Memaknai Kemerdekaan RI ke -74, Menuju Kemerdekaan Hakiki.

25

Thama_Rostika #YukNgajiCiamis

Tahun ini bangsa Indonesia kembali merayakan hari kemerdekaannya untuk yang ke-74 kalinya. Berbagai persiapan telah dilakukan. Bendera merah putih menghiasi hampir tiap halaman rumah. Umbul-umbul pun telah dipasang, bahkan tak jarang gapura dihias semenarik mungkin demi memeriahkan suasana kemerdekaan RI ini. Namun dibalik gempita perayaan dirgahayu RI, dengan melihat polemik yang terus terjadi saat ini, maka kembali muncul pertanyaan, betulkah kita telah benar-benar merdeka? Betulkah kita telah sungguh-sungguh terbebas dari segala bentuk penjajahan? Lantas apa makna kemerdekaan yang sesungguhnya dan bagaimana mewujudkannya?

Indonesia Masih Terjajah

Sejatinya, penjajahan (imperialisme) adalah strategi politik suatu bangsa/negara untuk menguasai bangsa/negara lain demi kepentingan pihak yang menguasai. Hakikat penjajahan sama dengan perbudakan. Sama-sama merupakan ekpsloitasi satu pihak atas pihak lain secara zalim. Penjajahan gaya lama dilakukan dengan menggunakan kekuatan militer. Mengambil-alih dan menduduki satu negara/wilayah serta membentuk pemerintahan kolonial di negara/wilayah jajahan. Cara ini secara umum sudah lama ditinggalkan, karena penjajahan seperti ini mudah membangkitkan perlawanan dari penduduk negeri yang dijajah. Kaum penjajah kemudian menempuh model/gaya penjajahan baru. Penjajahan ini tak mudah dirasakan oleh pihak terjajah. Penjajahan ini muncul dalam bentuk kontrol atas ekonomi, politik, pemikiran, budaya, hukum dan hankam atas negeri yang dijajah. Tujuannya? Tetap sama, mengeksploitasi kekayaan negeri terjajah demi kesejahteraan dan kemakmuran kaum penjajah.

Penjajahan gaya baru sebenarnya sama berbahayanya dengan penjajahan gaya lama. Bahkan lebih menyeramkan. Dengan penjajahan gaya baru, pihak terjajah sering tak merasa sedang dijajah. Seperti yang terjadi di negeri ini. Bangsa ini seolah tak pernah menyadari bahwa kekayaannya terus dikuasai dan dieksploitasi, bahkan dengan sangat liar. Tambang emas, minyak, gas dan banyak sumberdaya alam lainnya di negeri ini telah lama dikuasai dan diekploitasi oleh banyak perusaha asing, sebut saja diantaranya PT Freeport, Exxon Mobile, Total, Newmont, dan banyak lagi yang lainnya. Ironisnya, semua itu dilegalkan oleh undang-undang. Mengapa hal ini bisa terjadi? Karena banyak keputusan politik di negeri ini, terlebih dalam bentuk undang-undang, masih terus berada dalam kontrol asing. Di antaranya melalui IMF dan Bank Dunia, dua lembaga internasional yang menjadi alat penjajahan global.

Alhasil, jelaslah, banyak fakta menggambarkan bahwa bangsa dan negeri ini belum benar-benar merdeka secara hakiki. Belum benar-benar terbebas dari penjajahan. Secara fisik kita memang merdeka. Namun secara pemikiran, ekonomi, politik, budaya, dll sejatinya kita masih terjajah. Bahkan pemerintahan saat ini semakin menampakkan keberpihaknnya pada asing dan terus menyakiti rakyat.

Indonesia belum benar-benar merdeka. Neoimperialisme yang ditempuh oleh negara-negara asing (para kapitalis) untuk menjajah negara lain dengan menanamkan ideologi “kapitalisme” di negara jarahannya telah berhasil mencengkram negeri ini.

Kemerdekaan Hakiki

Mewujudkan penghambaan hanya kepada Allah SWT, itulah misi utama Islam. Itu pula arti kemerdekaan hakiki. Dalam pandangan Islam, kemerdekaan hakiki terwujud saat manusia terbebas dari segala bentuk penghambaan dan perbudakan oleh sesama manusia. Dengan kata lain Islam menghendaki agar manusia benar-benar merdeka dari segala bentuk penjajahan, eksploitasi, penindasan, kezaliman, perbudakan dan penghambaan oleh manusia lainnya.

Terkait misi kemerdekaan Islam ini, Rasulullah saw. pernah menulis surat kepada penduduk Najran. Di antara isinya berbunyi:

…Amma badu. Aku menyeru kalian untuk menghambakan diri kepada Allah dan meninggalkan penghambaan kepada sesama hamba (manusia). Aku pun menyeru kalian agar berada dalam kekuasaan Allah dan membebaskan diri dari penguasaan oleh sesama hamba (manusia)… (Al-Hafizh Ibnu Katsir, Al-Bidayah wa an-Nihayah, v/553).

Allah SWT berfirman :

“Mereka (Bani Israil) menjadikan para pendeta dan para rahib mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah… ” (TQS at-Taubah [9]: 31).

Makna ayat tersebut dijelaskan dalam riwayat dari jalur Adi bin Hatim ra. Ia menuturkan bahwa saat Rasulullah saw. membaca ayat tersebut, ia (Adi bin Hatim) menyatakan bahwa Bani Israil (Yahudi dan Nasrani) tidak menyembah para pendeta dan para rahib mereka. Saat itulah Rasul saw. bersabda, “Akan tetapi, jika para rahib dan pendeta mereka menghalalkan sesuatu untuk mereka maka mereka pun menghalalkannya, dan jika para rahib dan pendeta mereka mengharamkan sesuatu atas mereka maka mereka pun mengharamkannya (Itulah wujud penyembahan mereka kepada para rahib dan pendeta mereka, red.) (HR at-Tirmidzi).

Alhasil, Islam jelas datang untuk membebaskan manusia dari segala bentuk penghambaan kepada sesama manusia sekaligus mewujudkan penghambaan hanya kepada Allah SWT. Islam datang untuk membebaskan manusia dari kesempitan dunia akibat penerapan aturan buatan manusia menuju kelapangan dunia (rahmatan lil alamin). Islam juga datang untuk membebaskan manusia dari kezaliman agama-agama dan sistem-sistem selain Islam menuju keadilan Islam.

Dari apa yang dijelaskan, maka harusnya umat sadar bahwa negeri kita Indonesia tercinta ini belumlah merdeka. Negeri ini masih dalam cengkraman kuat pihak asing dengan neoimperialismenya. Untuk melepaskan diri dari cengkraman penjajah, maka saatnya kita campakkan sistem hukum yang ditanamkan oleh mereka. Karena dengan tetap menerapkan sistem hukum yang ada saat ini, justru sejatinya disitulah kontrol mereka agar kita tetap bisa dicengkram. Selama aturan, hukum dan sistem buatan manusia yang bersumber dari akal dan hawa nafsu mereka terus diterapkan dan dipertahankan maka selama itu pula akan terus terjadi penjajahan, kesempitan dunia dan kezaliman.

Allah SWT telah memperingatkan hal itu:

“Siapa saja yang berpaling dari peringatan-Ku maka sungguh bagi dia kehidupan yang sempit dan Kami akan mengumpulkan dirinya pada Hari Kiamat dalam keadaan buta” (TQS Thaha [20]: 124).

Kemerdekaan hakiki akan menjadi nyata jika umat mengembalikan hak penetapan aturan hukum hanya kepada Allah SWT.  Caranya dengan memberlakukan syariah Islam secara kaffah dalam seluruh aspek kehidupan. Tanpa itu, kemerdekaan hakiki, kelapangan dunia dan keadilan Islam tak akan pernah bisa terwujud.

Rasulullah saw. bersabda “Dan tidaklah pemimpin-pemimpin mereka enggan menjalankan hukum-hukum Allah dan mereka memilih-milih apa yang diturunkan Allah (sebagian diambil, sebagian dibuang), kecuali Allah akan menjadikan bencana di antara mereka.” (HR. Ibnu Majah no. 4009 dengan sanad hasan).

WalLah alam bi ash-shawab

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.