Ketidakstabilan Harga Jelang Ramadan

36

Oleh: Hasrianti (Mahasiswi P. Kimia UHO)

Momentum ramadan tak terasa mulai menyapa masyarakat, setelah itu menyusul hari raya lebaran yang tak kalah meriahnya. Perayaan  yang paling ditunggu-tunggu oleh kaum muslimin. Mulai dari kumpul bersama keluarga, sahur bersama, dan berbuka puasa. Momen ini tidak hanya terjadi di Indonesia, beberapa negara lain juga turut merayakan seperti Malaysia dan Brunei Darusalam.

Bedanya, di Indonesia ada hal yang unik di setiap momen jelang ramadan hingga lebaran. Pasalnya hari raya ini selalu ditandai dengan kenaikan harga kebutuhan pokok yang melonjak naik, masyarakat sekali lagi harus berbesar hati menerima.

Melonjaknya kenaikan harga sembako berbanding lurus dengan bertambahnya kebutuhan masyarakat saat ramadan hingga lebaran nanti. Bukan hanya kenaikan  harga sembako, tetapi juga tarif transportasi, tarif listrik, dan kebutuhan sandang (pakaian). Tren kenaikan harga layaknya sudah menjadi tradisi setiap tahunnya. Ini menjadi PR bagi pemerintah yang belum terselesaikan.

Dilema Kenaikan Harga

Dilansir oleh www.jawapos.com  – Beberapa harga kebutuhan pokok di Kota Malang mulai merangkak naik menjelang ramadan. Salah satunya harga telur dan ayam ras yang mengalami kenaikan sebesar 15 persen sejak dua pekan terakhir. Di Pasar Kebalen misalnya, harga telur ayam kini berada di angka Rp 22 ribu per kilogram. Padahal, sebelumnya masih berada di angka Rp 19 ribu per kilogram. Sedangkan harga ayam ras, yang sebelumnya berada di angka Rp 26 ribu naik menjadi Rp 30 ribu per kilogram, atau meningkat 15,3 persen (24/4).

Bandung, Kepala Dispangtan  Elly Wasliah, mengatakan bahwa harga telur ayam, daging ayam, dan daging sapi  melonjak tinggi pada bulan ramadhan dan lebaran nanti (www.tribunnews.com  9/4/2019).

Di ibu kota sendiri juga mengalami kenaikan harga  yang sama dari tahun ke tahun  momentum ramadan dan Idul fitri selalu membetot konsentrasi pemerintah, khususnya dalam hal strategi pengamanan stok dan harga bahan pokok penting, tidak terkecuali pula dengan tahun ini (www.bisnis.com  8/4/2019).

Badan Pusat Statistik (BPS) memantau terus menerus kenaikan harga yang terjadi. Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita juga menjelaskan bahwa “Kenaikan harga beras terjadi di 11 daerah dengan sembilan daerah di antaranya mengalami kenaikan harga di bawah satu persen” kata Enggar (www.katada.co.id  20/3/2019).

Secara umum, pemerintah harus mengantisipasi terlebih dahulu kondisi harga bahan pokok menjelang puasa, sebagaimana pengalaman-pengalaman tahun sebelumnya. Kementerian Perdagangan  telah melakukan berbagai upaya untuk menjaga stok dan harga  stabil  hingga hari raya. Hingga kini kestabilan harga masih sulit untuk diprediksi.

Sementara di negara lain yang juga mayoritas  penduduknya muslim,  biasa-biasa saja menghadapi ramadan. Berbagai program dan iklan sale besar-besaran digelontorkan. Banyak produsen bahkan brand  terkenal juga memberikan discount  besar-besaran kepada konsumen.

Kondisi ini terjadi karena produsen ataupun pedagang ingin memanfaatkan peningkatan gairah konsumsi masyarakat di hari. Hal ini disebabkan karena struktur pasar yang bersaing secara sempurna.  Indonesia  juga mayoritas muslim justru  malah sebaliknya, momentum jelang ramadhan kembali mencekik perekonomian masyarakat. Menjadi pertanyaan besar mengapa terjadi anomali dalam pengelolaan harga ?

            Momen ini justru terjadi kenaikan permintaan produk makanan, dimana seharusnya permintaan makanan lebih terkendali. Masalah ini semakin menambah beban masyarakat, disaat kesulitan ekonomi menghimpit pada hari biasanya. Pemerintah menghimbau agar masyarakat tidak melakukan pembelian yang berlebihan, ini sebuah asumsi yang keliru.

Sebab lain kenaikan harga melonjak. Pertama, pemerintah kurang maksimal dalam memasok stok ketersediaan kebutuhan sembako, struktur pasar yang tidak sehat, ekspetasi pedagang untuk mendapatkan keuntungan lebih besar, faktor kelangkaan alami yang terjadi karena gagal produksi, pusaran ekonomi dimanfaatkan oleh para pemilik modal untuk mengambil keuntungan besar terutama untuk kebutuhan yang melalui jalur impor. Akibatnya penyimpangan ekonomi terjadi ihtikâr (penimbunan), permainan harga (ghabn al fâkhisy), hingga liberalisasi yang menghantarkan kepada ‘penjajahan’ ekonomi.

Kenaikan harga secara spesifik tiap komoditas memang berbeda-beda, tetapi secara umum bisa diantisipasi jauh hari, termasuk prediksi tingginya permintaan menjelang ramadan. Pemerintah harus bisa melakukan manajemen stok dan mengawasi aktivitas pasar dengan benar. Selama ini pemerintah hanya menjadikan operasi pasar murah yang bersifat sementara sebagai jalan keluarnya.

Padahal program-program ini harusnya dilakukan dengan konsisten, bukan bersifat sementara. Apalagi operasi pasar hanya terbatas beberapa komoditas saja, sehingga tidak bisa membantu masyarakat mendapatkan haknya untuk menikmati harga yang wajar secara keseluruhan.

Manajemen stok sembako juga tidak efektif lagi, selain memerlukan biaya yang cukup tinggi, manajemen stok cukup rawan penyelewengan. Pemerintah terlihat tidak berani mengambil resiko,  karena bisa berpotensi korupsi dan monopoli cukup besar.

Sejatinya negara yang menganut sistem kapitalisme tidak akan lepas dari masalah, termasuk soal ekonomi. Keberadaan sistem sangat berpengaruh terhadap keteraturan perekonomian yang berlaku. Ekonomi kapitalisme pada hakikatnya memiliki sikap individualisme untuk memperkaya diri sendiri. Semua solusi yang ditawarkan hanya bersifat sementara, dan tidak  menjadi solusi yang solutif untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Islam Sebagai Solusi Tuntas

Islam sebagai agama yang sempurna memiliki seperangkat aturan yang dapat mengatur seluruh sendi kehidupan manusia, termasuk kebutuhan pokok yang berkaitan erat dengan perekonomian.

Ekonomi islam memiliki komitmen untuk mengatasi kemiskinan, penegakan keadilan, pertumbuhan ekonomi, penghapusan riba sehingga menciptakan stabilitas perekonomian. Ekonomi islam juga menekankan keadilan dan mengajarkan konsep yang unggul dalam menghadapi gejolak moneter

Sistem ekonomi islam terbukti menjaga stabilitas ekonomi negara. Hingga tak ada cela kemiskinan itu terjadi, termasuk terpenuhinya kebutuhan umat secara menyeluruh. Meskipun ada kelemahan ekonomi, namun ini tidak bertahan lama. Sebab, seorang pemimpin negara islam bertindak cepat dalam menanggulangi hal ini.

Akhir tahun 17 H, di Madinah terjadi musim paceklik parah yang dikenal dengan sebutan ‘âm ramâdah, Khalifah Umar r.a mengirim surat kepada Amru bin Al Ash, gubernur beliau di Mesir yang isinya memohon bantuan pasokan pangan. Akan tetapi jika melambungnya harga disebabkan pelanggaran terhadap hukum-hukum syari’ah, maka penguasa harus mengatasi agar hal tersebut teratasi segera.

Rasulullah SAW sampai turun sendiri ke pasar untuk melakukan ‘inspeksi’ agar tidak terjadi ghabn (penipuan harga) maupun tadlis (penipuan barang/alat tukar), beliau juga melarang penimbunan (ihtikar).

Khalifah Umar bahkan melarang orang yang tidak mengerti hukum fikih (terkait bisnis) dari melakukan bisnis. Para pebisnis secara berkala juga pernah diuji apakah mengerti hukum syara’ terkait bisnis ataukah tidak, jika tidak faham maka mereka dilarang berbisnis. Keimanan juga harus tertanam dalam setiap diri umat.

Jika penguasa mengabaikan hukum syara, maka masyarakat lah yang harus mengambil peran untuk meluruskan hal tersebut. Begitupun subsidi terus menerus berjalan untuk memenuhi kebutuhan umat. Hingga saat ramadhan umat tidak perlu risau akan terjadi kenaikan harga yang melonjak.

Beginilah islam mengatasi kenaikan harga, tentunya hal tersebut bisa terlaksana dengan baik jika ditopang oleh penerapan hukum syari’at dalam seluruh aspek kehidupan.  Wallahu’alam bishowab

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.