Media Digital, Mesin Perusak Massal Generasi Bangsa

118

Oleh : Puput Hariyani, S.Si* (Pemerhati Remaja)

Ironis. Generasi muda seharusnya menjadi penerus bangsa. Namun kini semakin rusak akhlak moralnya. Kutipan TribunLampung.co.id cukup mencengangkan banyak pihak. Ditemukan 12 siswi SMP di satu sekolah hamil, bahkan 20% pelanggan PSK adalah pelajar SMA. Temuan lain menunjukkan, Kabupaten Garut dihebohkan dengan terungkapnya keberadaan group Facebook gay siswa SMP/SMA. Disusul terciduknya 7 remaja Bengkulu yang masih berstatus pelajar diduga sebagai pelaku pemerkosaan anak dibawah umur (Kompas.com).

Tak hanya sampai disini, menjamurnya group-group percakapan Whatsapp semisal “All Stars” yang beranggotakan para siswa-siswi SMP menjadi media penghubung ajakan mesum sesama pelajar. Mereka juga berani dan “termudahkan” untuk berbagi video porno. Kondisi ini semakin menambah panjang deretan tindak kriminal remaja.

Untuk itu semua pihak memberikan curahan perhatian terhadap kondisi rusaknya generasi. Komisioner KPAD Kabupaten Bekasi, Mohammad Rozak mengatakan temuan ini menjadi salah satu yang cukup menggegerkan kondisi pergaulan anak. Lebih dari itu, tren anak berbuat asusila meningkat. Tidak hanya menonton video porno namun berusaha mempraktekkannya. Pada saat yang sama, Ketua Komnas Perlindungan Anak Lampung, Toni Fiser mengaku prihatin atas kondisi ini. Terlebih keberadaan gadget dan mudahnya mengakses berbagai informasi saat ini.

Pada dasarnya media digital adalah teknologi yang bersifat netral. Sebagai produk teknologi Barat yang merupakan “madaniyah”, dia memiliki potensi untuk digunakan dalam kebaikan ataupun kejahatan. Bisa juga digunakan untuk melakukan kemanfaatan atau bahkan menjatuhkan penggunanya dalam kerusakan.

Namun kini teknologi tak lagi netral. Keberadaannya sangat bergantung pada ideology apa yang sedang digunakan. Ketika Barat berhasil memimpin peradaban dunia dengan sekulerisme, maka media yang ada sarat dengan “hadlarah barat” dan terbukti sebagai mesin perusak dan penghancur generasi muslim. Media digunakan sebagai alat penebar kerusakan (pornoaksi, pornografi, LGBT, kekerasan, ide sesat atas nama keuntungan dan kesenangan).

Kecanggihan teknologi telah disusupi dengan berbagai macam pemahaman dan tayangan yang serba bebas. Siapapun bisa mengakses dengan sangat mudah. Minim  kontrol dari negara dan terkesan abai. Bahkan menjadi mesin pembunuh massal generasi bangsa. Membunuh idealisme dan identitas muslim generasi muda. Mereka yang memiliki daya imunitas keimanan lemah mudah “mati” dan terseret pusaran arus liberalisasi.

Sesungguhnya maraknya pergaulan bebas yang terus meningkat, bermuara pada satu penyebab. Yakni akibat penerapan sistem sekuler. Cara pandang ini telah merenggut ketundukkan seorang hamba yang seharusnya hanya taat kepada Allah SWT, kemudian tunduk dan mengangungkan nafsu kebebasan. Walhasil halal haram tak lagi menjadi pertimbangan dalam bertindak. Sistem ini telah nyata-nyata melahirkan generasi yang rusak baik bagi masa sekarang maupun masa yang akan datang.

Jika sistem sekuler adalah penyebab hancur dan matinya generasi muslim. Tentu tidak akan mampu menyelesaikan masalah pergaulan bebas secara tuntas. Yang ada hanya akan semakin menambah masalah baru. Bahkan menyimpan bom waktu masalah yang siap meledak kapan saja untuk menghancurkan peradaban manusia. Sehingga sudah saatnya menempatkan biang kerusakan pada sampah peradaban.

Islam Solusi Tuntas Pergaulan Bebas

Kesempurnaan Islam tak lagi diragukan. Ketika diterapkan terbukti mampu menebarkan kerahmatan bagi seluruh alam. 14 abad adalah waktu yang cukup panjang untuk menjadi saksi sejarah gemilangnya peradaban Islam. Termasuk dalam memberikan solusi masalah pergaulan. Menyelesaikan masalah generasi tentuk tak hanya diserahkan pada satu pihak saja, namun harus ada kesinergisan berbagai pihak.

Dimulai dari orang tua dan rumah yang menjadi sekolah pertama bagi anak. Harus memastikan tertancapnya akidah yang kuat lagi kokoh, berikut memastikan terbangunnya kepribadian Islam yang kuat. Selanjutnya adalah sekolah sebagai bagian dari sistem terstruktur untuk melanjutkan dan mengokohkan bangunan kepribadian Islam yang telah mulai dirintis dari keluarga. Dengan menjadikan akidah Islam sebagai asas pendidikan dan kurikulum Islami.

Kemudian masyarakat sebagai sekolah besar bagi generasi, lingkungan bagi tumbuh kembang anak harus mampu menjadi control social. Mewujudkan lahan yang kondusif, aman dan membantu mengokohkan serta melejitkan kepribadian Islam anak. Juga peran negara menyempurnakan peran masing-masing pihak dengan penerapan hukum yang berasal dari Dzat yang Maha Sempurna, Dialah Allah Tuhan seluruh alam.

Didukung dengan hadirnya media digital untuk penanaman akidah, ketaatan terhadap Islam, pengokohan identitas generasi muslim dan pencerdasan umat tentang Islam sebagai ideology. Islam sebagai ideology akan menghantarkan kecanggihan media digital sebagai sarana untuk menyebarkan inspirasi kebaikan. Wallahu‘alam bi ash-showab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.