Sahabat Hijrah)

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu.” (TQS. al-Ahzab [33]: 22)

Kehidupan Rasulullah Saw. menjadi rujukan bagi seluruh umatnya. Setiap segmen, tak luput menjadi tuntunan. Begitupun terkait shirah (sejarah/tarikh Islam). Mengikutinya merupakan perkara yang diperintahkan syara‘. Hidup Rasulullah Saw. selalu bernapaskan dakwah. Bukan sekadar waktu dan harta yang dikorbankan, tapi juga nyawa siap dipertaruhkan, demi syiar Islam. Sejarah mencatat betapa militannya Rasul dan para sahabat, menapaki medan perang.

Bersumber dari buku berjudul Al-Maghazi karya Al-Waqidi, sejak Rasul sampai di Yastrib (Madinah) hingga wafatnya, beliau telah memimpin secara langsung dua puluh tujuh kali peperangan. Sembilan diantaranya, benar-benar terjadi pertempuran, seperi Badar, Uhud, al-Muraisi’, Khandaq, Quraizhah, Khaibar, penaklukkan Makkah, Hunain dan Tha’if.

Perang yang dilakukan oleh Rasul bukan di atas ketamakan akan kekuasaan, namun semata berasal dari wahyu Allah Ta’ala. Rasulullah Saw. membawa misi untuk membawa kerahmatan Islam bagi semesta alam. Risalah Islam wajib untuk di sampaikan ke seluruh dunia. Maka dakwah menuntut Rasul untuk melebarkan sayap, tidak hanya menikmati zona aman di Madinah.

Maka tak aneh, jika di dalam Alquran bertebaran ayat-ayat terkait perang dan hukumnya. Diantaranya dalam surat At-Taubah ayat 81, yang artinya: “Orang-orang yang ditinggalkan (tidak ikut perang) itu, merasa gembira dengan tinggalnya mereka di belakang Rasulullah, dan mereka tidak suka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah dan mereka berkata: “Janganlah kamu berangkat (pergi berperang) dalam panas terik ini”. Katakanlah: “Api neraka jahannam itu lebih sangat panas(nya)” jika mereka mengetahui.”

Ketika Islam mulai diemban dam didakwahkan ke wilayah-wilayah selain Madinah, kerap mendapat hambatan dari kalangan penguasa setempat. Maka Islam memiliki mekanisme untuk menghilangkan hambatan fisik tersebut. Diantaranya dengan mediasi. Terlebih dahulu ditawarkan Islam sekaligus memberikan gambaran umum terkait Islam dan syariatnya. Jika menolak maka langkah berikutnya, ditawarkan untuk tetap dengan agama sebelumnya asalkan mau tunduk di bawah pemerintahan Islam. Apabila opsi kedua gagal disepakati maka barulah jihad dalam makna perang, menjadi alternatif terakhir. Itupun bukan sembarang perang. Ada serangkaian hukum terkait penyelenggaraan peperangan, seperti tidak boleh menghancurkan bangunan atau fasilitas umum, rumah ibadah, dan sebagainya. Juga tidak boleh membunuh anak-anak, wanita dan lansia.

Namun di atas semuanya, perang dalam Islam, adalah satu hukum syara yang amat mulia. Tidak lari dari misi penyebaran Islam (dakwah). Tanpanya, ajaran Islam tidak akan mungkin sampai kepada setiap insan. Cahaya kebenaran tidak akan dapat diecap oleh seluruh dunia. Bukankah Allah menginginkan Islam agar dinikmati hingga ke penjuru alam?

Lantas menjadi miris, jika ada pihak yang tengah berusaha menafikan ajaran Islam terkait perang. Bahkan perihal perang ini ditengarai sebagai spora yang mampu menumbuhkan radikalisme di tengah umat manusia. Seakan ajaran tentang perang menjadi momok menakutkan dan dikhawatirkan sebagai pemicu tindak teror/makar.

Terlalu sadis untuk dicerna. Islamofobia (ketakutan berlebih terhadap Islam, red.) seakan meracuni benak umat Muslim sendiri. Bagaimana bisa ada keraguan terhadap syariat. Kemana hilangnya keyakinan bahwa di balik syariat pasti ada maslahat.

Sempat memanas, ketika dilansir dari republika.co.id, (13/09) Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag) menyatakan, tidak ada lagi materi tentang perang dalam pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) di madrasah. Hal itu diimplementasikan pada tahun ajaran baru 2020.

Namun selang tiga hari, masih dari laman berita yang sama, Direktur Kurikulum, Sarana, Kelembagaan, dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah A Umar di Jakarta, Senin (16/09) mengklarifikasi pemberitaan tersebut. Ditegaskan bahwa Kementerian Agama telah mereview Kurikulum mata pelajaran sejarah kebudayaan Islam (SKI). Umar menjelaskan bahwa perang adalah bagian dari fakta sejarah umat Islam. Tidak benar kalau itu akan dihapus. Adapun review, lebih untuk menonjolkan bagaimana setiap fakta sejarah itu menjadi tonggak pembangunan peradaban.

Jika saja niat awal penghapusan materi perang ini terealisasi, satu kebahayaan besar mengancam umat. Akidah akan berada di ujung tanduk. Karena materi perang adalah bagian dari isi kandungan Alquran. Penolakan terhadapnya, sama artinya dengan menolak Alquran secara keseluruhannya.

Selama Islamofobia masih terus dihembuskan oleh pegiat liberalis sekuler, isu serupa masih akan membayang. Upaya memutilasi ajaran Islam tak akan padam. Baik melalui kurikulum pendidikan, buku pelajaran dan jalan lainnya. Sentimen negatif terhadap hukum syara tidak akan mereda. Maka dibutuhkan air segar, berupa pemikiran/fikroh Islam yang jernih, untuk membalik kesadaran umat.

Kembali merenungi hakikat hadirnya Islam ke muka bumi. Semata demi menghadirkan kedamaian, menyelamatkan umat manusia dari ketersesatan. Membebaskannya dari penghambaan yang keliru. Sehingga membawanya pada keselamatan baik di dunia terlebih lagi di akhiratnya.

“Allah adalah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” (TQS. Al-Baqarah: 257)

Siapa yang berkenan hidup dalam kegelapan. Sedang cahaya menjanjikan ketenangan dan kepastian. Itulah Islam. Mari bersama-sama membenahi mindset umat dengan menderaskan dakwah kepada Islam kaffah. Sehingga umat dapat menerima secara tulus, kepada seluruh syariat.

Agar pesan damai tersampaikan di setiap ajaran Islam. Termasuk di dalamnya, perihal perang.

Wallahu a’lam bish-shawab

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.