Ketika Nyawa tak Berharga lagi, Islam Punya Solusi!

117

islam solusiPeristiwa demi peristiwa pembunuhan sudah menjadi suguhan yang tak pernah kosong dari pemberitaan, baik di media televisi atau media online. Di Indonesia bulan september ini kembali lagi disuguhkan dengan peristiwa pembunuhan yang sangat sadis, yaitu pembunuhan janda cantik dikediamannya.

Seperti dilansir dalam Bandung Barat – Karyawati bank Ella Nurhayati (42) dibunuh pada Selasa (11/9/2018) lalu di kediamannya. Di tubuhnya terdapat 28 tusukan, yang sebagian berada di organ vital. Polisi masih menyelidiki kasusnya. Fakta terbaru, ditemukan jejak kaki di sekitar jasad korban ditemukan. Ukurannya lebih besar dari kaki korban. Hal itu dikatakan Kasatreskrim Polres Cimahi AKP Niko N. Adiputra kepada detikcom, Senin (17/9/2018) malam. “Jejak kaki benar kita temukan ada di TKP,” kata Niko.

Kapitalisme Penyebab Pembunuhan Marak

Peristiwa pembunuhan demi pembunuhan, sesungguhnya menunjukan kepada kita, bagaimana saat ini nyawa manusia sudah tidak berharga lagi. Ketidakberhargaan ini tidak hanya pada pembunuhan itu sendiri. Tetapi hal ini juga nampak pada hukuman yang tidak mampu memberi efek jera. Menurut pasal 340 KUHP pembunuhan yang disengaja saja yang dibisa dihukum mati, atau hanya dihukum selama waktu yang ditentukan, paling lama dua puluh tahun. Namun sangat jarang para pelaku pembunuhan itu diberikan hukuman mati. Mereka hanya dihukum 15-20 tahun, atau seumur hidup. Sungguh hukuman itu tidak sebanding dengan perbuatan yang mereka lakukan.

Selain itu, ketidakberhargaan nyawa ini muncul dari kesombongan dan kecongkakan kita, yang merasa mampu mementukan aturan hidup kita dengan membuat aturan yang lahir dari kebodohan dan keterbatasan akal kita. Hilangnya peran Negara dalam menjaga jiwa dan kehormatan kita. Negara seolah melepaskan diri dari tanggung jawabnya akan hal ini. Hilangnya rasa aman yang kita rasakan, menunjukan bahwa tidak ada jamin dari Negara akan keselamatan kita. Baik agama, akal, jiwa, harta, kehormatan, dan keamanan kita tidak dipelihara oleh Negara. Ini nampak dari adanya kebebasan yang ada, diantaranya kebebasan berperilaku, kebebasan berbicara, kebebasan berpendapat, kebebasan beragama, dan kebebasan berkepemilikan. Dari kebebasan-kebebasan ini tak heran melahirkan adanya aturan yang melegalkan minuman keras, yang banyak dari akibat minuman keras ini terjadi peristiwa pemerkosaan dan pembunuhan. Semua ini akibat dari aturan sekulerlisme-kapitalisme yang menjauhkan aturan Allah dalam kehidupan.

Pembunuhan dilatarbelakangi berbagai motif. Ada yang karena sakit hati, menghilangkan jejak rampok, hingga alasan sepele. Motif ini sesungguhnya menunjukan kerusakan secara pemikiran-peraturan-perasaan. Ikatan yang ada di tengah masyarakat bukan ikatan yang benar. Karena ikatannya dibangun berdasar pemisahan antara agama dan kehidupan (sekularisme). Begitu pula peraturan yang ada tidak memberikan efek jera. Perasaan masyarakat dipenuhi dengan materialisme dan ingin solusi instant. Solusi yang tanpa mempertimbangkan kaidah hukum dan kepentingan manusia lainnya.

Jika alasan membunuh didasari sakit hati. Hal ini menunjukan kejumudan berfikir. Pemenuhan keinginan sesaat dan disertai nafsu jahat. Mengalahkan logika dan akal sehat. Aneh juga, orang yang tidak dikenal pun jadi sasaran pembunuhan. Tak sedikit perampokan juga disertai pembunuhan. Lantas, dimana letak kesadaran orang saat ini? Sungguh jahat manusia saat ini. Sudah jahat sistem pun jahat.

Harga nyawa yang telah diberikan Allah begitu murah. Tanpa peduli kepada kehidupan manusia lainnya, penghilangan nyawa menjadi jalan jitu mengakhiri sengketa. Hal ini menunjukan kerusakan masyarakat diakibatkan kejumudan berpikir. Serta tanpa menemui jalan keluar suatu persoalan. Ditambah lagi, ketiadaan iman dan pengaturan hidup yang jauh dari Islam.

Islam Punya Solusi

Hal ini sangat berbeda dalam Islam, nyawa adalah sesuatu yang berharga. Bahkan dalam sebuah hadits dikatakan untuk seorang muslim, kehormatan dan darahnya lebih agung di sisi Allah daripada Ka’bah.  Tidak berhenti hanya menyatakan betapa berharganya nyawa. Dalam ajaran Islam, membunuh satu jiwa itu seakan-akan membunuh seluruh manusia (QS Al Maidah : 32). Bahkan jika korban pembunuhan itu seorang Muslim, Islam menilainya sebagai sesuatu yang sangat besar di sisi Allah, sampai-sampai Nabi SAW bersabda, “Sungguh hancurnya dunia lebih ringan di sisi Allah daripada terbunuhnya seorang Muslim.” (HR Ibnu Majah no 2619).

Syariah Islam memberikan solusi pada dua level. Pertama, perbaikan umum, yaitu perbaikan masyarakat, dengan cara mengoreksi berbagai pemikiran, perasaan, dan peraturan yang menyimpang dari Islam.Pemikiran rusak seperti sekulerisme tidak boleh ada, wajib dihancurkan. Perasaan rusak seperti pemujaan berlebihan kepada harta benda, dihilangkan dengan dakwah Islam yang menggugah kesadaran. Selanjutnya peraturan rusak juga harus dienyahkan, seperti sistem kapitalis yang tidak adil, sistem pidana Barat yang tidak memberi efek jera, dan sebagainya. Kedua, perbaikan khusus, yaitu perbaikan sistem pidana (nizhamul ‘uqubat), dengan cara menghentikan penerapan sistem pidana Barat warisan penjajah, diganti dengan sistem pidana Islam berdasarkan Alquran dan Sunah.

Untuk menekan berbagai faktor tersebut, syariah Islam mengatasi masalah itu dengan dua cara. Pertama, memperbaiki sikap dan mental individunya dengan memperkuat keimanan dan ketakwaannya. Syariah Islam, misalnya, telah menerangkan bahwa membenci orang lain itu tidak baik, kecuali membenci karena Allah, misalnya membenci orang yang berbuat maksiat. Dendam itu tidak baik, karena yang lebih utama adalah memberi maaf dan bersabar. Kedua, menyelesaikan akar masalahnya, mengapa sampai timbul kebencian, dendam, mudah tersinggung, dll? Jika karena perselisihan rumah tangga, atau karena utang piutang, atau karena sengketa bisnis, syariah Islam mempunyai hukum-hukum syara’ yang sangat mencukupi sebagai solusinya, termasuk solusi berupa pengadilan syariah (al qadha`) yang adil.

Dengan demikian, Islam memberikan serangkaian hukum yang merealisasikan penjagaan atas nyawa layaknya sesuatu yang sangat berharga. Hal ini terlihat dari hukuman qishash bagi pelaku pembunuhan. Jika dimaafkan oleh ahli waris korban, ia wajib membayar diyat 100 ekor unta, 40 ekor diantaranya bunting. Untuk pelaku yang tidak disengaja dan mirip disengaja tidak dijatuhi sanksi qishash, melainkan wajib membayar diyat sama dengan yang disengaja. Diyat pembunuhan karena salah, adalah 100 ekor unta atau 1.000 dinar (4,25 kg emas murni 24 karat).

Walhasil, semua penjagaan yang ada dalam Islam hanya bisa terlealisasi dengan adanya institusi yang melaksanakan serangkaian hukum Islam. Yang akan menjadi perisai yang akan melindungi seluruh manusia. Institusi ini tak lain adalah Khilafah ala minhaj Nubuwah. Negara yang akan menebarkan rahmat bagi semesta alam. Wallahu a’lam.

Oleh : Risnawati, STP (Staf Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kolaka)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.