Menakar Efektif, Ajang Berbiaya Mahal

Oleh: Ummu Syaqieb

Debat perdana Capres-Cawapres usai digelar. Berbagai reaksi dan kritik pun bermunculan. Begitu pula perang klaim antar dua kubu tak terelakkan. Masing-masing mengklaim jagoannya berhasil menguasai forum debat dengan gemilang. Sayangnya, tak sedikit masyarakat yang mencuitkan kekecewaan di media sosial. Forum debat dinilai tidak menarik dan kaku. Bahkan seorang netizen menyampaikan debat tersebut lebih mirip kompetisi menghafal, sehingga anak SMA dinilai lebih baik dalam melakukannya. (tempo.co, 18/01/2019).

Menanggapi hal itu, Komisioner KPU (Komisi Pemilihan Umum) Wahyu Setiawan mengatakan, seluruh komisioner KPU telah melakukan rapat pleno untuk mengevaluasi secara menyeluruh jalannya debat pertama. Hasilnya, pihaknya berkomitmen memperbaiki format dan mekanisme debat menjadi lebih baik. Forum debat akan dirancang sedemikian rupa agar memungkinkan bagi pasangan calon presiden dan wakil presiden menunjukkan performa, kapasitas terkait penyampaian gagasan-gagasan besar yang tercantum dalam visi, misi, program untuk memimpin Indonesia lima tahun ke depan. (m.liputan6.com, 20/01/2018).

Debat Capres-Cawapres itu sendiri termasuk rangkaian kegiatan yang digelar oleh KPU, dalam rangka menyukseskan perhelatan akbar pemilu 2019. Direncanakan debat Capres/Cawapres akan dilangsungkan sebanyak lima kali, sebelum kedua pasangan calon beradu perolehan suara di 17 April mendatang. Lantas salah satu pertanyaan yang muncul adalah sudah tepatkah mekanisme pemilihan pemimpin yang selama ini berlaku, rumit dan mahal?

Politik ala demokrasi, menyeret perilaku korupsi

Mahalnya ongkos politik ala demokrasi, sudah menjadi rahasia umum. Dampaknya, bagi para petarung dalam demokrasi, politik berbiaya tinggi membuat lubang korupsi makin melebar. Istilah “balik modal”, “politik balas budi”, menjadi kompensasi. Akibatnya pemimpin terpilih berorientasi pada hal-hal salah. Kebijakan yang diambil tidak lepas dari aroma kepentingan individu/kelompok, bukan lagi kepentingan publik. Hal ini terbukti dari angka korupsi di kalangan pejabat yang masih tinggi. Tercatat, tahun 2016, terdapat 1.101 tersangka kasus korupsi dan naik menjadi 1.298 tersangka kasus korupsi pada 2017. Meskipun ada kecenderungan penurunan jumlah kasus korupsi di tahun 2018, namun kerugian negara yang timbul dari kasus korupsi pada semester I 2018 sebesar Rp1,09 triliun dan nilai suap Rp42,1 miliar. (kompas.com, 18/09/2018).

Begitupun bagi negara sebagai penyelenggara. Sebagaimana kita ketahui, anggaran pemilu tahun 2019 menelan pembiayaan sebesar 18,1 trilyun rupiah. Tentu bukan angka yang sedikit di tengah keterpurukan ekonomi yang melanda negeri ini, juga jumlah masyarakat miskin yang masih tinggi. Anggaran negara tersedot sedemikian rupa untuk “pesta rakyat” yang dibuat menarik dan penuh kemeriahan. Debat kandidat bagaikan ajang pencarian bakat dan tidak menyentuh akar persoalan, yakni mencari pemimpin yang berkomitmen tinggi, memiliki visi dan misi yang jelas untuk membawa umat pada perubahan hakiki di masa depan.

Maka jelaslah, proses pemilihan pemimpin ala demokrasi tidak bisa menjadi tumpuan harapan masyarakat untuk memiliki sosok pemimpin ideal. Kondisi ini tak bisa dilepaskan dari sistem kapitalisme sekuler yang mengungkung kehidupan kita. Berasas manfaat menjadikan pemimpin yang lahir dari sistem ini hanya perpanjangan tangan, demi melanggengkan penjajahan para kapital lewat politik transaksional.

Di sisi lain, jauhnya kaum muslimin dari syariat Islam, menyebabkan mereka tak memiliki gambaran luas tentang sistem kepemimpinan di dalam Islam. Termasuk tata cara pemilihan pemimpin, sebagaimana syariat tentukan.

Islam melahirkan pemimpin ideal

Dalam Islam, pemimpin adalah Rain dan Junnah. Raa’in memiliki arti “penjaga” dan “yang diberi amanah” untuk mengurusi urusan umat. Sedangkan Junnah bermakna “perisai”, tempat seluruh rakyat berlindung di sebaliknya. Dari makna-makna ini dapat kita lihat fungsi pemimpin yakni peri’ayah (pengurus) urusan umat secara total. Memimpin mereka dalam ketaatan kepada Allah, melalui penegakkan syariat secara keseluruhan.

Adapun proses pemilihannya jauh dari gambaran yang kita saksikan di era sekarang. Karena dalam Islam, proses pemilihan pemimpin dilakukan secara sederhana namun menyentuh esensi kepentingan. Pemimpin dipilih berdasar kesiapannya menegakkan syariat Allah atas umatnya. Jadi bagi sesiapa yang mampu, ia akan dipilih. Sekalipun, setiap mukmin tentu mengetahui beratnya amanah menjadi seorang pemimpin umat. Hingga banyak ditemui kisah-kisah indah semisal apa yang terjadi antara Abu Bakar, Umar bin Khattab dan Abu Ubaidah Ibn Al Jarrah. Ketiganya saling melempar tunjuk dalam proses pemilihan khalifah pasca wafatnya rasulullah saw. Hal itu terjadi karena masing-masing menyadari beratnya tanggung jawab atas amanah kepemimpinan.

Lihatlah cuplikan ucapan Abu Bakar, saat berpidato di depan umat seusai proses pembaiatan.

“Wahai manusia, aku dipilih sebagai pemimpin kalian, dan aku bukanlah yang terbaik di antara kalian. Jika aku berbuat baik, ikutilah aku. Jika berbuat buruk, luruskanlah aku ……… Taatilah aku selama aku menaati Allah dan Rasul-Nya berkenaan dengan semua urusan kalian. Jika aku bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya, kalian tidak boleh menaatiku. Berdirilah untuk melaksanakan shalat, niscaya Allah akan mengasihi kalian.” (Al-Bidayah wa al-nihayah, jilid 6, hal. 305-306. Diriwayatkan dari Anas radhiyallahu ‘anhu.)

Sebuah pidato negarawan sejati. Penggambaran sosok pemimpin yang meletakkan amanah kepemimpinannya pada ketaatan sempurna kepada Allah. Dengan kesadaran ini, peran raa’in dan junnah akan ditunaikan secara optimal, sebagai wujud pertanggung jawaban atas amanah teremban.

Semakin nampak perbedaan, bahwa dalam sistem demokrasi, kepemimpinan bernilai duniawi. Sedangkan dalam Islam, kepemimpinan berdimensi dunia dan akhirat.

Sungguh, proses pemilihan pemimpin dapat dibuat sederhana, tanpa perlu berbiaya mahal, dengan tetap meraih esensi yang dituju. Andai kita memahami, bagaimana Islam mengatur tentang kepemimpinan, lantas mengikuti tuntunan syariat yang telah ditetapkan. []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.