Manipulasi Untuk Meraih Kekuasaan: Bukti Rusaknya Demokrasi

69

Oleh: Nurhidayat Syamsir (Mahasiswa Ilmu dan Teknologi Pangan UHO)

Kabar tentang pemilihan presiden april mendatang kian menarik. Pergantian estafet dan kendali kepemimpinan didepan mata. Berbagai peristiwa politik jelas terjadi, baik dari kalangan elit politik itu sendiri, masyarakat, mahasiswa, dan kini Kelembagaan Ikatan Alumni Universitas Indonesia (Iluni UI) menjadi sorotan karena pernyataan deklarasi dukungan pada kandidat capres-cawapres.

Suararakyat.com- Ikatan Alumni Universitas Indonesia melayangkan somasi terhadap penyelenggara deklarasi dukungan untuk calon presiden Joko Widodo atau Jokowi. Iluni UI menganggap penyelenggara deklarasi tersebut telah mencatut nama lembaga yang menaungi alumni kampus tersebut. “Iluni UI menegaskan secara kelembagaan tidak akan dan tidak pernah terlibat dalam politik praktis” tegas Ketua Iluni UI Arief Budhy Haryono, dalam surat somasi yang ditandatangani pada 12 Desember 2018.

Pada saat ditelusuri lebih jauh, ternyata deklarasi dukungan Alumni untuk Jokowi-Ma’ruf isinya Zonk, Portal-Islam.id (12 Januari 2019).

Demokrasi Melahirkan Pemimpin Serakah

Setiap warga negara Indonesia berhak untuk memilih dan menentukan pilihannya, tentu ungkapan ini sudah tidak asing lagi sebab termasuk dalam bagian dari politik yang diemban sistem demokrasi.

Dalam pemilihan presiden jelas akan mengharapkan dukungan penuh dari rakyat yang akan dipimpinnya. Berbagai carapun dilakukan dalam rangka mengkampanyekan diri dengan membawa visi dan misi masing-masing kandidat. Selain itu, akan sangat menguntungkan bagi figur jika ada suatu instansi atau lembaga tertentu yang melayangkan deklarasi dukungan dihadapan publik kepada pihak tertentu. Namun, sangat disayangkan jika pernyataan deklarasi justru dijadikan senjata politik untuk meraup keuntungan.

Opini dan penyebaran hoax adalah salah satu jalan mengaburkan kebenaran. Jalan ini ditempuh untuk membangun opini publik dengan menyebarkan berita bohong. Dengan begitu, akan nampak kecondongan figur tertentu bahwa telah memiliki kelayakan untuk terpilih, meskipun pada faktanya kepemimpinan yang ada hanya akan melanjutkan kepemimpinan sebelumnya. Sebab yang berganti adalah orang demi orangnya, bukan sistem atau pedoman dalam menjalankan pemerintahan yang diganti. Alhasil, pemilihan figur yang baru ataupun yang lama sama sekali tidak akan mengantarkan pada kemaslahatan yang dikehendaki umat. Sebagai contoh pemimpin yang hobi mengingkari janji, tidak layak menduduki kursi kepemimpinan.

Inilah bukti kebobrokan demokrasi yang menghalalkan segala cara. Demokrasi berdiri atas dasar sekularisme yakni pemisahan agama dari kehidupan. Tidak rela jika hidupnya diatur oleh Islam. Alhasil, dalam menjalankan roda pemerintahan, kepemimpinan yang diembanpun dibangun berdasarkan asas sekularisme ini. Konsepsi dan aturan kehidupan akan berasal dari sekularisme. Aturan kehidupan sosial, ekonomi, politik dsb, akan berasal dari sana. Pandangan tentang kehidupan pun tak lepas dari pencarian kebahagiaan yang sumbernya dari akal dan nafsu belaka.

Keliru Memandang Masalah, Sulit Menemukan Solusi Tuntas

Sampai saat ini senantiasa ada kekeliruan dalam memandang peranan penting pemerintahan. Keinginan berkuasa kini sangat dielu-elukan, bahkan sampai rela mengeluarkan sejumlah uang untuk mendapatkan sebuah dukungan. Kepemimpinan seperti tidak lagi menjadi suatu amanah sakral yang tak semua orang mau dan mampu memikulnya. Tatkala melihat kemungkaran terjadi dalam masa pemerintahan tersebut, maka yang dilihat hanya kesalahan orang-orang yang berada didalamnya. Sementara itu, pergantian figur justru tidak menjawab dan menuntaskan problematika kehidupan.

Lalu, apa yang sebenarnya menjadi akar permasalahan rakyat, jika pergantian pemimpin tidak berhasil menuntaskan masalah umat?

Sistem demokrasilah akar berbagai problematika yang terjadi ditengah-tengah umat, sebab asas sekulerisme yang diembannya dengan nyata tidak membiarkan hukum-hukum yang bersumber dari Sang Pencipta untuk mengatur seluruh aspek kehidupan. Dan telah nyata kemaksiatan yang ditimbulkannya. Sehingga, tidak ada jalan lain untuk keluar dari lingkaran keburukan selain mencampakkan demokrasi dan mengambil Islam sebagai sistem kepemimpinan seluruh umat manusia. Kepemimpinan dalam Islam bukan hanya untuk orang muslim saja, namun untuk seluruh umat manusia. Minoritas telah terbukti aman hidup dalam naungan sistem Islam yang pernah berjaya selama 14 abad lamanya. Wallahua’lam bi shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.