Melawan Covid-19 : Cara Islam Memelihara Jiwa Manusia dalam Mengahadapi Wabah

    35

    Oleh Adi S Soeswadi

    Semua mahasiswa Kedokteran yang melakukan sedang melakukan co-ass di rumah sakit segera ‘ditarik mundur’. Ada apa ? Karena, ternyata ada yang positif Covid-19 di rumah sakit tersebut. Semua wajib berdiam diri di rumah atau tempat kos. Tidak boleh ada yang pulang kampung. Semua harus mengkarantina diri, melaporkan aktifitas dan kondisi kesehatannya. Protokol kesehatan wajib dijalankan secara disiplin.

    Pengajaran selama co-ass beralih ke kuliah on line. Setiap mahasiswa yang kuliah wajib absen dengan share location agar tahu posisinya dimana ketika on line. Kalau ketahuan nongkrong di kafe atau di luar tempat kos maka akan diperingatkan.

    Ketika melewati masa karantina, barulah diperbolehkan pulang. Meski tetap harus melaporkan semua aktifitas ketika mudik dengan tetap menjalankan protokol kesehatan. Misalnya, apakah sudah pakai masker, apakah bawa hand sanitizer, bagaimana memilih transportasi yang aman, bagaimana menghindari kerumunan penumpang, bagaimana cara makan dan minum selama dalam perjalanan, dan lain-lain. Semuanya wajib ditulis lengkap dengan tulisan tangan. Dan, terakhir orang tua juga ikut tanda tangan pada laporan tersebut.


    Itulah sekelumit kisah para calon dokter yang selalu dalam pengawasan ketat. Apakah itu karena sudah banyak dokter dan tenaga medis yang gugur melawan Covid-19, sehingga calon dokter ini harus di ‘eman-eman’ ? Memang tidak mudah untuk masuk ke Fakultas Kedokteran dan jalan untuk menjadi dokter yang panjang. Apalagi rasio dokter dengan jumlah penduduk yang masih rendah.

    Di saat wabah seperti saat ini, garda terdepan perang melawan Covid-19 ini memang para dokter dan tenaga medis. Tidak mudah untuk menggantikan posisi mereka. Berbeda dengan perang umumnya, yang setiap orang bisa berubah menjadi tentara dan maju di garis depan.

    Tapi, apa hanya karena itu calon dokter dan tenaga medis yang berhak dijaga jiwanya ? Bagaimana pandangan Islam dalam memelihara jiwa manusia ? Apakah dalam kehidupan Islam, ketika ada wabah hanya berfokus menjaga jiwa tenaga medis karena mereka yang berada garda terdepan ?

    Islam adalah agama yang sempurna yang diturunkan Allah untuk kebaikan seluruh manusia. Salah satu tujuan pokok hukum Islam diberlakukan dalam kehidupan adalah untuk memelihara jiwa. Oleh karena itu, negara sebagai institusi pelaksana hukum syariah mempunyai kewajiban mencegah dan menghindarkan setiap hal yang bisa mengancam jiwa manusia.

    Apalagi disaat ada wabah, maka negara harus hadir menjaga semua jiwa agar selamat, tidak hanya tenaga medis. Semua warga negara berhak mendapat perlakuan yang sama. Negara tidak memandang suku, agama, ras, atau profesi. Semuanya punya hak untuk hidup sehat dan terjaga jiwanya.

    Pencegahan sebelum datangnya wabah.

    Wabah itu bukan baru saat ini saja terjadi, tapi sudah berulang kali terjadi. Maka Islam mewajibkan negara untuk melakukan pencegahan sejak dini agar rakyat siap menghadapinya. Upaya tersebut dilakukan sebagai bentuk penjagaan jiwa manusia. Adapun upaya yang harus dilakukan adalah sebagai berikut :

    1. Memberikan pemahaman aqidah yang kuat :
    • Wabah itu setiap saat bisa terjadi, dan itu adalah qodlo atau ketatapan Allah yang menimpa manusia. Sehingga siapapun yang sakit akan berbaik sangka kepada Allah dan bersabar dengannya. Pemahaman Inilah yang akan menenangkan dan memberi optimisme sehingga dapat memperkuat imunitas dalam tubuh manusia.
    • Ketaatan kepada pemimpin Islam yang memberlakukan syariah itu adalah ketaatan kepada Allah dan RasulNya, sehingga setiap pengaturan yang ditetapkan pemimpin disaat wabah terjadi akan selalu ditaati karena merupakan ibadah pada Allah. Misalnya ketika pemimpin menetapkan karantina suatu wilayah yang terkena wabah, maka rakyat menataatinya dengan penuh kesadaran sebagai bagian dari ibadah.
    1. Memberi pemahaman tentang wabah dan perilaku dalam kehidupan :
    • Negara memberi edukasi materi mikrobiologi dasar, pola penyebaran penyakit, pencegahan praktis yang bisa dilakukan secara mandiri, sehingga rakyat sudah terbiasa untuk siap dan tahu apa yang harus dilakukan ketika wabah datang.
    • Negara memberi edukasi tentang : pentingnya karantina wilayah yang terkena wabah, cara sholat berjamaah dan sholat jumat ketika wabah, dan cara menjalankan roda ekonomi di saat wabah, termasuk pengetahuan IT sebagai pendukung.
    • Pemahaman umum ketika berinteraksi dengan manusia yang lain di saat wabah. Misalnya, tahu pentingnya social distancing dan peka terhadap lingkungan dengan saling mengingatkan. Tidak mengucilkan para tenaga medis dan pasien yang positif, apalagi menolak jenazahnya. Menahan diri untuk tidak sholat berjamaah atau berangkat ke tempat kerja ketika ada gejala sakit. Mau bersabar ketika diminta mengisolasi diri.

    Pemahaman ini harus didasari dengan keimanan kepada Allah bahwa sengaja memberi madhorot kepada manusia lain itu berdosa di sisi Allah. Hal ini harus menjadi kebiasaan hidup masyarakat Islam, baik ada wabah atau tidak.

    1. Negara wajib memiliki lembaga penelitian tentang penyakit, agar sebelum atau ketika wabah terjadi, obat atau vaksin yang dibutuhkan sebagai pencegahan atau pengobatan bisa segera diproduksi.
    2. Negara harus memiliki semua fasilitas kesehatan dan jumlah tenaga medis yang sebanding dengan jumlah penduduk, serta telah mempersiapkan skenario terburuk yang mungkin terjadi jika over kapasitas.
    3. Secara politis dan ekonomi, negara wajib tidak berhubungan dengan negara-negara yang memusuhi Islam, sehingga mencegah masuknya wabah atau senjata biologis. Sedangkan dengan negara yang tidak memusuhi Islam, maka hubungan akan langsung dihentikan jika memang negara tersebut telah diserang wabah.
    4. Negara wajib menjalankan kemandirian dalam hal ekonomi, sehingga rakyat memiliki kemampuan ekonomi yang kuat agar kebutuhannya terjangkau dan terpenuhi dengan baik. Hal ini sangat diperlukan ketika wabah terjadi, meskipun negara tetap akan bertanggung jawab penuh untuk memenuhi kebutuhan rakyatnya.

    Begitulah upaya Islam dalam melakukan pencegahan sebelum datangnya wabah. Semua hal dipersiapkan dengan baik, karena pemeliharaan jiwa dalam Islam adalah prioritas yang harus diutamakan. Dan, itu membutuhkan kerja sama yang baik antara negara dan rakyatnya ketika menghadapi wabah.

    Jika negara sejak awal telah peduli kepada rakyatnya, maka tentu rakyatnya akan menyambut seruan itu dan mentaati dengan sungguh-sungguh setiap ketetapan negara. Itulah bukti bahwa ikatan ideologis yang dibangun berdasar aqidah Islam itu adalah ikatan yang shohih yang harusnya ada dalam mengatur kehidupan manusia.

    Bagaimana dengan kehidupan kita saat ini ?
    Sudah seharusnya perubahan yang lebih baik dilakukan ke arah Islam, segera !

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here

    This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.