Khilafah Jembatan Emas Kesejahteraan dan Keselamatan

85

Oleh: Anisa Fitri Mustika Bela Mahasiswi Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Jakarta

Pro kontra terkait sistem pemerintahan Khilafah masih setia berseliweran di mana saja, banyak yang mendukung penerapan Khilafah ajaran Islam sebagai satu-satunya solusi mengatasi keterpurukan, ketidakadilan, kemiskinan, demoralisasi, dan seabrek problematika lainnya. Tak ayal ada juga pihak-pihak yang kontra Khilafah dengan menuduh sistem itu sebagai ancaman ketidakstabilan, pemecah belah bangsa, anti kebhinekaan dan fitnah keji lainnya. Mereka yang kontra sejatinya telah melupakan sejarah 13 abad silam ketika Khilafah mampu menyejahterakan masyarakat seraya menyelamatkan kehidupan masyarakat di dunia dan akhirat. Meminjam istilah Soekarno dalam pidatonya yang populer bertajuk jembatan emas, patut dikatakan bahwa “Khilafah adalah jembatan emas menuju masyarakat sejahtera dan selamat”.

Pada Sabtu (08/12/18) Ulama Lebanon yakni Syeikh Zubair Utsman Al Ju’aid mengajak Umat Islam untuk tidak tergoda dengan sistem pemerintahan Khilafah yang dituduhnya tidak sesuai dengan zaman now dan mengancam kestabilan, (antaranews.com). Terlihat adanya ketidakcocokan pernyataan tersebut dengan kabar gembira yang datang dari Rasulullah saw. dalam hadis shahih yang menyatakan: “Periode kenabian akan berlangsung pada kalian dalam beberapa tahun, kemudian Allah mengangkatnya. Setelah itu datang periode khilafah aala minhaj nubuwwah (kekhilafahan sesuai manhaj kenabian), selama beberapa masa hingga Allah ta’ala mengangkatnya. Kemudian datang periode mulkan aadhdhan (penguasa-penguasa yang menggigit) selama beberapa masa. Selanjutnya datang periode mulkan jabbriyyan (penguasa-penguasa yang memaksakan kehendak) dalam beberapa masa hingga waktu yang ditentukan Allah ta’ala. Setelah itu akan terulang kembali periode khilafah ‘ala minhaj nubuwwah. Kemudian Nabi Muhammad saw diam.” (HR Ahmad; Shahih). Media pun santer memberitakan kabar tersebut. Menunjukkan seolah rezim sengaja memberdayakan isu ini untuk black campaign tentang Khilafah.

“Saat ini, kita berada di negara yang aman dan nyaman, berdemokrasi dalam bingkai yang sah. Kita berada di negara bersyariat, tapi dalam bingkai demokrasi. Inilah gambaran pemerintahan Islami” Ungkap Syeikh Zubair masih dalam acara yang sama, yakni Maulid Nabi Muhammad saw. di Masjid Istiqlal, (antaranews.com). Sedikit mencengangkan mengingat landasan demokrasi adalah vox populi vox dei alias suara rakyat adalah suara Tuhan di mana manusia bebas membuat aturan sesuka hatinya yang ditampung dalam MPR dan DPR. Hukum yang dikeluarkan pun tidak selalu sesuai syariat Islam, justru banyak yang bertentangan sehingga keliru bila dikatakan sebagai pemerintahan Islami. Sebab demokrasi merupakan pemerintahan jahiliyyah sesat mulkan jabbariyyan.

Sungguh amat disayangkan, Lebanon yang merupakan bagian dari negeri Syam bersama dengan Suriah, Palestina dan Yordania justru menolak Khilafah ajaran Islam. Padahal Syam memiliki karomah tersendiri dalam Islam, di mana banyak sekali sabda Rasulullah saw. terkait bumi Syam, salah satunya “Apabila penduduk Syam telah rusak maka tidak ada kebaikan pada kalian. Akan senantiasa ada sekelompok umatku yang selalu beruntung tanpa terganggu dari orang-orang yang menipu mereka hingga hari kiamat.” (HR. Tirmizi no. 2351). Hilangnya kerinduan penduduk Syam akan Khilafah bahkan sampai menafikan meski bisyarah itu datang dari lisan manusia paling mulia yakni Rasulullah saw. sungguh telah menyayat hati 1,5 miliar Umat Islam di segenap penjuru dunia. Semestinya, penduduk Syam menjadi yang terdepan memperjuangkan bisyarah Rasulullah, bukan menafikannya. Sebab dalam hadis lain dikatakan bahwasanya kekuatan kaum muslimin ada di Syam. Di negeri yang bahkan Rasulullah mendoakan keberkahan untuk penduduknya. Berjuanglah! Seru kaum muslim di segenap penjuru dunia, mengharapkan Syam menjadi pejuang paling terdepan dalam ketaatan dan ketertundukkan demi mempersiapkan Khilafah yang dijanjikan.

Kebatilan Lebanon lainnya terletak dalam sistem pemerintahannya yang menganut demokrasi parlementer dengan sistem politik-pemerintahan khusus bernama konfensionalisme (muhasasah ta’ifiyah) di mana terdapat pembagian kekuasaan berdasarkan agama mayoritas, misalnya Presiden Michel Aoun yang merupakan Kristen Maronit, kemudian PM harus dari Muslim Sunni, Wakil PM harus dari Kristen Ortodoks dan Ketua Parlemen harus dari Syiah, (islamindonesia.id). Seolah Quran Surat Al-Maidah: 51 dan 57, Ali-Imran: 28, An-Nisa: 139 dan 144, At-Taubah: 12 dan masih banyak lagi ayat Al-Quran yang telah dinafikkan. Sistem pemerintahan yang didasarkan pada masalah sekterian ini tidak akan pernah bisa menjadi solusi untuk mengatasi konflik sebagaimana harapan pendukungnya, buktinya hingga kini Lebanon masih saja terus berkonflik dengan negeri Muslim lainnya. Konflik itu hakikatnya hanya bisa selesai dengan keagunganNya, sudah barang tentu dengan sistem pemerintahan Khilafah yang diridai-Nya, penyelamat seluruh manusia tidak hanya muslim, tapi juga nonmuslim sebagai pembawa kesejahteraan lantaran rahmat Allah akan turun ke seluruh penjuru bumi.

Berbeda dengan sistem pemerintahan demokrasi buah kapitalisme yang batil, sesat, dan pembawa derita. Khilafah adalah jembatan emas menuju masyarakat sejahtera dan selamat dunia-akhirat. Apalagi sistem politik khusus konfensionalisme yang jelas-jelas penyimpangannya. Bukan hanya membuang syariat, tapi juga penuh ide sesat salah satunya pluralisme yang sangat bertentangan dengan Akidah Islamiah. Hanya Khilafah satu-satunya sistem pemerintahan sahih yang mampu menerapkan seluruh aturan Allah Ta’ala di bumiNya seraya menjadi berkah dan rahmat bagi alam semesta dan manusia yang lemah dan terbatas dihadapanNya.

Khilafah Islamiah adalah jembatan emas menuju masyarakat sejahtera dan selamat yang merupakan kewajiban atas seluruh Kaum Muslimin berdasarkan hasil ijtihad 4 Imam Mazhab yang masyhur, yakni Syafi’i, Maliki, Hanbali dan Hanafi. Imam al-Qurthubi, seorang ulama besar dari mazhab Maliki, ketika menjelaskan tafsir Quran Surah al-Baqarah ayat 30, menyatakan, “Ayat ini merupakan dalil paling asas mengenai kewajiban mengangkat seorang imam/khalifah yang wajib didengar dan ditaati yaitu untuk menyatukan pendapat serta melaksanakan hukum-hukum berkaitan khalifah. Tidak ada perselisihan pendapat tentang kewajiban tersebut di kalangan umat Islam maupun di kalangan ulama, kecuali apa yang diriwayatkan dari Al-A’sham.” (Imam al-Qurthubi, Al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân, 1/264-265). Al-’Allamah Abu Zakaria an-Nawawi, dari kalangan ulama mazhab Syafii, mengatakan, “Para imam mazhab telah bersepakat, bahawa kaum Muslimin wajib mengangkat seorang khalifah.” (Imam an-Nawawi, Syarh Shahîh Muslim, XII/205). Imam ‘Alauddin al-Kasani, ulama besar dari mazhab Hanafi pun menyatakan, “Sesungguhnya mengangkat imam (khalifah) adalah fardhu. Tidak ada perbedaan pendapat di antara ahlul haq mengenai masalah ini. Manakala penafian berhubung kewajiban ini oleh sebahagian kelompok Qadariah tidak membawa apa-apa, kerana kewajiban ini adalah didasarkan kepada dalil yang lebih kuat, yaitu Ijma’ Sahabat dan untuk membolehkan perlaksanaan hukum Islam, yaitu ketaatan umat Islam kepada pemimpin lalu menghapuskan kezaliman serta membuang perselisihan yang menjadi sumber kerusakan akibat tiadanya seorang imam. (Imam al-Kassani, Badâ’i ash-Shanai’ fî Tartîb asy-Syarâi’, XIV/406). Imam Umar bin Ali bin Adil al-Hanbali, ulama mazhab Hanbali, juga menyatakan, “Ayat ini (QS al-Baqarah [2]: 30) adalah dalil atas kewajiban mengangkat imam/khalifah yang wajib didengar dan ditaati untuk menyatukan pendapat serta untuk melaksanakan hukum-hukum tentang khalifah. Tidak ada perbedaan tentang kewajiban tersebut dikalangan para imam kecuali apa yang diriwayatkan dari Al-A’sham dan orang yang mengikutinya.” (Imam Umar bin Ali bin Adil, Tafsîr al-Lubâb fî ‘Ulûm al-Kitâb, 1/204). Oleh karenanya Umat Islam saat ini harus berdakwah dengan mengusung  Khilafah.

Wallahu’alam bi shawwab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.