Khilafah: Kewajiban, Keniscayaan, dan Solusi Problematika Kehidupan

94

khilafah_mediasiarOleh: Fitriyani, S.Pd (Ibu Rumah Tangga dan Pemerhati Masyarakat)

Lagi, khilafah menjadi perbincangan publik. Tak hanya di level politisi dan akademisi, topik mengenai khilafah dibahas seluruh lapisan masyarakat hingga di warung-warung kopi. Sayangnya, guliran opini khilafah belum diimbangi dengan informasi yang benar akan hakikat khilafah itu sendiri dan bagaimana khilafah bisa menjadi solusi bagi permasalahan yang mendera dunia saat ini.

Khilafah adalah Kewajiban

Setelah berbagai stigmatisasi dan monsterisasi yang dilakukan untuk memperburuk citra khilafah di hadapan umat, tetap tak bisa dinafikan bahwa khilafah adalah bagian dari ajaran Islam yang mulia. Khilafah adalah sistem pemerintahan yang diwariskan oleh Rasulullah SAW. Khilafah berbeda sama sekali dengan sistem pemerintahan lain yang ada di dunia. Ia bukan demokrasi, bukan monarki, bukan otokrasi, bukan pula oligarki. Khilafah adalah kepemimpinan umum bagi seluruh kaum Muslimin di dunia, yang akan menerapkan seluruh ajaran Islam dan mengemban risalah Islam ke seluruh penjuru dunia. Dari definisinya, khilafah memiliki tiga esensi, yaitu ukhuwah, syariah, dan dakwah.

Ukhuwah, karena khilafah akan menyatukan seluruh kaum Muslimin yang saat ini disekat dalam ikatan nasionalisme. Syariah, karena keberadaannya bertujuan untuk menerapkan syariah Islam. Seperti yang kita ketahui, sasaran taklif hukum Islam tidak hanya berlaku untuk individu, tetapi juga masyarakat dan negara. Tanpa adanya khilafah, mustahil Islam kaffah bisa mewujud nyata. Selanjutnya dakwah, karena khilafah akan menyebarluaskan Islam ke seluruh dunia hingga rahmatnya bisa terasa di alam semesta.

Seorang ulama besar asal Mekkah, Prof. Dr. Abdullah bin Umar Dumaiji dalam kitabnya yang berjudul Al Imamah ‘inda Ahlis Sunnah wal Jama’ah menyatakan bahwa khilafah adalah sistem pemerintahan yang Allah fardhukan atas kaum Muslimin. Imam Qurthubi menyebutnya sebagai kewajiban yang paling agung (a’zhamul waajibaat). Syaikh Taqiyuddin An Nabhani menganggapnya sebagai mahkota kewajiban (taajul furuudh). Begitu mendesaknya perkara kepemimpinan dalam Islam, hingga kita dapati dalam sejarah bahwa para sahabat Nabi lebih mendahulukan pengangkatan khalifah yang akan mengurusi urusan kaum Muslimin dibandingkan mengurusi jenazah manusia paling mulia, Rasulullah SAW.

Sayangnya, khilafah yang Allah wajibkan itu belum tegak sampai detik ini. Tanpa khilafah, umat seperti ayam yang kehilangan induknya; tanpa perlindungan, tanpa keamanan, ajaran dan simbol Islam dinistakan. Maka, sudah seharusnya penegakan khilafah menjadi agenda utama dan perkara ‘hidup-matinya’ umat Islam.

Khilafah adalah Keniscayaan

Sudah 95 tahun berlalu sejak khilafah yang terakhir diruntuhkan. Sejak saat itu, kehidupan umat diatur dengan aturan yang bukan berasal dari Sang Pencipta. Hal ini menyebabkan ajaran Islam semakin jauh dan asing, sementara gaya hidup sekuler semakin mendarah daging. Tak pelak, ide untuk mengembalikan kembali sistem khilafah dianggap sangat berat, bahkan utopis.

Padahal, tegaknya khilafah dan datangnya pertolongan Allah tidak bisa dinalar hanya dengan logika. Jika merujuk kepada Al Quran, dan melihat dengan pandangan keimanan, misalnya dalam Surah An Nur ayat 55, Allah berjanji akan memberi kemenangan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan dengan menjadikan mereka berkuasa, mengganti kondisi mereka yang tadinya berada dalam ketakuan menjadi aman sentosa. Dan dalam hadits baginda Rasulullah SAW juga dinyatakan bahwa umat Islam akan sampai pada fase kelima, yaitu khilafah yang mengikuti metode kenabian (khilafah ‘alaa minhaajin nubuwwah). Jika dengan janji manusia saja kita bisa mudah percaya, apalagi ini, janji Allah, Dzat yang tak pernah mengingkari janji-Nya, juga kabar gembira (bisyarah) dari Rasulullah SAW yang harusnya menjadikan keyakinan kita melampaui realita yang ada.

Khilafah adalah Solusi Problematika Kehidupan

Semua manusia di belahan dunia ini mendamba kehidupan yang aman dan sejahtera. Di tengah krisis global yang saat ini mendera, mereka terus berupaya mencari solusinya. Namun yang terjadi, kehidupan tak juga membaik kondisinya. Mungkin ada yang terlupa, bahwa manusia dan alam semesta ini ‘cuma’ hamba; yang lemah, terbatas, dan membutuhkan Sang Pencipta.

Karenanya, kita harus kembali kepada aturan yang berasal dari Allah SWT, pihak yang paling menginginkan kebaikan untuk hamba-Nya. Di sinilah wacana khilafah menemukan relevansinya. Umat Islam, sebagai pemilik khilafah (shahibul khilafah), dituntut untuk bisa menguraikan bagaimana khilafah bisa menjadi solusi bagi kehidupan. Misalnya, bagaimana Islam dengan sistem ekonominya bisa memutus rantai kemiskinan dan mencegah krisis, Islam dengan sistem sosialnya bisa mengatasi kerusakan moral, dan seterusnya.

Untuk itu, mari tetap istiqamah mengkaji Islam sebagai sistem kehidupan yang sempurna,, mendakwahkannya, sambil senantiasa berharap bahwa khilafah akan tegak melalui tangan-tangan kita. Aamiin Allaahumma Aamiin. []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.