Khilafah yang Membuat Resah Pemerintah

Cita Asih Lestari S.Pi

Penggunaan buku mata pelajaran Fiqih di Kelas XII Madrasah Aliyah (MA) yang terdapat materi Khilafah di Kabupaten Pangandaran mengundang reaksi dari anggota DPRD. Salah satu anggota Komisi IV dari Fraksi PKB DPRD Pangandaran Subaryo mengatakan, pihaknya meminta guru mata pelajaran Fiqih kelas XII MA di Kabupaten Pangandaran untuk tidak menggunakan buku tersebut.

“Kami minta pihak Kementerian Agama (Kemenag) Pangandaran mengintruksikan guru mata pelajaran Fiqih tidak lagi menggunakan buku tersebut dalam melaksanakan kegiatan belajar,” kata Subaryo.

Subaryo menambahkan, pihak Kemenag Pangandaran harus segera mencari referensi pegangan guru yang baru dan melakukan koordinasi dengan pihak Kemenag Wilayah dan Kemenag RI buku yang layak untuk diajarkan. “Kami menilai ajarah khilafah tidak cocok diterapkan di Indonesia apalagi di Pangandaran,” tambahnya.(Sindonews.com)

Sangat disayangkan, pernyatan seorang wakil rakyat ini yang notabene muslim memperlihatkan alerginya pada ajaran Islam. Apakah beliau tidak  tahu kalau khilafah Islamiyyah adalah bagian dari ajaran Islam? Apakah beliau pernah membaca berbagai pendapat para ulama ahlussunnah wal jamaah tentang khilafah Islamiyyah? Apakah beliau sepakat bahwa setiap muslim wajib melaksanakan ajaran Islam mulai dari bersuci sampai ekonomi, politik dan pemerintahan? Bolehkah seorang muslim mengabaikan satu ajaran Islam dan memilih ajaran Islam yang lain? Bila tidak boleh, maka bagaimanakah cara melaksanakan ajaran Islam itu secara keseluruhan?

Bila ada pihak yang mengatakan bahwa sistem republik dan demokrasi yang sekarang berlaku adalah hasil ijtihad para ulama, maka tahukah bahwa ijtihad tidak bisa membatalkan hukum syara’ yang telah jelas dan fix? Misalnya haramnya riba tak bisa dibatalkan dengan ijtihad bahwa bunga bank bukanlah riba tapi kompensasi bagi nasabah?

Sampai disini permasalahan yang mendasar adalah  lemahnya dalam budaya literasi. Malas mencari referensi, misalnya tentang khilafah yang mereka tolak, sehingga akhirnya mudah digiring dan atau menggiring orang untuk membenci sesuatu yang belum mereka pahami.

Tepatlah pepatah Arab yang menyatakan;

الانسان عدو ما يجهل

Manusia memusuhi apa yang tidak ia ketahui

Mungkin orang yang menganggap Khilafah ini sumber keresahan  hanyalah ‘korban’ yang digiring pada sikap tidak terpuji dengan pola ditakut-takuti ‘Islam sebagai ancaman’. Bahwa khilafah dan Syariat Islam itu berbahaya bagi bangsa ini, menyebabkan perpecahan, mengancam warga nonmuslim, dsb.

Strategi untuk “memonsterisasi” Khilafah seakan menjadi ancaman bangsa dan negara telah berjalan menjalar ke berbagai lapisan masyarakat.   Ini pembodohan, tapi keterlaluan bila kemudian orang percaya begitu saja dengan omongan seperti itu. Termasuk amat keterlaluan bila seorang muslim, apalagi tenaga pendidik yang harusnya berpikir ilmiah, percaya bila khilafah yang merupakan ajaran Islam adalah ancaman dan buruk bagi umat Muslim di Indonesia. Sementara Allah SWT. berfirman:

Tidaklah kami turunkan al-Qur’an untuk menyusahkan (TQS. Thaha:2)

Penolakan khilafah – yang sesungguhnya ajaran Islam – adalah sikap kontradiksi dan kontraproduktif dengan misi pengajaran agama Islam di sekolah-sekolah yang seharusnya menjadikan para siswa muslim taat sepenuhnya pada Allah SWT. Lebih-lebih lagi, sikap tersebut berbahaya karena berisi penolakan pada salah satu ajaran Islam, yang oleh para ulama disebut sebagai taj al-furudl (mahkota kewajiban) dan min a’dzom al-wajibat (kewajiban yang paling agung). Bukankah seorang muslim menolak shaum Ramadlan saja berdosa, menolak kewajiban shalat lima waktu juga berdosa?

Bila para wakil rakyat belum seutuhnya memahami hukum fikih dan sejarah Khilafah, maka lebih mulia dan tepat bila para wakil rakyat  bersama-sama mendeklarasikan penentangan terhadap sesuatu yang amat jelas untuk ditolak karena berbahaya, semisal penolakan terhadap LGBT, Narkoba atau Free sex yang menjadi keresahan semua elemen masyarakat.

Baiknya kita tumbuhkan  budaya literasi, gemar membaca, berdiskusi secara ilmiah, lalu munculkan ketundukan pada ajaran Islam yang telah dibahas jelas oleh para ulama mu’tabar, bukan pada ulama dunia yang menjual agama untuk mendapat jatah hidup.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.