Manuver Yahya Staquf dan Sikap Kritis Umat

Oleh : Bagas Kurniawan [‘Aliwa Institute]

Beberapa hari yang lalu Yahya Staquf melakukan kunjungannya di Yerusalem, Israel, Ahad, (10/6) dan menjadi pembicara dalam forum AJC (American Jewich Comittee). Dan sontak langsung menuai banyak kritik dari berbagai kalangan, baik tokoh publik, ormas Islam, dan masyarakat.

Yahya Staquf yang saat ini menjabat sebagai (Watimpres) dan (Sekjen PBNU) menjadi perbincangan baik di dalam negeri maupun di dunia Internasional.

Presiden Jokowi menyampaikan bahwa “Yahya Staquf ke Israel Urusan Pribadi Untuk Dukung Palestina” (12/6) detikNews. Tak hanya itu Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH. Ma’ruf Amin pun menyampaikan hal yang senada “kunjungan Katib Aam PBNU KH Yahya Cholil Staquf, Ma’aruf meminta agar kunjungan itu tidak dikaitkan dengan NU dan MUI. (12/6) detikNews.

Begitu pula apa yang disampaikan oleh Pimpinan Ketua Nahdhatul Ulama (NU) KH. Said Aqil Siradj mengatakan bahwa Yahya Staquf datang atas nama pribadi. Ini menunjukkan bahwa Yahya Staquf mempunyai arogansi dan kepentingan tersendiri untuk keinginannya menghadiri acara di Israel.

Yahya Staquf mengatakan bahwa kehadirannya ke Israel adalah untuk berdiplomasi dan mendukung Palestina. Namun kita dapat melihat bahwa Palestina melalui Kementrian Luar Negeri mengutuk kunjungan Sekjen PBNU Yahya Staquf Cholil ke Israel. Mereka merasa terpukul. (13/6/2018) detikNews.

Sungguh, ini adalah sebuah langkah bodoh yang menganggap bahwa Israel perlu untuk diajak diskusi dengan cara-cara yang baik. Seperti yang di ungkapkan Fatah “duduk bersama penjajah Israel sama dengan melawan rakyat Palestina” (12/6) republika.co.id.

Saat ini korban tewas rakyat Palestina sudah tidak dapat  terhitung, rumah-rumah dihancurkan, wanita-wanita diperkosa, anak-anak kehilangan orang tuanya, betapa ganasnya kebiadaban Yahudi Israel kepada saudara Muslim kita di Palestina ?

Dan ini memberikan rasa perih yang menyayat hati ketika saudara sesama muslim sedang di bombardir, namun di satu sisi ada sesorang yang sedang asyik berjabat tangan, berfoto, dan berbincang-bincang dengan pembunuh nomor satu di dunia, dimana tangannya sedang berlumuran darah kaum muslimin.

Berbagai macam cara rakyat Palestina ditempuh untuk bisa mendapatkan tanahnya yang saat ini di jajah oleh Yahudi Israel. Nyawa-nyawa berguguran hingga menuju Syahidnya.

Israel itu penjajah dengan reputasi bebal. Tidak peduli dengan apapun kata orang. Jangan lagi seorang Yahya Staquf, sekian banyak resolusi PBB bahkan resolusi Dewan Keamanan PBB pun diingkari. Lebih dari 33 Resolusi PBB yang dicuekin Israel, apalagi hanya sekedar diplomasi seorang Yahya Staquf. Jadi yang dikenal oleh Israel itu hanya satu, seperti yang Hamas katakan, yaitu bahasa perang saja, ucap Jurubicara Hizbut Tahrir Indonesia, Ismail Yusanto, kepada (Media Umat, 11/6).

Yahya Staquf yang saat ini sedang menjabat sebagai Watimpres, seharusnya dengan ikhlas mencopot jabatannya, dan seharusnya kepada Presiden Jokowi untuk melakukan itu. Karena ia sudah melakukan hal-hal yang di luar nalar. Duduk bersama dengan penjajah, berarti mengakui penjajahan atas Muslim Palestina. Dan kita sepakat bahwa Palestina adalah rakyat yang di dzalimi. Maka untuk itu diperlukan tindakan tegas untuk pelakunya.

Seperti apa yang dilakukan, oleh Prof. Suteki yang di berhentikan jabatannya sebagai dosen di UNDIP karena telah menjadi ahli dalam persidangan kasus pencabutan badan hukum perkumpulan Hizbut Tahrir Indonesia. Karena hukum harus ditegakkan, bukan untuk tebang pilih terhadap kelompok dan orang tertentu.

Dan lagi-lagi Allah SWT membukakan mata kita siapa yang menginginkan kebaikan, dan siapa yang inginkan penjajahan. Alasan diplomasi ? Itu hanya ilusi. Waallahu ‘alam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.