Matinya Hati Pemimpin

158

Oleh : Ningsri Fuanah, A.Md (Pemerhati Sosial Politik dan Kemasyarakatan)

Pekan terakhir dibulan Pebruari menjadi hari-hari memilukan dan menyedihkan bagi bangsa Indonesia dan kaum muslim khususnya. Bagaimana tidak, beberapa daerah di indonnesia saat itu tengah dilanda bencana bertubi-tubi. Daerah Jawa Barat seperti Bandung, Kuningan, Cirebon, Indramayu salah satu yang mengalaminya. Longsor didataran tinggi dan banjir di dataran rendah. Hal itu pun terjadi juga di daerah luar jawa.

Kesedihan kaum muslim Indonesia bertambah saat mereka meyaksikan serangan keji saudara-saudaranya yang muslim di Ghouta – Suriah. Pemimpinya Presiden Bashar al-Assad melakukan serangan keji terhadap “para mujahidin” yang saat itu menurut mereka terpusat di Ghouta- Suriah. Jet-jet tempur Presiden Bashar al-Assad menggempur Ghouta Timur, daerah terkepung di pinggiran Damaskus. Sekitar 500 orang telah terbunuh sejak serangan dimulai. Sedangkan, warga sipil yang terluka mencapai lebih dari 2.500 orang di daerah kantong oposisi yang terkepung tersebut. Data tersebut juga mengungkapkan, di antara korban tewas terdapat 127 anak-anak dan 75 perempuan, sementara pasokan makanan, air, dan obat-obatan kian menipis akibat pengepungan rezim terhadap Ghouta Timur. ( REPUBLIKA.CO.ID)

Kesedihan kaum muslim ternyata tidak seiring dengan pemimpinya. Khusus di Indonesia bencana alam dan penderitaan saudara kita di Ghouta-Suriah tidak menjadikan orang nomor satu di Indonesia berempati akan hal itu. Ironinya, pemimpin negri dengan mayoritas muslim terbesar, tidak menjadikan hatinya terpanggil untuk mengulurkan tangannya menolong saudaranya di belahan bumi lain. Alih-alih menolong, miris malah bersama anak dan menantunya orang nomor satu di Indonesia tersebut memilih pergi  ke bioskop dengan langkah tanpa beban nonton film Dilan.

Sekat nasionalisme ternyata telah membuat benteng tebal pengubur rasa empati, tolong menolong sesama muslim. Nasionalisme itu juga telah berhasil memupuk sikap egoisme yang tinggi. Lebih lagi nasionalisme juga yang telah meniscayakan persaudaraan kaum muslim bagai satu tubuh. Padahal jelas sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadist riwayat Muslim:

“Perumpamaan kaum mukmin dalam sikap saling mencintai, mengasihi dan menyayangi, seumpama tubuh, jika satu anggota tubuh sakit, maka anggota tubuh yang lain akan susah tidur atau merasakan demam.” [HR. Muslim]

Disisi lain, sekuler-kapitalis berhasil membentuk jiwa-jiwa pemimpin dengan arogansi yang sangat tinggi kumplit dengan krisis empatinya. Semua itu wajar karena kursi kepemimpinanya diduduki bukan untuk melayani melainkan dibeli untuk kepentingan pribadi dan golonganya. Alhasil jangankan empati terhadap saudaranya di negeri lain, bahkan rakyat yang di pelupuk matanyapun dia lupakan.

Sungguh ini sangat bertolak belakang dengan sosok-sosok kepemimpinan dalam islam. Sejak islam dipimpin oleh Rasulullah SAW, kemilau islam kian nampak, beliau menjadi teladan dalam memimpin umatnya. Keempatian yang tinggi sebagai pemimpin umat islam sangat luar biasa hingga Allah mengabadikannya dalam firmanNya surat At-Taubah ayat 128-129 :

“Sungguh telah datang kepada kamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, dan kepada orang-orang yang beriman dia sangat belas-kasihan lagi penyayang. Jika mereka berpaling, katakanlah: Cukup bagiku Allah, tidak ada Tuhan melainkan Dia, kepada-Nyalah aku bertawakkal dan Dia adalah yang mempunyai Arasy yang agung.“

Prof. Dr. Hamka dalam Tafsir Al-Azhar menjelaskan, ayat di atas menerangkan tiga sifat pokok yang istimewa pada diri Muhammad Saw dalam memimpin umatnya. Sifat-sifat utama dan mulia yang menjadi syarat mutlak kejayaan seorang pemimpin.

Pertama, ‘Aziz, artinya berat baginya apa yang kamu susahkan, siang dan malam yang beliau fikirkan hanyalah keadaan nasib umatnya. Berat baginya kalau umatnya ini miskin atau menjadi jajahan orang asing. Berat rasanya bagi beliau kalau umat ini celaka di dunia dan sengsara pula di akhirat. Sampai nyawanya akan bercerai dari badannya, perasaan ini jugalah yang memenuhi fikiran beliau.

Kedua, sangat ingin akan kebaikan kamu, perhatiannya siang dan malam hanyalah bagaimana supaya kamu baik, bagaimana supaya kamu maju, selamat hubunganmu dengan Tuhan dan selamat pula hubunganmu sesama manusia.

Ketiga, Rauf dan Rahim, yakni belas kasihan dan berhati sayang yang mencapai puncak tertinggi sekali. Rauf adalah kasih sayang khusus kepada yang lemah, yang miskin, melarat, sakit, gagal, anak yatim kematian ayah dan sebagainya. Beliau tatkala hidupnya membuat peraturan bahwa orang Muslim yang mati dalam berhutang, beliau yang akan membayar hutangnya. Kemudian, sifat Rahim lebih umum dari sifat Rauf. Kasih dan sayang meliputi dan merata, kepada yang miskin dan kepada yang kaya, kepada yang gagal atau kepada yang jaya.

Hingga sampai diakhir hayatnyapun, saat sakaratul maut sudah di kerongkongan yang disebut tidak lain adalah umatnya. Sungguh potret pemimpin yang luar biasa. Sangat berbeda dengan pemimpin saat ini, hati mereka seakan  sudah mati sehingga  tidak terenyuh sedikitpun saat melihat rakyatnya dan saudaranya menjerit meminta uluran tangan mereka. Mereka buta dan tuli, seandainya ada kepedulianpun itu ternnyata hanya lips service semata.

Kepemimpinan yang mengerti, menyayangi, dan melindungi rakyatnya hanya akan ada jika kepemimpian itu digariskan pada kepemimpinan nubuwah yang telah dicontohkan rasul dalam sistem islam pula. Mustahil berharap ada pemimpin saat ini memiliki empati yang tinggi, sementara dia ada pada kepemimpinan sekuler-kapitalis.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.