Ketahanan Pangan Dalam Islam

121

Oleh :  Ummu Arina (Muslimah Peduli Umat)

Polemik yang terjadi antara Kepala Badan Urusan Logistik (BULOG)  Budi Waseso dengan Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukito beberapa waktu lalu, menjadi sorotan masyarakat. Hal yang menjadi perdebatan antara Kepala BULOG dengan Menteri Perdagangan terkait impor beras. Kepala Bulog menilai impor tidak perlu dilakukan karena stok beras aman sampai Juli 2019, dimana produksi beras indonesia dalam cuaca kering, musim tanam kecil, bahkan hasil panen kecil sekalipun bisa menghasilkan 11-12 juta ton, sedangkan kebutuhan nasional 2,4 juta ton perbulan, dimana persediaan beras di gudang Bulog sampai ahir Desember 2018 adalah 2,7 ton, ditambah serapan gabah petani dalam negeri sebesar 4000 ton perhari diperkirakan mencapai 3 juta ton(https://bisnis. tempo. co/read/1128304/jokowi-minta-menko-darmin-ajak-buwas-enggar-duduk-bersama).  Sedangkan pemerintah yang diwakili oleh Kepala staf presiden Moeldoko menilai Indonesia perlu impor beras karena produksi beras dalam negeri belum bisa mencukupi kebutuhan nasional, karena adanya penyusutan lahan sebesar 24 persen secara alamiah, lahan pertanian berkurang karena adanya pembangunan jalan tol, pembukaan kawasan indrustri dan perumahan, serta cuaca.

Kedua pejabat yang mengatur urusan rakyat tersebut, memberikan alasan perlu tidaknya melakukan impor, berdasarkan analisa masing-masing beserta tim ahlinya, perseteruan antara kepala BULOG dengan menteri perdagangan memperlihatkan bahwa mereka menjadikan kepentingan sekelompok orang sebagai pertimbangannya, karena perseteruan tersebut pada ahirnya mengorbankan rakyat, bagaimana tidak dalam kondisi rakyat membutuhkan ketersediaan bahan pokok yang salahsatunya beras, pemerintah masih belum satu pemahaman, karena dalam kondisi apapun bahan pokok tersebut haruslah ada, dan pemerintah yang menyediakannya dengan kebijakan tidak memperhitungkan untung rugi, tapi pertimbangannya adalah pemenuhan kebutuhan pokok dengan harga terjangkau dan kualitas bagus,berarti pemerintah berupaya keras tuk pemenuhan itu.

Jelas tergambar kisruh impor pangan bukan sekedar soal ego sektoral tapi karena penerapan sistem kapitalisme memang menjadi alat para pengusaha yg berkolaborasi dengan penguasa untuk mencari keuntungan legal.

Bagaimana islam memandang persoalan ini?

Membangun Ketahanan Pangan menurut Islam.

Islam sebagai sebuah aturan yang mampu memecahkan semua persolan manusia dalam segala aspek kehidupan meninjau,keberadaan pangan ini, sesuatu yang penting, yang tidak bisa berdiri sendiri terkait dengan sistem kehidupan lainnya. Islam menjadikan al qur’an sebagai sumber hukum dalam pengaturan semua aspek kehidupan, salah satunya pemenuhan pangan, setidaknya ada lima prinsip dasar dalam membangun ketahanan pangan:

  1. Optimalisasi produksi yaitu mengoptimalkan seluruh potensi lahan untuk melakukan usaha pertanian berkelanjutan yang dapat menghasilkan bahan pokok. Disinilah peran berbagai aplikasi sains dan tehnologi, mulai mencari lahan, tehnik irigasi, pemupukan, penanganan hama hingga pemanenan dan pengolahan pasca panen.
  2. Adaptasi gaya hidup, agar masyarakat tidak berlebih-lebihan dalam dalam kosumsi pangan, kalaupun berlebih-lebihan menganggu kesehatan dan menimbulkan limbah.
  3. Manajemen logistik, masalah pangan dan hal yang menyertainya (irigasi,pupuk,anti hama), sepenuhnya dikendalikan oleh pemerintah, yaitu memperbanyak cadangan saat produksi melimpah dan mendistribusikan secara selektif ketika ketersediaan mulai berkurang.
  4. Prediksi iklim, yaitu analisis kemungkinan terjadinya perubahan iklim dan cuaca ekstrim dengan mempelajari fenomena alam semisal curah hujan, kelembaban udara, penguapan air permukaan serta intensitas sinar matahari yang diterima bumi.
  5. Migasi bencana kerawanan pangan, yaitu antisipasi terhadap kondisi rawan pangan yang disebabkan oleh perubahan drastis kondisi alam dan lingkungan. (Media, Umat,juli-agustus 2018).

Dari paparan diatas  terlihat, islam memberikan kekuasaan untuk mengatur alam ini dengan berdasarkan ilmu yang bersumber pada pembuat semua mahluk, sehingga pengaturan alam beserta isinya akan berjalan optimal, untuk pemenuhan semua kebutuhan manusia dan mahluk yang lainnya dan tidak akan menimbulkan perdebatan. Wallhu’alam bi showwab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.