Liberalisasi Keluarga Muslim di Balik Peringatan Hari Keluarga

Oleh: Nadia Ayuni (Aktivis Komunitas Remaja Islam Peduli Negeri)

Keluarga memegang peranan penting dalam kehidupan. Karena setiap manusia atau muslim tentunya berangkat dari sebuah keluarga. Keluarga memiliki fungsi yang sangat strategis dan politis. Yaitu mencetak generasi yang beriman dan bertakwa, cerdas dan mampu memimpin umat untuk membangun peradaban ideal di masa depan. Sebagaimana peradaban ideal umat islam di masa lalu hingga muncul sebagai umat terbaik.

Selain itu, keluarga juga memiliki fungsi sosial yaitu pranata awal pendidikan primer bagi anak, dengan orang tua sebagai sumber pengajaran pertama. Sehingga keluarga bisa diibaratkan sebagai madrasah bagi anak-anaknya. Untuk itu,  sangatlah penting menjaga keluarga dari segala bentuk liberalisasi yang dipropagandakan barat guna menghancurkan peran keluarga yang hakiki.

Seperti halnya, liberalisasi keluarga muslim dibalik Peringatan Hari Keluarga. Peringatan ini seolah tampak elok dirayakan namun dibaliknya mengandung virus-virus liberalisasi. Terbukti dengan berbagai kegiatan yang akan digelar dalam mewarnai peringatan Harganas di Kalimantan Selatan, baik pra puncak peringatan maupun pasca acara. Diantaranya Festival Penggalang Ceria, GenRe Edu Camp, One Stop Service pelayanan untuk anak-anak terlantar. Dan beberapa kegiatan seminar diantaranya tentang kependudukan dan perkawinan anak yang mencapai 30 persen di Kalimantan Selatan hingga lomba pencegahan perkawinan anak. Selain itu, untuk meningkatkan kesertaan peserta KB jangka panjang, diadakan pelayanan KB gratis untuk pasangan usia subur. (Dilansir dari Fajar.Co.Id , 5/2/2019). Tampak jelas Peringatan Hari keluarga Nasional tersebut menjadi  ajang penebaran virus-virus liberalisasi Barat. Seminar perkawinan anak bahkan lomba pencegahan perkawinan anak seolah dapat meningkatkan pemahaman masyarakat dalam penerapan delapan fungsi keluarga.

Delapan fungsi keluarga tersebut menjadi salah satu tujuan dari diselenggarakannya Harganas ini yakni agama, cinta kasih, perlindungan, ekonomi, pendidikan, reproduksi, sosial dan budaya serta lingkungan, (sebagaimana dilansir dari Fajar.Co.Id, 5/2/2019). Padahal jika dicermati mencegah perkawinan dini justru akan menyuburkan pergaulan bebas, seks bebas dan sebagainya yang justru semakin memporak-porandakan tatanan keluarga dan bermasyarakat. Karena remaja yang telah siap menikah baik fisik maupun nonfisiknya tidak bisa membangun rumah tangga sebab terkategori pernikahan dini. Akibatnya, jika ia tidak memiliki bekal agama yang kuat, ia akan mencari jalur lain untuk bisa memenuhi keinginannya seperti seks bebas, pacaran dan sebagainya.

Walhasil, delapan fungsi keluarga tersebut tidak akan bisa tercapai jika solusinya sebatas mencegah perkawinan dini, program KB dan sebagainya. Karena yang menjadi sebab hancurnya keluarga mulai dari tingginya masalah perceraian keluarga, broken home, KDRT bahkan tak jarang kasus kriminalitas adalah liberalisasi. Liberalisasi ini akan terus subur jika sistem sekuler ini terus diterapkan dalam kancah kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Sebab sistem sekuler akan menjauhkan nilai-nilai agama dari kehidupan termasuk dalam berkeluarga. Keluarga tidak akan menjadi tempat ketenangan tiap anggotanya karena tersibukkan mencari nafkah untuk memperbaiki ekonomi keluarga. Terlupa akan visi misi keluarga yang sesungguhnya.

Misalnya saja, liberalisasi keluarga melalui pemberdayaan perempuan guna memperbaiki dan meningkatkan ekonomi keluarga akan terus digaungkan. Disamping sistem ekonomi kapitalistik yang diterapkan, membuat kehidupan mayoritas masyarakat termasuk keluarga muslim terjebak dalam kemiskinan kultural dan struktural. Sampai akhirnya banyak para ibu yang  terpaksa masuk dalam bursa tenaga kerja murah dengan konsekuensi harus menanggalkan peran strategis mereka yakni sebagai isteri dan ibu pendidik generasi bangsa. Akibatnya keluargalah yang menjadi korbannya.

Untuk itu, perlu upaya yang efektif dan efisien untuk menyelamatkan keluarga dari kehancurannya dan mewujudkan keluarga yang diimpikan bagi tiap jiwa. Yakni keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah. Tentu, keluarga ideal tersebut hanya bisa terwujud jika dilandasi dengan iman dan takwa. Menjadikan islam sebagai asas kehidupan berumah tangga. Mengerti visi misi keluarga yang hakiki sehingga tiap anggota keluarga akan mendapat hak dan kewajibannya masing-masing. Sebagaimana yang telah dicontohkan Nabi Muhammad Saw. dalam membangun kehidupan berumahtangga, hingga menjadi keluarga yang paling ideal di sepanjang masa. Karena mewujudkan sistem berbasis islam dalam tiap kancah kehidupan dimulai dari tingkat keluarga, bermasyarakat sampai bernegara.

Oleh karena itu, keluarga ideal akan terwujud secara global jika sistem islam menjadi tatanan berkeluarga, bermasyarakat dan bernegara. Karena Islam akan mewujudkan sistem yang terbaik di sepanjang masa dan peradabannya, mewujudkan keluarga-keluarga tangguh, bahkan masyarakat unggul dan negara adidaya. Wallahu a’lam.   

BAGIKAN
Berita sebelumyaHaramnya OBOR Cina
Berita berikutnyaMenyoal Sampah Impor

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.