Khilafah Ajaran Islam, Bukan Ancaman

131

Alvara Research Centre dan Mata Air Foundation merilis sebuah survei yang dilakukan terhadap 1.200 responden di enam kota besar, yaitu Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Medan, dan Makassar. Responden terdiri dari kalangan PNS, swasta, dan juga BUMN. Survey dilakukan pada tanggal 10 September sampai 5 Oktober melalui wawancara tatap muka. (www.jpnn.com, 23/10/18). Hasilnya, sebanyak 29,7% tidak mendukung pemimpin nonmuslim, 27,6% mendukung perda Syariah, dan 29,6% setuju Islam diterapkan secara kaffah.

Dari hasil survey tersebut, setidaknya bias diambil kesimpulan, pertama, semangat keislaman mulai tumbuh di hati kaum Muslimin, termasuk kalangan profesional. Kedua, Islam yang paripurna membutuhkan wadah yang kompatibel, dengan asas akidah Islam. Itulah Khilafah.

Khilafah adalah ajaran Islam yang agung dan urgen keberadaannya. Khilafah akan menjadi solusi atas krisis multidimensi yang ditimbulkan system sekuler-liberal. Hanya saja, ada opini yang demikian massif untuk mendiskreditkan khilafah, menjadikannya bak monster dan musuh bersama yang patut diwaspadai. Upaya penegakan khilafah dikait-kaitkan dengan radikalisme dan terorisme, dengan harapan umat akan takut dan menolak ide ini. Oleh karena itu, perlu kiranya pembahasan tentang khilafah, agar menjadi penyeimbang di tengah arus penyesatan opini dan monsterisasi khilafah.

Apa itu khilafah? Menurut Asy-Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani dalam kitabnya, Nizham al Hukmi fi Al-Islam,  khilafah menurut Hizbut Tahrir ialah “Kepemimpinan umum bagi seluruh kaum muslimin di dunia untuk menegakkan hukum-hukum perundang-undangan Islam dan mengemban dakwah Islam ke seluruh dunia”. Khilafah adalah Imamah. Imamah dan Khilafah itu artinya sama. Misalnya Imam al-Mawardi, beliau tidak membedakan antara istilah khalifah dengan imam, khilafah dengan imamah. Beliau berkata:

وَيُسَمَّى خَلِيفَةً لِأَنَّهُ خَلَفَ رَسُولَ اللَّهِ -صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- فِي أُمَّتِهِ، فَيَجُوزُ أَنْ يُقَالَ: يَا خَلِيفَةَ رَسُولِ اللَّهِ، وَعَلَى الْإِطْلَاقِ فَيُقَالُ: الْخَلِيفَةُ.

Imam  juga dinamai khalifah karena menggantikan Rasulullah saw dalam umatnya. Boleh juga disebut khalîfah RasuliL-lâh. Namun secara umum disebut khalifah saja (al-Imam al-Mawardi, al-Ahkâm al-Sulthâniyyah, 39). Banyak hadis-hadis shahih yang menjelaskan dua kata ini dengan pengertian yang sama. Di dalam nash-nash syara’ tidak terdapat untuk salah satu dari keduanya pengertian yang menyelisihi pengertian yang lainnya, tidak dalam al-Qur’an dan tidak pula dalam as-Sunnah, karena hanya keduannyalah yang menjadi nash-nash syara’. Dan dalam hal ini tidaklah wajib terikat hanya dengan kata ini, yakni Imamah atau Khilafah. Sebab, yang wajib hanyalah terikat dengan substansi pengertiannya.

Dari definisi tersebut, terlihat bahwa khilafah memiliki tiga esensi, yaitu ukhuwah, syari’ah, dan dakwah. Ukhuwah, karena khilafah akan menyatukan kaum Muslimin di seluruh dunia, yang selama ini terpenjara dalam sekat imajiner nasionalisme. Syariah, karena khilafah akan menjalankan aturan Islam dalam seluruh bidang kehidupan, yang akan membawa rahmat bagi semesta alam. Sedangkan dakwah, karena Khilafah yang memposisikan dirinya sebagai darul Islam (Negara Islam) akan menjalin hubungan internasional hanya berdasarkan tuntunan Syariah dan kepentingan kaum Muslimin, yaitu berupa dakwah dan jihad.

Inilah yang ditakuti oleh kafir penjajah yang selama ini mengambil keuntungan dari tercerai-berainya kaum Muslimin. Sesungguhnya, khilafah bukan ancaman, kecuali bagi mereka yang nyaman dengan kezaliman. Umat Islam adalah umat yang unggul, selama mau berpegang kepada ajaran agamanya. Berarti, selama umat berpaling dan tidak mengambil petunjuk yang sudah Allah berikan, maka selama itu pula kondisi umat akan seperti saat ini; mundur, terbelakang, tertindas, dan keadaan yang menyedihkan lainnya. Hal ini senada dengan firman Allah dalam QS. Ar-Ra’du ayat 11, bahwa Allah tidak akan mengubah suatu kaum selama mereka tidak mengubah apa yang ada pada diri mereka. Ini juga menjadi pengingat, bahwa berpalingnya umat dari Syariah Islam berakibat sempitnya kehidupan, dan terhina di mata lawan.

Maka, berseminya perasaan ingin Islam diterapkan di tengah kaum Muslimin patut disyukuri. Sambil terus mengupayakan agar perasaan tersebut diimbangi dengan pemikiran yang menyeluruh tentang bagaimana langkah untuk mengantarkan umat ke tujuan yang agung tersebut. Bukankah Allah telah menjanjikan dalam QS. An-Nur ayat 55,

وَعَدَ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْ وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ لَـيَسْتَخْلِفَـنَّهُمْ فِى الْاَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۖ  وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِيْنَهُمُ الَّذِى ارْتَضٰى لَهُمْ وَلَـيُبَدِّلَــنَّهُمْ مِّنْۢ بَعْدِ خَوْفِهِمْ اَمْنًا   ۗ  يَعْبُدُوْنَنِيْ لَا يُشْرِكُوْنَ بِيْ شَيْـئًــا   ۗ  وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذٰلِكَ فَاُولٰٓئِكَ هُمُ الْفٰسِقُوْنَ

“Allah telah menjanjikan kepada orang yang beriman di antara kamu dan yang mengerjakan kebajikan, bahwa sungguh Dia akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka dengan agama yang telah Dia ridai. Dan Dia benar-benar akan mengubah (keadaan) mereka, setelah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka (tetap) menyembah-Ku dengan tidak menyekutukan-Ku dengan sesuatu pun, tetapi, barang siapa tetap kafir setelah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.”

Bukankah tiada yang lebih menepati janji, selain Allah? Maka, tentukan pilihan, jadilah pejuang Islam, yang tidak lemah akan rintangan dan celaan. Wallahu a’lam bishshawab. []

Oleh: Fitriyani, S.Pd (Ibu Rumah Tangga dan Pemerhati Masyarakat)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.