Mahasiswa Remah Ekonomi Arahan Kapitalis

51

Oleh: Salamatul Fitri (Anggota Komunitas Muslimah Jambi Menulis)

Berbicara dunia mahasiswa memang tidak ada habisnya. Mereka selaku generasi muda memang harus dituntut inovatif dan kreatif guna memberikan kontribusi terbaiknya. Program entrepreneur atau kewirausahaan memang digencarkan di kalangan mahasiswa. Guna meningkatkan semangat mereka menjalani dunia usaha. Selain itu juga menggenjot ekonomi bangsa. Sayangnya peran mahasiswa sebagai agent of change tergadai dengan gencarnya program kewirausahaan. Mereka hanya menjadi generasi remah ekonomi. Menjadi penopang ekonomi, ditambah bonus demografi di tahun 2030.

Wirausahawan dapat tumbuh dimana saja termasuk di Universitas. Universitas Jambi pun telah banyak melahirkan enterpreneur sejak lama melalui pusat study inkubator bisnis. Pusat inkubator bisnis ini adalah untuk meningkatkan kinerja wirausahawan baru. Dengan melakukan pendampingan, konservasi, bimbingan teknis, memfasilitasi karena tidak dipungkiri ada banyak wirausahawan baru yang kekurangan modal. Adanya inkubator bukan meminjamkan tapi memfasilitasi ke lembaga keuangan untuk mendapatkan tambahan modal. (jambi.tribunnews.com, 21/11/2018).

Bukan hanya menyediakan lembaga guna mendukung mahasiswa menjadi entrepreneur muda. Universitas juga mengadakan seminar dan expo kewirausahaan untuk mendorong mahasiswa menjadi entrepreneur sukses. Salah satunya adalah Departemen Agribisnis, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor (IPB) kembali mengadakan seminar dan expo kewirausaan yang bertujuan untuk menggembleng mental civitas akademiknya menjadi wirausahawan-wirausahawan sukses. (bogor.tribunnews.com, 10/12/2018).

Hal ini juga didukung oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla yang mengatakan bahwa kampus harus memahami tantangan di bidang ekonomi bukan hanya revolusi industri tetapi revolusi kewirausahaan. Tantangan ini harus dijawab dengan pola pikir kreatif. Beliau juga mencontohkan orang-orang sukses yang menapaki karier kewirausahaan sejak duduk di bangku universitas, seperti Bill Gates. (m.detik.com, 19/01/2019).

Mahasiswa Remah Ekonomi Arahan Kapitalis              

Potensi mahasiswa yang kreatif, inovatif diarahkan oleh sistem kapitalis berdaya dalam ekonomi. Kapitalis melihat bahwa mereka adalah generasi muda yang kelak akan memberikan kontirbusinya. Saat ini kapitalis memang menguasai perekonomian dunia sehingga upaya pemberdayaan generasi muda begitu digencarkan dan merambah perguruan tinggi.

Forum Ekonomi Dunia atau lebih dikenal dengan World Economic Forum (WEF) adalah sebuah yayasan organisasi non profit yang didirikan di Jenewa yang selalu mempertemukan para pemimpin atas bisnis dunia, pemimpin politik seluruh dunia untuk mendiskusikan masalah penting yang dihadapi dunia termasuk kesehatan dan lingkungan. Adapun rekomendasi yang diberikan WEF Negara-negara ASEAN harus menumbuhkan jiwa  wirausahawan digital untuk menggenjot ekonomi. Dengan menggunakan pasar digital tunggal, ASEAN dapat membangun pan-regional service dalam bidang keuangan, kesehatan, dan e-commerce.

Begitulah kapitalis global memanfaatkan potensi yang dimiliki generasi muda. Jika mahasiswa sibuk dalam wirausaha, membuka lapangan pekerjaan maka menjauhkan mereka dari peran hakikinya sebagai tombak perubahan. Sebagai penyambung lidah rakyat yang peduli dengan permasalahan yang mendera negeri. Bagaimana nasib rakyat jika mahasiswanya mati suri dari pergerakan.

Keterlibatan mereka dalam dunia usaha juga meringankan tugas penguasa yang seharusnya berkewajiban membuka lapangan pekerjaan bagi rakyatnya. Di sisi lain memang baik tetapi justru melalaikan penguasa dari tanggung jawabnya mengurusi rakyat. Seharusnya mahasiswa tidak terjebak dengan program pemberdayaan ini yang justru membuat mereka cenderung pasif dalam mengawal perubahan. Mahasiswa harusnya aktif dalam mengawal perubahan, melakukan diskusi-diskusi publik guna membahas permasalahan negeri serta mencari solusi terbaiknya.

Mahasiswa Sebagai Leader of Change

Peran mahasiswa adalah sebagai agent of change. Menjadi mahasiswa yang kritis menyuarakan kebenaran islam. Mengkritik kebijakan penguasa yang menzalimi rakyat. Mengedepankan tugas perubahan guna kehidupan yang lebih baik di masa mendatang.

Bukan hanya sebagai agen perubahan tetapi leader of change, pemimpin perubahan. Pemimpin perubahan, berarti wajib menentukan arah pergerakan. Menjadi generasi penerus peradaban. Menjadi tempat di mana rakyat menggantungkan harapan. Sebuah amanah besar yang harus dipertanggungjawabkan.

Sebagai pemimpin perubahan, harus punya pendirian. Bukan cuma ikut-ikutan. Bukan hanya melaksanakan arahan. Bukan pemimpin, jika geraknya justru didikte oleh penguasa. Apalagi jika mengikuti saja program yang dijalankan penguasa guna membuat mahasiswa tumpul dalam aktivisnya sebagai pemimpin perubahan.

Bukan pemimpin, jika menurut saja saat penguasa memerintahkan untuk aktif dalam kewirausahaan. Fokus menjadi enterprenur muda tetapi abai terhadap permasalahan yang mendera rakyat. Mengejar ekonomi mapan guna kehidupan lebih baik, tetapi tidak sedih jika rakyat kelaparan. Begitulah realita mahasiswa yang katanya leader of change ini. Miris.

Ditambah lagi propaganda radikalisme menjadikan mahasiswa menjauh dari ajaran Islam yang sesungguhnya. Menjadi takut menyuarakan Islam karena tidak ingin dicap radikal. Mereka menjadi diam seribu bahasa atas segala kebijakan penguasa yang salah. Sungguh, ini bukanlah sosok mahasiswa sebagai pemimpin perubahan, melainkan hanya agen pemerintahan.

Wahai mahasiswa, jadilah pemimpin perubahan yang bervisi kuat, menggerakkan perubahan dengan metode yang tepat guna mencapai perubahan hakiki yang diinginkan. Demi terwujudnya kesejahteraan rakyat serta pertanggung jawaban di akhirat. Jadilah pemimpin layaknya Rasulullah Muhammad SAW. Sosok pemimpin yang paling berpengaruh di dunia menjadi sosok yang mampu terdepan memperjuangkan islam. Pemimpin yang membebaskan masyarakat dari kejahilian menuju masyarakat yang menjadikan islam sebagai satu-satunya aturan. Membangkitkan umat dengan pemikiran hingga terwujud peradaban gemilang.

Perubahan sebenarnya adalah perubahan yang berlandaskan akidah, berpedoman pada syariah dengan menegakkan sistem islam kaffah dalam kehidupan. Maka tugas mahasiswa sebagai leader of change yaitu memimpin perubahan dengan mengembalikan penerapan islam kaffah. Memimpin umat dan membangkitkan taraf berfikirnya dengan tekad kuat guna menggapai kebangkitan islam jilid II. Wallahu’alam bisshawab

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.