Larangan Bicara Politik di Masjid: Membungkam Dakwah Islam

38

Oleh: Ummu Athifa (Muslimah Peduli Umat)

Gerakan Nasional Jutaan Relawan Dukung Joko Widodo atau Jokowi membuat program antipolitisasi masjid. Program itu dilakukan melalui ceramah dan pengajian yang digelar relawan.”Kami melakukan ceramah soal itu tiap ada pengajian relawan,” kata koordinator gerakan, Sylver Matutina di Sarinah, Jakarta Pusat, Ahad, 22 April 2018. Relawan menggagas program ini untuk mengembalikan fungsi masjid sebagai tempat ibadah. (https://nasional.tempo.co/read/1082066/relawan-jokowi-luncurkan-program-antipolitisasi-masjid).

Ini sangat bertentangan dengan fungsi mesjid dalam kancah dakwah Islam. Rasulullah SAW menjadikan mesjid tidak hanya sebagai bagian dari ibadah ritual saja, tetapi menjadi bagian dari politik dakwah Islam. Karena pada hakikatnya,  masjid berfungsi sebagaimana seharusnya, pusat segala macam aktivitas kaum muslimin.  Dan Rasulullah telah mencontohkan hal tersebut.

Anti politisasi mesjid yang digencarkan ini, karena tidak lain adanya rencana dari pihak asing untuk menjauhkan kaum muslimin dari urusan umat. Berbicara politik tidak hanya masalah penguasa saja, tetapi dalam Islam sangat penting karena berhubungan langsung dengan menyelesaikan persoalan umat.

Menurut KH Shiddiq al-Jawi (2015), istilah politisasi agama (tasyîs ad-dîn) sebenarnya bukanlah istilah netral, melainkan istilah yang terkait dengan suatu pandangan hidup  Barat, yaitu sekularisme. Dalam masyarakat sekular Barat, pemisahan politik dari agama adalah suatu keniscayaan. Karena itu politisasi agama dipandang ilegal.

Sekularisme inilah yang menjadi biang kehancuran kehidupan manusia di segala bidang: akhlak (moral), ekonomi, pendidikan, politik, hukum, dll. Akibat politik yang dijauhkan dari agama (Islam) wajar jika kemudian tumbuh subur kerusakan moral, korupsi, suap-menyuap, penjualan aset-aset milik rakyat oleh penguasa, jual-beli hukum, lahir banyak kebijakan penguasa yang menindas rakyat, dsb.

Ini tentu berbeda dengan Islam yang tidak memisahkan agama dari urusan kehidupan masyarakat, termasuk politik. Politik (as-siyâsah) adalah bagian integral dari Islam. Dikatakanlah, Al-Islâm dîn wa minhu ad-dawlah (Islam adalah agama dan politik adalah bagian dari agama).

Sebagai contoh teladan kita, Rasulullah Shallallahu’alaihi wassallam saat tiba di Yatsrib (Madinah) dalam peristiwa hijrah, yaitu Masjid Quba (Masjid yabg dibangun pertama kali).  Setelah Masjid Quba, Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi wassallam mendirikan Masjid Nabawi pada 18 Rabiul Awal tahun pertama Hijrah. Di masjid Nabawi inilah shalat dan ibadah pada mulanya banyak dilakukan. Di masjid itu pula Rasulullah Shallallahu’alaihi wassallam menyampaikan ajaran Islam, nasihat dan pidatonya kepada umat Islam.

Oleh karena itu, menjadi kewajiban kaum  muslimin untuk mengembalikan fungsi masjid sebagaimana pada masa Nabi shallallahu alaihi wa sallam bukan sekadar tempat shalat saja. masjid juga harus dimakmurkan oleh kaum beriman, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّهَ فَعَسَى أُولَئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ

Sungguh yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang-orang yang mengimani Allah dan Hari Akhir, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah. Merekalah yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk (QS at-Taubah [9]: 18).

Dengan demikian, kaum muslimin harus memakmurkan masjid dengan berbagai aktifitas yang akan membangun ketakwaan kaum  muslimin dan menyatukan umat dalam masjid.

Wallahu’alam bi shawab

JASA EDIT VIDEO, VIDEO SHOOTING, VIDEO COMPANY PROFILE Telp. 0818 0490 4762

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here