Masih Layakkah Sistem Ekonomi kapitalisme Dipertahankan ?

145

Oleh : Adi S. Soeswadi (pemerhati ekonomi)

Menghadapi kenyataan rupiah yang terus melemah, akhirnya BI terpaksa menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin ke 4,75%. Kebijakan BI tersebut di respon positif pasar. Rupiah terus menguat hingga akhirnya pada akhir bulan meninggalkan posisi 14.000 ke Rp 13.890 per dollar AS. (CNBC Indonesia 30 Mei 2018)

Kebijakan ini dilakukan, mengingat rupiah menghadapi tekanan yang cukup hebat terutama setelah yield obligasi pemerintah AS naik melewati level psikologis 3%. Sebelumnya BI masih bersikeras menahan suku bunga acuannya sehingga menekan rupiah makin dalam sehingga imbal hasil surat berharga di Indonesia semakin kurang menarik. Akibatnya, aliran modal asing yang keluar cukup besar. (CNBC Indonesia, 2 June 2018).

Kebijakan tersebut bukan tanpa resiko. Menurut Akhmad Akbar Susamto, Ekonom CORE, kenaikan tersebut bisa memicu kenaikan bunga kredit, memperlambat investasi, dan melemahkan kemampuan dunia usaha. Bukan hanya itu saja, kenaikan tersebut juga berpotensi menekan konsumsi dan ujung-ujungnya memperlambat pertumbuhan ekonomi. (CNN Indonesia, 31 Mei 2018)

Jauh hari sebelumnya, tim riset CNBC Indonesia pun telah menganalisa bahwa biasanya kenaikan suku bunga acuan cepat tertransmisikan ke perbankan. Suku bunga perbankan pun bergerak naik.

Kenaikan suku bunga perbankan mengakibatkan pertumbuhan kredit akan semakin tertekan. Padahal pertumbuhan kredit belum lagi mencapai dua digit. Per akhir April, pertumbuhan kredit baru 8,5%, masih jauh dari Rencana Bisnis Bank (RBB) 2018 yang sebesar 12,23%.

Saat suku bunga bank naik, maka konsumsi masyarakat akan semakin tertekan. Saat ini pun konsumsi rumah tangga belum pulih benar. Pada kuartal I-2018, pertumbuhan konsumsi rumah tangga hanya 4,95%. Tidak jauh bergerak dibandingkan periode yang sama 2017 yaitu 4,94%. Padahal konsumsi rumah tangga adalah komponen terbesar dalam pembentukan Produk Domestik Bruto (PDB) nasional, mencapai 56,8%. Jadi ketika konsumsi rumah tangga bergerak, maka PDB secara keseluruhan pun akan bergerak.

Jika suku bunga acuan dan kemudian suku bunga bank naik Pertumbuhan konsumsi 5% menjadi sangat sulit tercapai dan akibatnya target pertumbuhan ekonomi 5,4% menjadi tidak realistis (CNBC Indonesia, 11 Mei 2018).

Dari paparan diatas, kita bisa melihat betapa rentannya sistem ekonomi yang diterapkan di negara kita. Aliran modal akan mempengaruhi kondisi ekonomi negara. Jika aliran modal (dollar AS) mengalir keluar karena investor melihat keuntungan yang lebih besar, maka nilai mata uang negara akan segera jatuh. Dan ini berakibat ke perekonomian, apalagi jika nilai impor lebih besar dari pada ekspor. Kenaikan harga barang berbahan baku impor tak bisa dihindari sehingga akan menurunkan daya saing dan daya beli masyarakat.

Sebaliknya jika ingin mata uang kembali menguat dan modal (dollar) kembali masuk, maka terpaksa suku bunga acuan dinaikkan pada posisi yang lebih menarik para investor. Dan langkah inipun punya efek domino pada perekonomian. Bunga bank bisa ikut terkerek naik sehingga pertumbuhan kredit dan konsumsi masyarakat akan tertekan.

Kerentanan sistem ekonomi (baca : kapitalisme) yang diadopsi, karena mata uang negara yang distandarkan pada dollar dan berubah fungsinya menjadi komoditas. Akibatnya, nilai mata uang tergantung besarnya aliran modal (dollar) yang keluar masuk. Padahal keluar masuknya modal tersebut tidak bisa mampu dikontrol oleh negara. Para investor dengan mudah melarikan modalnya untuk mencari keuntungan yang lebih besar. Inilah resiko sistem ekonomi yang menyandarkan pada dollar dan riba.

Kita tentu tidak menginginkan sistem ekonomi yang rentan ini berlangsung terus. Karena hal ini akan membahayakan stabilitas negara dan merugikan masyarakat secara luas. Oleh karena itu, perlu ada wacana untuk mencari alternatif sistem ekonomi yang stabil.

Jika kita mau melihat sistem ekonomi yang ditawarkan oleh Islam, maka kita akan melihat bahwa sistem ini lebih stabil dan menguntungkan. Sistem ini menerapkan sistem mata uang emas dan perak, sehingga nilai mata uang negara tidak tergantung mata uang negara lain, tapi tergantung ketersediaan emas dan perak. Disamping itu sistem Islam mengharamkan praktik riba, sehingga pergerakan uang (modal) hanya untuk pertukaran dengan barang dan jasa, bukan untuk memburu riba.

Jika ekonomi negara bisa stabil, maka negara akan menjadi kuat dan tidak mudah didikte oleh pihak luar. Sistem ekonomi ini juga pro rakyat, karena rakyat tidak mudah tertekan daya belinya hanya karena kurs mata uang yang melemah karena distandarkan dengan dollar.

Untuk mewujudkannya memang diperlukan kekuatan politik yang mau menopang sistem ekonomi tersebut. Sistem ekonomi Islam tidak mungkin disandingkan dengan kekuatan politik demokrasi-kapitalisme. Tetapi sistem ini harus ditopang oleh sistem Islam secara politik. Artinya, dibutuhkan kekuatan politik yang kuat yang mau menjadikan Islam sebagai landasan kehidupan bernegara. Dan, sudah saatnya pula rakyat yang mayoritas muslim ini menuntut perubahan yang lebih baik demi kehidupan yang terbebas dari riba dan penjajahan ekonomi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.