Liberalisme Attack Mendegradasikan Moral Remaja

122

Indahnya kisah-kasih kita di masa remaja

Di bawah rayu senja kita di madu bermanja

Tiada masa-masa yang lebih indah dari masa remaja

Seakan dunia, milik berdua

Penggalan lirik lagu berjudul Remaja tersebut di atas benarlah menggambarkan kondisi remaja saat ini. Mungkin sebenarnya bukan hanya saat ini atau biasa dikenal zaman now, karena faktanya remaja yang jauh dari pendidikan agama yang menyeluruh akan bertindak selayaknya fakta yang terindera. Perilakunya tak jauh dari kemaksiatan, yakni seks bebas akibat pergaulan bebas, narkoba, pemalakan, mabuk-mabukan, begal, pembunuhan dan lain sebagainya.

Belum lama ini, Direktur Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Lampung, Dwi Hafsah Handayani, mengungkapkan temuan mengejutkan. Ia menemukan satu SMP di Lampung yang 12 siswinya hamil. Hafsah pun menyampaikan, ia pernah melakukan survei ke apotek di sekitar kampus dan daerah kos-kosan. Dari survei tersebut diketahui, ada sekitar 100 kondom terjual dalam satu bulan.

Di Cikarang, pihak sekolah di satu SMPN Cikarang Selatan berhasil membongkar jaringan mesum siswa-siswi mereka yang tergabung dalam satu grup aplikasi percakapan Whatsapp. Grup itu beranggotakan 24 siswa-siswi kelas IX dari berbagai kelas. Kasus itu terbongkar saat pihak sekolah merazia handphone milik siswa. Berbagai percakapan tidak senonoh, berbagai video porno hingga ajakan berbuat asusila dan tawuran, beredar di grup tersebut.

Pada tahun 2017 lalu, Indonesia Police Watch (IPW) melalui Ketua Presidium-nya Neta S Pane menyatakan bahwa remaja Indonesia terbelit persoalan seks bebas dan LGBT. Terkait LGBT, baru-baru ini terungkap adanya grup gay pelajar SMP di Garut. Menurut Wakil Bupati Garut, sebagaimana dikutip detik.com baru-baru ini, jumlah mereka ribuan.

Rentetan kejadian asusila tersebut sepantas membuat orangtua resah, bahkan masyarakat sekalipun. Karena kesemuanya merupakan penyakit yang menular yang apabila dibiarkan akan kian mewabah. Tidak ada efek jera membuat hal tersebut terulang secara berantai, karena remaja yang dengan segala keingin tahuannya berpikir tak salah untuk mencoba, karena terhukumi hanya sebentar.

Tak ada asap jikalau tak ada api, semua tindakan pastinya ada sabab musababnya. Banyak faktor yang mengakibatkan pergaulan bebas remaja saat ini. Diantaranya:

  1. Peran Keluarga.

Keluarga yang seharusnya menjadi wadah utama untuk pembentukan karakter moral dan spiritual bagi anaknya kini telah abai, sebagian besar orangtua telah menitik beratkan perbaikan akhlak bagi putra putrinya sepenuhnya pada sekolah berbasis Islam, mereka berharap penuh dengan menyekolahkan anaknya di sekolah Islam terpadu dapat secara instan menjadikan anaknya pribadi yang sholih sholihah, tanpa mau berperan secara utuh dirumah. Bahkan banyak orangtua membebaskan anaknya untuk bergaul, berpacaran, nongkrong di malam minggu dengan dalih agar mereka bersosialisasi. Padahal kenyataannya justru mereka dengan mudah membuka jalan pergaulan bebas sebebas bebasnya.

  1. Cueknya masyarakat menjadi faktor berikutnya penyebab pergaulan bebas. Saat ini masyarakat pada umumnya tak mau ambil pusing perihal banyaknya kemaksiatan yang terjadi di sekelilingnya. Mereka abai dan menganggap hal yang wajar jika saat ini banyak remaja yang berpacaran baik di rumah maupun di tempat indekos. Bahkan memandang lumrah, saat terjadi pernikahan karena hamil terlebih dahulu, na’udzubillah. Sehingga remaja pun tak memiliki ketakutan dan efek jera saat mereka melakukan seks diluar ikatan pernikahan.
  2. Negara abai terhadap pembinaan moralitas remaja. Persoalan moral dipandang sebagai urusan personal, bukan menjadi tanggung jawab negara. Negara lebih banyak mengambil kebijakan kuratif, menangani korban pergaulan bebas, ketimbang mengambil tindakan preventif (pencegahan). Misalnya negara lebih sibuk menangani korban aborsi ataupun penularan penyakit kelamin, termasuk HIV/AIDS di kalangan remaja.

Alih-alih melarang pergaulan bebas di kalangan remaja, negara justru mengkampanyekan bahaya pernikahan dini. Padahal prosentase kasus nikah dini amat rendah dibandingkan dengan perilaku pacaran dan seks bebas di kalangan pelajar. Lagipula mengapa mesti nikah yang dipersoalkan, yang itu sah secara hukum agama, sementara pacaran yang jelas mendekati zina justru dibiarkan?

Yang menjadi pangkal dari persoalan ini adalah negara memberlakukan sistem kehidupan sekular-liberal. Dalam sistem kehidupan seperti ini, setiap individu diperbolehkan untuk melakukan apa saja, termasuk dalam perilaku seksual. Tidak heran bila kemudian perilaku seks bebas, LGBT dan berbagai perilaku menyimpang lainnya semakin marak. Nilai-nilai sekular-liberal itu sudah masuk ke tengah-tengah masyarakat lewat bacaan, tontonan, lagu-lagu, penyuluhan, dan sebagainya.

Azab Keras bagi Pelaku Zina

Perzinaan adalah salah satu dosa besar dalam pandangan Islam. Bahkan sekadar mendekati zina pun dilarang, seperti ber-khalwat (berdua-duaan laki-laki dan wanita dewasa tanpa mahram), bercumbu, merayu, dsb. Allah SWT berfirman:

Janganlah kalian mendekati zina. Sungguh zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan jalan yang buruk (TQS al-Isra [17]: 32).

Orangtua wajib menanamkan pemahaman pada anak remaja mereka bahwa kedudukan mereka sudah menjadi mukallaf di hadapan Allah SWT. artinya, amal perbuatan mereka kelak akan dipertangunggjawabkan di hadapan-Nya. Karena itu mereka wajib menjaga diri dari perkara yang telah Allah SWT haramkan.

Masyarakat pun tidak sepantasnya membiarkan seks bebas apalagi menerima itu sebagai kewajaran perilaku anak muda. Padahal itu adalah kemungkaran yang seharusnya dihentikan. Begitupun pentingnya peran negara. Negara harus berperan dalam menjaga akhlak masyarakat, termasuk mencegah berbagai perbuatan yang mendekati zina. Sekolah-sekolah harus mendidik dan memperingatkan para pelajar agar tidak melakukan aktivitas pacaran baik di lingkungan sekolah maupun di luar. Sanksi pun harus diberikan kepada para remaja dan pelajar yang melanggar aturan tersebut.

Syariah Islam telah memperingatkan akan kerasnya sanksi untuk para pezina. Allah SWT berfirman:

Pezina wanita dan pezina laki-laki, cambuklah masing-masing dari keduanya seratus kali cambukan… (TQS an-Nur [24]: 2)

Keharaman zina dan kerasnya sanksi yang dijatuhkan adalah bentuk perlindungan terhadap umat manusia. Perbuatan zina nyata merusak kehormatan dan mengacaukan nasab bayi yang lahir. Bila nasab anak yang masih jelas diketahui ayah biologisnya saja sudah dirusak oleh perbuatan zina, bagaimana dengan nasib bayi-bayi yang dibuang oleh orangtuanya? Sungguh malang nasib mereka.

Telah jelas kerusakan yang ditimbulkan aturan hidup selain Islam. Liberalisme telah merusak keluarga-keluarga kaum Muslim dan menghancurkan masa depan kaum muda kita. Sadarilah kerusakan ini!

Tak ada lagi jalan keluar yang dapat menyelamatkan generasi muda dan masyarakat melainkan syariah Islam. Sudah saatnya kita kembali pada aturan-aturan Allah SWT yang telah menjamin kebaikan dan keberkahan hidup. Sungguh hanya dengan menerapkan syariah Islam secara kaffah, kehidupan dan kehormatan umat manusia akan terlindungi. WaALlahu’alam bishawab.

Oleh: Novi Purnawati ( Member Akademi Menulis Kreatif).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.