Khilafah, Cahaya Harapan Hakiki untuk Gaza

Oleh: Arin RM, S.Si (Freelance Author, Pegiat TSC)

Meskipun bulan Ramadan, Jalur Gaza tetap memanas dengan saling gempur antara Israel dan kelompok militan Palestina di wilayah tersebut. Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa Israel mendapat Dukungan penuh Washington dalam ekskalasi paling serius dalam beberapa tahun terakhir ini (detik.com, 06/05/2019).

Militer Israel melancarkan serangkaian serangan udara sebagai respon atas serangan roket dari jalur Gaza. Lebih dari 430 roket dilaporkan telah ditembakkan para milisi Palestina ke Israel. Israel menjadikan sekitar 350 situs di jalur Gaza sebagai sasaran serangan. Akibatnya 25 warga Palestina gugur dan lebih dari 150 lainnya terluka atas serangan ini (suara.com, 08/05/2019).

Sunggguh memperitahinkan. Bulan Ramadan yang penuh keberkahan harus dilalui warga Gaza dengan duka dan derita yang berkepanjangan. Sebagai sesame muslim kepedulian kepada mereka adalah bagian dari kewajiban keimanan. Sebab muslim satu dengan lainnya adalah saudara yang wajib berpegang teguh satu dengan lainnya. “Dan berpegangteguhlah kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai” (TQS Ali-imran: 103). Dan wajib untuk saling menguatkan, sebagaimana sabda Rasulullaah yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim “Seorang mukmin bagi mukmin lainnya laksana satu bangunan yang sebagiannya menguatkan sebagian lainnya”.

Oleh karenanya apa yang terjadi pada Gaza sekaligus pada muslim di belahan lainnya dengan kejadian yang semisal patut mendapat dukungan penuh dari muslim lainnya. Dukungan tersebut haruslah yang berbeda, yang benar-benar bisa menuntaskan problematika mendasarnya. Jika dirunut ke belakang, apa yang menimpa Gaza adalah buah pahit dari runtuhnya khilafah, perisai hakiki muslim di seluruh penjuru negeri.

Sebelum khilafah runtuh pada tahun 1924, utusan zionis bernama Teodhore Hertzl pernah berniat membeli Palestina kepada Khalifah Abdul Hamid II yang berkuasa kala itu. Sang khalifah tidak memberikan, sebab tanah kaum muslim itu merupakan kesatuan tak terpisahkan dari bentangan kekuasaan Islam waktu itu. Setelah khilafah melemah, zionis kembali melanjutkan niatnya. 2 November 1917 dikeluarkan deklarasi Balfour yang menyetujui Israel berdiri di atas tanah Palestina.

Selanjutnya  pada Desember 1922 dikeluarkan landasan Yuridis yang menjadikan yahudi bermigrasi besar-besaran memasuki Palestina. Puncaknya pada 29 November 1947, PBB mengumumkan persetujuan berdirinya negara Israel dengan wilayah 55% di atas tanah Palestina. Bermula dari peristiwa 1947 inilah pengusiran, penindasan, dan pembunuhan mulai dilancarkan kepada Palestina. Hingga penduduk dan wilayahnya menyusut, dan Israel bertambah menjadi 70% di atas tanah rampasan pada tahun 1967, dan lebih dari 90% untuk waktu saat ini.

Dari waktu ke waktu sisa wilayah yang dihuni penduduk muslim asli selalu mendapat lemparan rudal. Ketika peristiwanya membesar dan berhasil direkam media, ketika itu pula perhatian dunia tertuju kesana hingga akhirnya menghilang. Bantuan doa, pangan, medis, dan kebutuhan hidup mengalir untuk korban. Kecaman dan kutukan serta sumpah serapah meluncur deras ke penjajahnya.  Akan kembali terulang jika kasus meruncing kembali, lalu terkubur lagi oleh peristiwa lainnya. Terus berulang dengan ritme yang sama. Penyebabnya adalah karena selama ini pertolongan yang diberikan adalah fokus pada korban, bukan fokus pada pengusiran penyebab korban berjatuhan.

Jika diibaratkan rumah yang berulang kali disatroni perampok, maka yang diberikan pertolongan adalah korban perampokan yang terluka dan kehilangan harta benda terus. Sementara perampoknya tidak diusir atau bahkan ditangkap dan diadili. Atau rumahnya dijaga dan dilindungi layaknya muslim Selandia Baru yang dikawal penduduk sekitarnya setiap beraktivitas Jumat di masjid. Maka yang terjadi, perampok akan semakin berani masuk rumah itu lagi sebab penghuninya sudah pernah terluka, rumahnya tidak ada yang menjaga, dan tetangganya tidak ada yang membantu melawan.

Atas kasus perampokan itu, seharusnya pengusiran dan penghukuman perampok adalah solusi agar penghuni rumah tak berulang disakiti. Atas kasus Gaza, maka seharusnya zionis lah yang seharusnya diusir dan diadili. Dan siapa yang bisa melakukan ini semua? Jawabannya adalah persatuan kaum muslimin dibawah komando kholifah. Berharap pada negara PBB bukan solusi, sebab pengukuhan Israel 1967 dilakukan oleh PBB. Bahkan PBB dan HAMnya tidak pernah menyatakan aksi Israel sebagai kejahatan perang.

Berharap pada negara di sekitarnya pun juga bukan solusi, sebab mereka juga menjadi anggota PBB yang tidak memiliki kemampuan melawan keputusan Big Five Country pengantong hak veto. Pun kendati negeri-negeri muslim di sekitarnya memiliki ribuan tentara lengkap dengan persenjataannya, mereka tidak dapat menggerakkannya sebab terhalang aturan akibat sekat nasionalisme. Berharap Israel dan wilayah yang tersisa di Palestina berdamai juga salah besar, sebab membiarkan tanah milik kaum muslimin dikuasai kaum kafir secara paksa.

Satu-satunya cahaya harapan bagi saudara kita di Gaza adalah dengan mewujudkan kembali khilafah. Hanya khilafah yang akan mampu menjaga Palestina sebagaimana ketegasan Kholifah Abdul Hamid II di masa lalu. Kholifah pula yang nantinya akan mengomando negeri muslim menghadirkan kekuatan seimbang melawan penjajah  dengan menghimpun potensi militer yang dimiliki masing-masing negeri. Maka kiranya tepat apa yang diserukan oleh Syaikh Issam Amira, Imam Baitul Maqdis (wawancara dengan mediaummat.news, 09/12/2017) yang menyatakan bahwa umat Islam dianjurkan untuk tidak hanya menghimbau militer untuk membebaskan Palestina, tetapi agar terlebih dahulu menghimbau militer mengganti kepemimpinan saat ini dengan kepemimpinan Islam. Apabila sudah didapatkan kepemimpinan yang benar barulah bergerak teorganisir untuk membebaskan negeri yang terjajah ini. [Arin RM].

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.